Feodalisme yang Tak Pernah Mati

- Penulis

Senin, 2 Maret 2026 - 01:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Ilustrasi opinijogja 

 

Demokrasi prosedural tak cukup membongkar mentalitas tuan-hamba. Selama rakyat lebih gemar memuja daripada mengawasi, penindasan hanya berganti wajah.

 

Oleh: Muhammad Arifin

“Penindasan tidak akan pernah hilang, jika rakyat masih percaya bahwa pemimpin adalah tuan, bukan pelayan.”

Tan Malaka

Klaten, opinijogja – Kutipan itu seperti alarm yang tak pernah benar-benar berhenti berbunyi. Ia lahir dari zaman kolonial, tetapi gaungnya melintasi republik yang telah merdeka lebih dari tujuh dekade. Tan Malaka tidak sedang berbicara tentang satu rezim atau satu periode kekuasaan. Ia menyoal mentalitas, cara berpikir yang membuat penindasan terus menemukan rumahnya.

Feodalisme, dalam pengertian paling sederhana, adalah relasi tuan dan hamba. Dalam sistem itu, kuasa berada di tangan segelintir orang yang dianggap lebih tinggi derajatnya. Demokrasi hadir untuk meruntuhkan hierarki semacam itu. Konstitusi menegaskan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat. Pemimpin dipilih, bukan diturunkan dari langit.

Namun demokrasi prosedural, pemilu, partai, parlemen, tidak otomatis menghapus cara pandang lama. Kita bisa saja mengganti sistem, tetapi tetap mempertahankan pola relasi yang sama: pemimpin sebagai figur yang harus dihormati secara berlebihan, kebijakannya tak boleh digugat, dan kritik dianggap ancaman.

Dalam situasi seperti itu, feodalisme hanya berganti kostum. Ia tak lagi berbaju kerajaan, melainkan jas resmi dan simbol elektoral. Ia berbicara atas nama stabilitas dan pembangunan, tetapi alergi terhadap perbedaan pendapat. Penindasan pun tak selalu hadir dalam bentuk kekerasan terbuka. Ia bisa menjelma menjadi pembatasan ruang kritik, pembungkaman halus, atau kebijakan yang menjauh dari kepentingan publik.

Baca Juga:  Kritik dalam Borgol

Yang lebih mengkhawatirkan, mentalitas “pemimpin sebagai tuan” sering kali dipelihara oleh rakyat sendiri. Kultus individu tumbuh subur di tengah kekecewaan kolektif terhadap sistem. Sosok pemimpin dielu-elukan sebagai penyelamat, seolah-olah demokrasi adalah soal figur, bukan soal tata kelola. Loyalitas personal mengalahkan nalar kritis.

Di titik itulah republik menjadi rapuh. Ketika pemimpin diperlakukan sebagai tuan, rakyat perlahan menempatkan dirinya sebagai bawahan. Kritik dianggap kurang ajar. Perbedaan pendapat dipandang sebagai ancaman persatuan. Padahal dalam demokrasi, kritik adalah mekanisme koreksi, bukan tindakan permusuhan.

Tan Malaka mengingatkan bahwa penindasan bertahan bukan semata karena penguasa kuat, tetapi karena rakyat menerima struktur relasi itu sebagai kewajaran. Selama jarak antara yang memimpin dan yang dipimpin dibiarkan menganga, selama itu pula demokrasi hanya menjadi prosedur tanpa jiwa.

Kedaulatan rakyat bukan slogan. Ia adalah praktik sehari-hari: mengawasi kebijakan, mempertanyakan keputusan, dan menuntut akuntabilitas. Pemimpin adalah pelayan publik, mandatarius yang sewaktu-waktu bisa dikoreksi. Ketika prinsip itu dilupakan, feodalisme menemukan napasnya kembali.

Mungkin kita tak lagi hidup di bawah kerajaan. Tetapi jika mentalitas tuan-hamba tetap dipelihara, republik ini hanya mengganti nama tanpa mengubah watak. Dan seperti diingatkan Tan Malaka, penindasan tidak akan pernah benar-benar hilang, ia hanya menunggu kesempatan untuk menjelma dalam wajah yang baru.

(Ip/opinijogja)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel opinijogja.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Negeri Kaya, Rakyat Makin Susah: Ke Mana Perginya Uang Pajak Kita?
Hukum Sedang Dipertaruhkan: Saat Penegak Hukum Saling Berhadapan, Rakyat Harus Percaya Siapa
Jalanan Tak Pernah Berdusta
Dongeng yang Bernama Keadilan
Republik yang Tak Nyaman Mendengar Kejujuran
Sunyi yang Dipaksa: Ketika Manusia Kehilangan Ruang untuk Menjadi Diri Sendiri
Krisis Moral Indonesia: Saat Korupsi Menjadi Budaya dan Hukum Kehilangan Wibawa
Gaji Hakim Naik 3 Kali Lipat, Mengapa Rakyat Masih Sulit Mendapatkan Keadilan?
Berita ini 23 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 16 Juli 2026 - 01:14 WIB

Negeri Kaya, Rakyat Makin Susah: Ke Mana Perginya Uang Pajak Kita?

Minggu, 12 Juli 2026 - 12:03 WIB

Hukum Sedang Dipertaruhkan: Saat Penegak Hukum Saling Berhadapan, Rakyat Harus Percaya Siapa

Kamis, 9 Juli 2026 - 03:39 WIB

Jalanan Tak Pernah Berdusta

Senin, 6 Juli 2026 - 16:11 WIB

Dongeng yang Bernama Keadilan

Senin, 6 Juli 2026 - 13:21 WIB

Republik yang Tak Nyaman Mendengar Kejujuran

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page