Foto: ilustrasi, jajanan tradisional kue “Kontol Kecepit”, makanan tradisional Bantul, Yogyakarta yang memiliki makna mendalam.(opinijogja, Sabtu 30/05/2026).
Bantul, opinijogja – Indonesia memiliki beragam kuliner tradisional yang unik, tidak hanya dari cita rasanya tetapi juga dari nama yang melekat di dalamnya. Salah satu yang belakangan kembali menjadi perbincangan adalah Kue Kontol Kecepit atau yang juga dikenal masyarakat sebagai Tolpit dan Adrem.
Meski namanya terdengar nyeleneh dan mengundang tawa, jajanan tradisional ini ternyata menyimpan sejarah panjang serta filosofi yang hidup dalam budaya masyarakat Jawa.
Kue Kontol Kecepit diketahui berasal dari Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Jajanan pasar tradisional ini telah dikenal masyarakat sejak puluhan tahun lalu dan menjadi salah satu kudapan khas yang kerap ditemukan di pasar-pasar tradisional wilayah Bantul. Beberapa sumber menyebutkan bahwa masyarakat setempat lebih akrab menyebutnya sebagai Adrem, sementara istilah Tolpit merupakan singkatan dari “Kontol Kejepit”.
Secara umum, kue ini dibuat dari bahan sederhana seperti tepung beras, santan, gula jawa, dan kelapa parut. Adonan kemudian digoreng dan dijepit menggunakan alat sederhana hingga membentuk lipatan khas yang menjadi ciri utamanya. Bentuk unik inilah yang kemudian melahirkan nama yang cukup kontroversial namun mudah diingat oleh masyarakat.
Makna Filosofis di Balik Kue Kontol Kecepit
Di balik penamaannya yang terdengar unik, Kue Kontol Kecepit dipercaya memiliki makna filosofis yang berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat Jawa.
Bentuk kue yang menyerupai dua sisi yang saling menjepit dimaknai sebagai simbol kebersamaan, persatuan, dan hubungan yang erat antarsesama. Filosofi tersebut menggambarkan pentingnya menjaga kerukunan serta solidaritas dalam kehidupan bermasyarakat.
Selain itu, sebagian masyarakat juga mengaitkan bentuk kue ini dengan simbol kesuburan dan keberlangsungan kehidupan. Dalam tradisi masyarakat agraris Jawa, kesuburan merupakan harapan penting yang berkaitan dengan hasil panen, kesejahteraan keluarga, serta keberlanjutan generasi penerus.
Tak sedikit pula yang meyakini bahwa kue tradisional ini menjadi simbol rasa syukur atas rezeki yang diberikan Tuhan. Dari bahan-bahan sederhana hasil bumi lokal, masyarakat mampu menciptakan panganan yang memiliki cita rasa khas sekaligus nilai budaya yang tinggi.
Beberapa catatan budaya bahkan menyebutkan bahwa Adrem pernah digunakan dalam tradisi masyarakat sebagai bagian dari ungkapan syukur atas hasil pertanian dan kehidupan yang berkecukupan.
Warisan Kuliner yang Mulai Langka
Di tengah maraknya makanan modern, keberadaan Kue Kontol Kecepit kini mulai jarang ditemukan. Meski demikian, jajanan tradisional ini masih bisa dijumpai di sejumlah pasar tradisional, festival kuliner, hingga acara budaya di wilayah Bantul dan Yogyakarta.
Bagi masyarakat setempat, Kue Kontol Kecepit bukan sekadar makanan ringan. Di balik namanya yang mengundang senyum, tersimpan pesan tentang kesederhanaan, kebersamaan, rasa syukur, serta harapan akan kehidupan yang sejahtera.
Karena itulah, kuliner tradisional ini menjadi salah satu warisan budaya yang patut dijaga dan dikenalkan kepada generasi muda agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
(Ip/opinijogja)








