Jalan Sehat dan Karnaval Budaya Padukuhan Sayidan Libatkan Lebih dari 500 Warga

- Penulis

Minggu, 23 Agustus 2026 - 11:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Dukuh Sayidan Sumarji (kanan) mengenakan busana adat Jawa berfoto bersama salah satu tokoh masyarakat Darmaji di sela rangkaian acara Jalan Sehat dan Pawai Budaya HUT ke-81 RI di Padukuhan Sayidan, Sumberadi, Mlati, Sleman, Minggu (23/8/2026).

 

SLEMAN, opinijogja.id – Semangat kebersamaan dan pelestarian budaya mewarnai peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Padukuhan Sayidan, Kalurahan Sumberadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, Minggu (23/8/2026).

Ratusan warga dari seluruh wilayah Padukuhan Sayidan mengikuti kegiatan jalan sehat yang dilanjutkan dengan pawai atau karnaval budaya. Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mempererat persatuan warga sekaligus menghidupkan kembali tradisi kebudayaan yang mulai memudar.

Kepala Dukuh Sayidan, Sumarji, mengatakan kegiatan tersebut sengaja dirancang dengan melibatkan seluruh unsur masyarakat dalam satu kegiatan tingkat padukuhan.

“Biasanya kegiatan seperti ini hanya dilaksanakan masing-masing RW atau RT. Kami berinisiatif membuat satu kegiatan yang melibatkan seluruh warga satu padukuhan,” kata Sumarji.

Menurutnya, kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari tokoh masyarakat, Ketua RW, Ketua RT, PKK, Karang Taruna hingga warga dari seluruh wilayah Padukuhan Sayidan.

Diperkirakan lebih dari 500 warga turut ambil bagian dalam kegiatan jalan sehat dan pawai budaya tersebut.

Sumarji menjelaskan, secara geografis Padukuhan Sayidan memiliki wilayah yang cukup menyebar dan terdiri atas tujuh RW. Tiga RW di antaranya merupakan wilayah dengan jumlah kepala keluarga relatif besar.

“Ini menjadi kegiatan bersama seluruh warga satu padukuhan. Alhamdulillah mendapatkan dukungan dan apresiasi yang luar biasa dari masyarakat,” ujarnya.

Selain memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari momentum purna tugas Sumarji sebagai Dukuh Sayidan. Ia akan mengakhiri masa tugasnya pada 31 Agustus 2026.

Baca Juga:  Haul Ke-171 Diponegoro: Merawat Ingatan Perlawanan dan Kedaulatan Bangsa

Namun, Sumarji menegaskan bahwa agenda purna tugas tersebut bukan tujuan utama kegiatan. Ia menyebut momentum tersebut hanya “menumpang” dalam rangkaian kegiatan peringatan kemerdekaan.

“Kalau kegiatan purna tugas itu istilahnya kami hanya numpang. Tetapi ternyata masyarakat memberikan apresiasi yang luar biasa. Jadi selain memperingati HUT Kemerdekaan RI, sekaligus menyambut purna tugas saya sebagai Dukuh Sayidan,” tuturnya.

Pawai budaya menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan tersebut. Menurut Sumarji, unsur budaya sengaja dihadirkan karena Padukuhan Sayidan memiliki sejarah cukup kuat dalam kegiatan seni tradisi.

Pada masa lalu, masyarakat Sayidan secara rutin menggelar kegiatan seni budaya, termasuk pentas ketoprak saat peringatan kemerdekaan maupun tradisi sawalan.

“Dulu setiap peringatan HUT Kemerdekaan, bahkan saat sawalan, selalu rutin mengadakan pentas seni yang melibatkan ketoprak,” jelasnya.

Padukuhan Sayidan, lanjut dia, juga pernah memiliki kelompok seni ketoprak Mataram dan kelompok karawitan. Namun, perkembangan zaman membuat aktivitas kelompok-kelompok seni tersebut perlahan mengalami kemunduran.

“Sekarang seiring perkembangan zaman mulai pudar. Untuk ketoprak, sementara ini yang masih ada lebih banyak di tingkat Kalurahan Sumberadi. Kalau di tingkat padukuhan sudah tidak ada,” katanya.

Karena itu, pawai budaya dalam rangkaian HUT ke-81 Kemerdekaan RI tersebut diharapkan menjadi salah satu upaya untuk kembali menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap budaya lokal.

“Kegiatan ini juga sebagai wujud nguri-uri budaya bangsa,” tegas Sumarji.

Ia berharap kegiatan yang melibatkan seluruh warga Padukuhan Sayidan tersebut tidak berhenti sebagai seremoni peringatan kemerdekaan. Kebersamaan yang telah terbangun diharapkan dapat terus dipelihara dan menjadi modal sosial masyarakat dalam menjaga kerukunan sekaligus melestarikan budaya.

“Harapannya kegiatan bersama seperti ini bisa terus dilaksanakan dan menjadi wadah untuk mempererat kebersamaan seluruh warga,” pungkasnya.

(Ip/opinijogja)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel opinijogja.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Raih Gelar Doktor, Kadis Kebudayaan Kulon Progo Siapkan Sendratari Topeng Sugriwa-Subali Jadi Ikon Wisata Edukasi
Jamasan Tombak Kyai Turunsih Digelar di Sleman, Simbol Berkah, Welas Asih, dan Pengayoman Masyarakat
Hari Jadi ke-80 Kalurahan Argomulyo , Lurah Danang Ajak Warga Guyub Rukun Hadapi Tantangan Ekonomi
Ratusan Warga Rebutan Gunungan Hasil Bumi di Tradisi Bersih Desa Banyurip Gunungkidul
Merti Umbul Temanten di Lereng Merapi, Tradisi Leluhur Penjaga Sumber Air hingga Kota Yogyakarta
15 Dalang Pentas Semalam Suntuk di Hari Jadi ke-110 Sleman, Lakon “Mahasaka” Jadi Sorotan
Harda Kiswaya Ajak Warga Pakem Perkuat Jati Diri Lewat Tradisi Bedhol Projo
24 Dalang Muda Kulon Progo Tampil Memukau di Festival Pedalangan 2026
Berita ini 104 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 23 Agustus 2026 - 11:34 WIB

Jalan Sehat dan Karnaval Budaya Padukuhan Sayidan Libatkan Lebih dari 500 Warga

Senin, 3 Agustus 2026 - 22:55 WIB

Raih Gelar Doktor, Kadis Kebudayaan Kulon Progo Siapkan Sendratari Topeng Sugriwa-Subali Jadi Ikon Wisata Edukasi

Senin, 13 Juli 2026 - 15:27 WIB

Jamasan Tombak Kyai Turunsih Digelar di Sleman, Simbol Berkah, Welas Asih, dan Pengayoman Masyarakat

Kamis, 9 Juli 2026 - 22:47 WIB

Hari Jadi ke-80 Kalurahan Argomulyo , Lurah Danang Ajak Warga Guyub Rukun Hadapi Tantangan Ekonomi

Senin, 22 Juni 2026 - 11:07 WIB

Ratusan Warga Rebutan Gunungan Hasil Bumi di Tradisi Bersih Desa Banyurip Gunungkidul

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page