Jamu: Pengetahuan Leluhur dalam Merawat Kesehatan Bangsa

- Penulis

Senin, 29 Desember 2025 - 11:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Ilustrasi (Ip/opinijogja)

 

Oleh: Muhammad Arifin

Senin (29/12/2025)

Klaten, opinijogja – Di tengah sistem kesehatan modern yang kian bertumpu pada teknologi dan obat kimia, Indonesia sesungguhnya memiliki modal pengetahuan kesehatan yang telah teruji lintas generasi: jamu. Ia bukan sekadar ramuan herbal, melainkan pengetahuan leluhur yang lahir dari pengalaman panjang masyarakat Nusantara dalam membaca tubuh, alam, dan keseimbangan hidup.

Jamu berkembang bukan dari laboratorium, melainkan dari dapur, ladang, dan hutan, ruang-ruang tempat manusia Indonesia berinteraksi langsung dengan alamnya. Dari sanalah lahir pemahaman bahwa kesehatan bukan hanya soal menyembuhkan penyakit, tetapi menjaga harmoni raga, jiwa, dan lingkungan. Cara pandang ini menempatkan jamu sebagai sistem pengetahuan, bukan sekadar produk konsumsi.

Sejak ratusan tahun silam, jamu telah menjadi bagian dari praktik hidup sehari-hari. Diracik dari tanaman obat seperti kunyit, jahe, temulawak, kencur, hingga beragam dedaunan lokal, jamu mencerminkan kemandirian bangsa dalam merawat kesehatan. Ia diminum tidak hanya saat sakit, tetapi sebagai upaya pencegahan, sebuah konsep yang kini kembali digaungkan dalam wacana kesehatan global.

Pengetahuan jamu juga sarat nilai filosofis. Proses peracikan yang telaten, takaran yang tidak serba instan, serta pemahaman atas sifat panas-dingin bahan menunjukkan bahwa kesehatan membutuhkan kesabaran dan kesadaran. Dalam tradisi ini, tubuh tidak dipaksa, melainkan diajak berdialog.

Baca Juga:  Iwan Setyawan Mundur dari Ketua DPC Peradi Sleman usai Diangkat Jadi Waketum DPN

Dalam sejarahnya, perempuan memegang peran penting sebagai penjaga pengetahuan jamu. Dari praktik jamu rumahan hingga jamu gendong, merekalah yang menjaga kesinambungan pengetahuan lintas generasi. Jamu gendong bukan sekadar praktik ekonomi rakyat, tetapi ruang sosial tempat pengetahuan, kepercayaan, dan nilai kebersamaan dirawat.

Namun, pengetahuan leluhur ini kini menghadapi tantangan serius. Modernisasi, perubahan pola konsumsi, serta komersialisasi jamu berpotensi mereduksi jamu menjadi sekadar produk instan yang terlepas dari konteks budaya dan ekologinya. Jika tidak dikelola dengan bijak, jamu bisa kehilangan ruhnya sebagai pengetahuan kesehatan bangsa.

Pengakuan jamu sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO seharusnya dimaknai sebagai tanggung jawab kolektif. Negara, akademisi, pelaku industri, dan masyarakat perlu memastikan bahwa pengembangan jamu berjalan seiring dengan perlindungan pengetahuan tradisional, keberlanjutan bahan baku, dan edukasi publik yang berimbang.

Pada akhirnya, merawat jamu berarti merawat ingatan dan identitas bangsa. Di tengah dunia yang semakin seragam, jamu mengingatkan bahwa Indonesia memiliki cara sendiri dalam memahami sehat dan sakit, cara yang berakar pada pengetahuan leluhur, keselarasan dengan alam, dan kesadaran hidup jangka panjang. (Ip/opinijogja).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel opinijogja.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jalan Sehat dan Karnaval Budaya Padukuhan Sayidan Libatkan Lebih dari 500 Warga
Kulon Progo Raih 2 Penghargaan Kemenkum DIY, Reformasi Hukum Berpredikat Istimewa
BPN Sleman Siapkan Layanan PERINTIS, Peralihan Hak Atas Tanah Ditargetkan Selesai 10 Hari Kerja
Hak Pekerja Trans Jogja Tak Kunjung Tuntas, KSBSI Ancam Aksi Besar Awal September
Pemkab Sleman Gelar Upacara HUT ke-81 RI, Busana Adat Nusantara Warnai Lapangan Denggung
HUT ke-81 RI di Pakem Digelar Spektakuler, 300 Pelajar Tampilkan Tari Kolosal Nusantara
BPHTB Kini Diverifikasi Maksimal 3 Hari, ATR/BPN Targetkan Balik Nama Sertifikat Tanah Selesai 10 Hari
Raih Gelar Doktor, Kadis Kebudayaan Kulon Progo Siapkan Sendratari Topeng Sugriwa-Subali Jadi Ikon Wisata Edukasi
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 23 Agustus 2026 - 11:34 WIB

Jalan Sehat dan Karnaval Budaya Padukuhan Sayidan Libatkan Lebih dari 500 Warga

Rabu, 19 Agustus 2026 - 11:53 WIB

Kulon Progo Raih 2 Penghargaan Kemenkum DIY, Reformasi Hukum Berpredikat Istimewa

Rabu, 19 Agustus 2026 - 11:38 WIB

BPN Sleman Siapkan Layanan PERINTIS, Peralihan Hak Atas Tanah Ditargetkan Selesai 10 Hari Kerja

Selasa, 18 Agustus 2026 - 11:50 WIB

Hak Pekerja Trans Jogja Tak Kunjung Tuntas, KSBSI Ancam Aksi Besar Awal September

Senin, 17 Agustus 2026 - 14:13 WIB

Pemkab Sleman Gelar Upacara HUT ke-81 RI, Busana Adat Nusantara Warnai Lapangan Denggung

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page