Foto: Prosesi pemukulan gong menandai pembukaan kegiatan Table Top 13 “Guyub Sesarengan Explore Surabaya” yang digelar BPD PHRI DIY di Mercure Surabaya Grand Mirama, Kamis (16/7/2026).
Surabaya, opinijogja.id – Badan Pimpinan Daerah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (BPD PHRI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus memperkuat promosi pariwisata melalui kegiatan Direct Promotion dan Table Top di Jawa Timur. Kegiatan yang digelar di Surabaya ini mempertemukan 46 seller dari sektor perhotelan Yogyakarta dengan 86 buyer yang merupakan travel agent dari Surabaya dan sekitarnya.
Ketua BPD PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono mengatakan, kegiatan tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat pasar wisata nusantara, khususnya dari Jawa Timur yang selama ini menjadi salah satu penyumbang wisatawan terbesar ke Daerah Istimewa Yogyakarta.
“Melalui pertemuan bisnis secara langsung ini kami ingin menghasilkan kerja sama yang konkret, mulai dari penjualan paket wisata, kegiatan MICE, study tour, hingga perjalanan keluarga. Harapannya tentu berdampak pada peningkatan kunjungan wisatawan dan lama tinggal mereka di Yogyakarta,” ujar Deddy, Kamis (16/07/2026).
Menurutnya, Jawa Timur dipilih sebagai pasar prioritas karena memiliki kedekatan geografis, akses transportasi yang baik, serta kesamaan budaya dengan Yogyakarta. Selain itu, potensi wisatawan dari wilayah tersebut dinilai sangat besar, baik untuk segmen wisata keluarga, pendidikan, komunitas maupun perjalanan perusahaan.
Sementara itu, Wakil Kepala Bidang Promosi, Pemasaran, dan Event BPD PHRI DIY M. Habibi menjelaskan bahwa keberhasilan promosi pariwisata tidak dapat dilakukan sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.
Ia menyebut sinergi antara Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, BP2KY, dan PHRI DIY menjadi kekuatan utama dalam menghadirkan promosi yang efektif sekaligus mampu menghasilkan transaksi bisnis.
“Dispar Kota Yogyakarta berperan sebagai pengarah kebijakan dan fasilitator promosi, BP2KY memperkuat pemasaran destinasi dan jejaring pasar, sedangkan PHRI DIY menghadirkan produk industri berupa hotel, restoran, hingga paket-paket wisata yang siap dipasarkan. Jadi promosi tidak berhenti pada pencitraan, tetapi menghasilkan transaksi nyata,” kata Habibi.
Untuk menjaga stabilitas kunjungan wisatawan sepanjang tahun, PHRI DIY juga mendorong berbagai strategi agar wisatawan tidak hanya datang saat musim liburan.
Strategi tersebut di antaranya memperbanyak penyelenggaraan event sepanjang tahun, menawarkan paket wisata dengan harga kompetitif saat low season, memperkuat pasar MICE, wisata pendidikan, komunitas, olahraga, hingga perjalanan korporasi.
Selain itu, kolaborasi dengan biro perjalanan juga terus diperkuat agar keberangkatan wisatawan ke Yogyakarta dapat berlangsung lebih merata dan tidak hanya terkonsentrasi pada masa libur panjang.
Deddy menambahkan, indikator keberhasilan kegiatan Direct Promotion dan Table Top bukan sekadar tingginya jumlah peserta yang hadir, tetapi lebih jauh diukur dari banyaknya business matching, kerja sama yang terjalin antara seller dan buyer, peningkatan penjualan paket wisata, naiknya tingkat hunian hotel, bertambahnya lama tinggal wisatawan, hingga meningkatnya belanja wisatawan di Yogyakarta.
“Kami berharap kegiatan ini membuka pasar baru sekaligus memperkuat pasar yang sudah ada. Dampaknya tidak hanya dirasakan hotel, tetapi juga restoran, destinasi wisata, transportasi, hingga pelaku UMKM. Yang paling penting adalah terciptanya hubungan bisnis yang berkelanjutan sehingga promosi benar-benar memberikan manfaat ekonomi bagi seluruh ekosistem pariwisata Yogyakarta,” pungkasnya.
(Ip/opinijogja)






