Bencana dan Kebohongan Negara

- Penulis

Kamis, 4 Desember 2025 - 13:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Ilustrasi 

 

Oleh: Muhammad Arifin

Klaten, opinijogja – Kamis (04/12), Almarhum Gombloh pernah menulis bait yang sederhana namun menusuk: “Lestari alamku, lestari desaku… nyanyi bocah-bocah dikala purnama… kuingat ibuku dongengkan cerita, kisah tentang jaya Nusantara lama.”

Dalam lagu itu, alam adalah rumah, guru, dan ingatan kolektif bangsa. Sayangnya, apa yang dinyanyikan Gombloh kini tinggal menjadi nostalgia muram. Bukit-bukit yang dulu hijau kini berdiri telanjang, sungai kehilangan kejernihannya, burung-burung enggan bernyanyi, dan bencana menjadi rutinitas yang kita tonton saban musim hujan.

Ironinya, negara yang seharusnya menjaga rumah besar bernama Indonesia, sering tampil hanya ketika kamera televisi menyala. Saat banjir datang, pejabat meninjau lokasi, membagikan selimut, berjabat tangan, dan melempar janji yang itu-itu saja. Begitu air surut dan kamera mati, negeri ini kembali dibiarkan berjalan dengan autopilot yang rapuh. Padahal bencana yang berulang bukanlah sekadar “musibah alam”, melainkan cermin gagalnya tata kelola lingkungan yang dibungkam oleh kepentingan.

Negara tampak gagap, atau pura-pura gagap, menghadapi kenyataan bahwa kerusakan lingkungan di negeri ini sebagian besar terjadi bukan karena faktor alam, melainkan karena ulah tangan-tangan manusia. Dan lebih celaka lagi, tangan-tangan itu sering kali bersembunyi rapi di balik kekuasaan. Pembalakan liar masih terjadi bahkan di kawasan yang seharusnya steril. Izin industri ekstraktif dikeluarkan tanpa pertimbangan ekologis yang memadai. Pengawasan lemah, penegakan hukum tumpul ke atas.

Di saat masyarakat menanggung bencana, negara justru sering terlihat lebih sibuk menata citra daripada menata hutan. Pemerintah tampak seperti sedang memainkan drama panjang, drama yang berjudul “Kami tidak tahu, kami tidak terlibat, semuanya musibah alam.” Padahal publik tahu: tidak ada banjir bandang yang datang dari lembah yang hutannya masih utuh. Tidak ada tanah longsor yang lahir dari bukit yang masih berakar pepohonan. Alam punya cara sendiri untuk mengungkap kebohongan manusia, dan bencana adalah salah satunya.

Baca Juga:  FJI DIY Kecam Penganiayaan Siswa di Bantul, Siap Kawal Kasus hingga Tuntas

Kita tidak butuh negara yang pandai berpidato saat darurat, tetapi negara yang jujur mengakui persoalan dan berani memotong mata rantai kerusakan. Kejujuran adalah langkah pertama dari pemulihan. Tanpa itu, setiap upaya mitigasi hanya menjadi formalitas yang ditulis dalam laporan tahunan, tetapi tidak mengubah apa pun di lapangan.

Bencana memang urusan alam, tetapi kerusakan ekosistem adalah urusan moral. Dan moral negara diuji bukan pada seberapa cepat ia menggelar konferensi pers, melainkan seberapa tegas ia melawan oligarki yang menggerogoti hutan dan tanah air.

Anak-anak di desa mungkin masih menyanyikan lagu Gombloh, tetapi apa yang mereka warisi kelak? Tanah retak? Gunung gundul? Sungai yang dipenuhi lumpur dan sisa penebangan? Kita berutang pada generasi itu untuk memperjuangkan kembalinya landskap yang lestari. Jika negara terus memilih untuk bungkam dan berakting, maka suara alam akan terus menggugat, lewat banjir, longsor, kekeringan, dan kehilangan demi kehilangan.

Sudah waktunya negara berhenti bersembunyi di balik narasi “musibah” dan mulai jujur pada rakyatnya. Sebab tidak ada pembangunan yang dapat dibanggakan di atas tanah yang retak dan hutan yang hilang. Dan tidak ada masa depan yang bisa diceritakan jika kebohongan terus menang atas kejujuran. (Ip/opinijogja)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel opinijogja.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sleman Perkuat Ekosistem Film, Bidik Jejaring Kota Kreatif UNESCO 2027
Pejuang dan Si Pembual: Ketika Janji Kekuasaan Mengkhianati Cita-Cita Perjuangan
Sejarah dan Tujuan Koperasi yang Diabaikan oleh Ambisi Penguasa
Kulon Progo Raih 2 Penghargaan Kemenkum DIY, Reformasi Hukum Berpredikat Istimewa
BPN Sleman Siapkan Layanan PERINTIS, Peralihan Hak Atas Tanah Ditargetkan Selesai 10 Hari Kerja
Pameran Citra Diri dan Klaim Kepahlawanan Artifisial
Hak Pekerja Trans Jogja Tak Kunjung Tuntas, KSBSI Ancam Aksi Besar Awal September
Upacara Kemerdekaan dan Jurang Keadilan: Ketika Sila Kelima Tinggal Seremonial
Berita ini 31 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 21 Agustus 2026 - 15:33 WIB

Sleman Perkuat Ekosistem Film, Bidik Jejaring Kota Kreatif UNESCO 2027

Jumat, 21 Agustus 2026 - 04:49 WIB

Pejuang dan Si Pembual: Ketika Janji Kekuasaan Mengkhianati Cita-Cita Perjuangan

Rabu, 19 Agustus 2026 - 13:48 WIB

Sejarah dan Tujuan Koperasi yang Diabaikan oleh Ambisi Penguasa

Rabu, 19 Agustus 2026 - 11:53 WIB

Kulon Progo Raih 2 Penghargaan Kemenkum DIY, Reformasi Hukum Berpredikat Istimewa

Rabu, 19 Agustus 2026 - 11:38 WIB

BPN Sleman Siapkan Layanan PERINTIS, Peralihan Hak Atas Tanah Ditargetkan Selesai 10 Hari Kerja

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page