Foto: Peserta kirab budaya Bersih Desa Banyurip berfoto bersama sebelum prosesi gunungan hasil bumi di Sendang Banyurip, Serut, Gedangsari, Gunungkidul.
GUNUNGKIDUL, opinijogja – Ratusan warga memadati kawasan Sendang Banyurip, Kalurahan Serut, Kapanewon Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, dalam perhelatan tradisi Bersih Desa atau Sadranan Banyurip, Senin (27/7/2026). Tradisi tahunan yang sarat nilai budaya dan gotong royong tersebut berlangsung meriah dengan kirab gunungan hasil bumi hingga pagelaran seni tradisional.
Sejak pagi, masyarakat dari berbagai padukuhan di Kalurahan Serut dan wilayah sekitarnya berkumpul mengikuti rangkaian acara yang juga dihadiri perwakilan Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul, Forkopimkap Gedangsari, Bamuskal Serut, KUA Gedangsari, tokoh masyarakat, dan sejumlah tamu undangan.
Puncak kemeriahan terjadi saat gunungan berisi aneka hasil pertanian dan perkebunan diarak menuju lokasi acara. Setelah didoakan bersama, gunungan tersebut langsung menjadi rebutan warga yang percaya hasil bumi dari gunungan membawa keberkahan dan menjadi simbol rasa syukur atas rezeki yang telah diberikan.
Lurah Serut, Sugiyanta, mengatakan tradisi Bersih Desa Banyurip merupakan warisan budaya yang terus dijaga masyarakat sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus sarana mempererat persatuan warga.
“Kami memohon doa restu seluruh masyarakat agar kegiatan Bersih Desa Banyurip dapat berjalan lancar. Kebersamaan dan persatuan yang terlihat hari ini menunjukkan masyarakat Serut masih memiliki kepedulian tinggi terhadap pelestarian budaya,” ujarnya.
Menurut Sugiyanta, rangkaian kegiatan tidak hanya diisi kirab gunungan hasil bumi. Pada siang hari masyarakat juga disuguhi pertunjukan jathilan, sementara malam harinya akan digelar pagelaran wayang kulit semalam suntuk di Balai Kalurahan Serut.
Selain menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya tradisi tersebut, Sugiyanta juga menyampaikan harapan masyarakat terkait pembangunan infrastruktur di wilayah Serut. Ia menilai masih terdapat sejumlah ruas jalan yang membutuhkan perhatian pemerintah daerah, termasuk akses jalan kabupaten yang hingga kini belum mendapatkan pembangunan aspal.
“Jalan tersebut menjadi akses penting bagi masyarakat, terutama di wilayah perbatasan. Selain itu, beberapa padukuhan juga membutuhkan dukungan sarana untuk menghadapi musim kemarau,” katanya.
Sementara itu, Supriyanto yang hadir mewakili Bupati Gunungkidul memberikan apresiasi terhadap semangat warga dalam menjaga tradisi budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Menurutnya, tradisi Bersih Desa Banyurip menjadi bukti kuat bahwa masyarakat Gunungkidul masih memegang teguh nilai gotong royong, kebersamaan, dan kearifan lokal di tengah perkembangan zaman.
“Budaya adalah warisan yang harus dijaga bersama. Tradisi seperti Bersih Desa Banyurip menunjukkan tingginya kepedulian masyarakat terhadap nilai-nilai budaya sekaligus memperkuat semangat kebersamaan,” ungkapnya.
Tradisi Bersih Desa Banyurip tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga menjadi daya tarik yang mampu menghadirkan kebersamaan lintas generasi. Antusiasme warga yang memadati lokasi acara menunjukkan bahwa tradisi lokal masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat pedesaan dan menjadi identitas budaya yang terus dijaga keberlangsungannya.
(Pay/opinijogja)






