Foto: Dr. Joko Mursito, S.Sn., M.A. berfoto bersama keluarga dan kolega usai menjalani Sidang Promosi Doktor di Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Senin (3/8/2026). Dalam disertasinya, Joko mengkaji Sendratari Topeng Sugriwa-Subali di Goa Kiskendo sebagai model eduwisata budaya yang diharapkan menjadi ikon wisata budaya Kabupaten Kulon Progo.
KULON PROGO, opinijogja.id – Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Kulon Progo, Dr. Joko Mursito, S.Sn., M.A., menegaskan bahwa capaian akademik hingga meraih gelar doktor bukan sekadar prestasi pribadi, melainkan bagian dari upaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dalam mengembangkan sektor kebudayaan.
Menurutnya, peningkatan jenjang pendidikan akan memperluas wawasan keilmuan sekaligus memperkaya referensi dalam menjalankan tugas kedinasan.
“Kalau secara pribadi, capaian ini adalah bentuk peningkatan kapasitas SDM. Dengan bertambahnya gelar tentu secara keilmuan akan menambah wawasan dan referensi dalam melakukan aktivitas,” ujarnya.
Dalam sidang promosi doktor di Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Joko Mursito mengangkat disertasi bertajuk “Sendratari Topeng Sugriwa Subali di Goa Kiskendo: Kajian Eduwisata.” Penelitian tersebut berangkat dari gagasan menjadikan seni pertunjukan sebagai daya tarik wisata yang tetap berakar pada nilai-nilai budaya dan pendidikan.
Ia menjelaskan, lahirnya Sendratari Topeng Sugriwa-Subali merupakan hasil kreativitas yang muncul saat pandemi Covid-19. Ketika seluruh aktivitas seni dan budaya berhenti total, muncul ide untuk mempersiapkan sebuah atraksi wisata budaya yang siap dipentaskan ketika sektor pariwisata kembali bergeliat.
Pemilihan topeng sebagai identitas pertunjukan juga bukan tanpa alasan. Selain mengacu pada Surat Keputusan Bupati Tahun 2013 yang menetapkan Wayang Topeng sebagai kesenian unggulan di wilayah Girimulyo, penggunaan topeng saat pandemi juga menjadi solusi karena dapat dipadukan dengan masker tanpa mengurangi nilai artistik pertunjukan.
Konsep tersebut mengusung semangat community based tourism atau pariwisata berbasis masyarakat. Penggunaan topeng membuat biaya produksi lebih efisien, proses persiapan lebih cepat, sekaligus membuka peluang masyarakat sekitar untuk terlibat dalam pengembangan atraksi wisata budaya.
Joko berharap Sendratari Topeng Sugriwa-Subali berkembang menjadi identitas sekaligus ikon wisata budaya Kabupaten Kulon Progo yang memiliki nilai edukasi.
“Harapannya Sendratari Topeng Sugriwa-Subali ini menjadi identitas di Kulon Progo, sebuah atraksi wisata budaya yang memiliki nilai edukasi. Kalau di Prambanan ada Sendratari Ramayana, maka di Kiskendo punya Sendratari Topeng Sugriwa-Subali,” katanya.
Menurutnya, setiap pertunjukan dirancang agar penonton tidak hanya menikmati alur cerita, tetapi juga mampu mengkristalkan pengalaman menonton menjadi nilai-nilai pendidikan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu pesan moral tersebut tergambar dalam kisah ketika Sugriwa menunggu Subali bertarung melawan Lembu Sura dan Mahesa Sura di dalam gua. Sebelum memasuki gua, Subali berpesan bahwa apabila darah yang keluar berwarna merah berarti dirinya kalah, sedangkan apabila yang keluar berwarna putih berarti ia menang.
Namun dalam pertarungan itu darah merah bercampur dengan cairan putih sehingga Sugriwa mengira kakaknya telah gugur. Ia kemudian menutup pintu gua sesuai pesan yang diterimanya. Padahal Subali berhasil memenangkan pertarungan dan akhirnya keluar dengan membuat jalan tembus ke atas gua yang kemudian dikenal sebagai Semelong.
“Dari cerita itu masyarakat diajak memahami nilai amanah, kesetiaan, tanggung jawab, pengorbanan, hingga pentingnya memahami suatu persoalan secara utuh sebelum mengambil keputusan,” jelasnya.
Lebih jauh, ia berharap keberadaan Sendratari Topeng Sugriwa-Subali mampu memberikan dampak nyata terhadap perekonomian masyarakat. Selain meningkatkan kunjungan wisata dan berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), atraksi tersebut diharapkan mendorong tumbuhnya UMKM kreatif melalui produksi berbagai cendera mata, seperti topeng dan produk budaya lainnya.
Posisi strategis Kulon Progo yang berada di jalur penghubung antara Yogyakarta International Airport (YIA) dan kawasan Borobudur juga dinilai menjadi peluang besar. Wisatawan yang datang melalui YIA maupun menuju Borobudur diharapkan dapat singgah di Goa Kiskendo untuk menikmati atraksi budaya yang memadukan unsur hiburan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.
Menurut Joko, cita-cita tersebut hanya dapat terwujud apabila seluruh pemangku kepentingan membangun kolaborasi yang kuat.
“Ini bisa terwujud kalau ada kolaborasi dari berbagai lini, baik pemerintah, pelaku seni, masyarakat, pelaku pariwisata, dunia usaha, hingga akademisi. Dengan begitu, Sendratari Topeng Sugriwa-Subali benar-benar dapat menjadi identitas budaya Kulon Progo,” ujarnya.
Untuk menjangkau berbagai kebutuhan penyelenggaraan, Dinas Kebudayaan juga menyiapkan beberapa format pertunjukan, mulai dari pementasan cerita utuh berdurasi panjang, versi petilan, hingga fragmen. Dengan demikian, pertunjukan dapat disesuaikan dengan lokasi, durasi, serta kebutuhan berbagai agenda budaya maupun pariwisata.
“Harapannya, Sendratari Topeng Sugriwa-Subali tidak hanya menjadi tontonan, tetapi menjadi ikon wisata budaya Kulon Progo yang mampu menghadirkan pengalaman rekreasi sekaligus pendidikan, serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” pungkasnya.
(Ip/opinijogja)









