Foto: Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Kulon Progo, Joko Mursito, memberikan sambutan dalam pembukaan Festival Dhalang Anak dan Remaja 2026 di Auditorium Taman Budaya Kulon Progo. Festival ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk melestarikan seni pedalangan sekaligus menjaga warisan budaya Jawa tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
KULON PROGO, opinijogja — Suara gamelan dan sabetan wayang menggema di Auditorium Taman Budaya Kulon Progo (TBK), Minggu (10/5/2026), saat puluhan dalang muda tampil dalam Festival Dhalang Anak dan Remaja 2026 Kabupaten Kulon Progo.
Sebanyak 24 peserta yang terdiri dari 12 dalang anak dan 12 dalang remaja menunjukkan kemampuan terbaik mereka di hadapan dewan juri dan penonton. Para peserta merupakan perwakilan dari 12 kapanewon di Kabupaten Kulon Progo.
Festival yang mengusung tema “Mengukir Prestasi Menjunjung Tradisi” itu menjadi ruang kreativitas sekaligus upaya pelestarian seni pedalangan di kalangan generasi muda.
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Kulon Progo, Joko Mursito, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan memberikan apresiasi seni sekaligus menjadi media pengembangan potensi anak dan remaja dalam bidang pedalangan.
“Festival ini menjadi langkah nyata untuk menjaga dan melestarikan seni budaya wayang agar tetap dicintai generasi muda,” kata Joko.
Ia menilai seni pedalangan merupakan salah satu potensi budaya besar yang dimiliki Daerah Istimewa Yogyakarta dan perlu terus diwariskan kepada generasi penerus.
Salah satu peserta kategori remaja asal Kapanewon Wates, Gading Brahmayuda, mengaku telah mempersiapkan diri secara intensif selama dua pekan terakhir sebelum tampil di festival tersebut.

Siswa SMA yang akrab disapa Gading itu mengatakan kecintaannya terhadap dunia wayang tumbuh sejak kecil karena mengikuti jejak ayahnya, Ki Wisdu Hadi Sugito, yang juga seorang dalang.
“Sejak TK saya sudah suka wayang karena bapak juga seorang dhalang,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Kulon Progo, R. Agung Setyawan, menyebut festival pedalangan tidak hanya menjadi ajang kompetisi seni, tetapi juga sarana pembentukan karakter generasi muda.
“Melalui seni wayang, anak-anak belajar tentang disiplin, ketekunan, keberanian tampil, serta memahami nilai-nilai luhur kehidupan,” kata Agung.
Dalam festival tersebut, dewan juri menilai peserta berdasarkan lima aspek utama, yakni sabet, catur, sanggit, iringan, dan penyajian.
Pemerintah Kabupaten Kulon Progo juga menyiapkan uang pembinaan senilai puluhan juta rupiah bagi para pemenang. Untuk kategori anak, hadiah yang diberikan berkisar Rp5 juta hingga Rp7 juta, sedangkan kategori remaja memperoleh Rp6 juta hingga Rp8 juta, lengkap dengan piagam dan plakat penghargaan.
Kegiatan ini terselenggara melalui dukungan Dana Keistimewaan DIY Tahun Anggaran 2026 melalui Dinas Kebudayaan Kabupaten Kulon Progo.
Para pemenang nantinya akan mewakili Kabupaten Kulon Progo dalam ajang festival pedalangan tingkat Provinsi DIY. Pemerintah berharap kegiatan tersebut mampu melahirkan generasi dhalang muda yang tidak hanya piawai secara teknik, tetapi juga menjadi penjaga warisan budaya di masa depan.
(Ip/opinijogja)










