Foto: Joko Mursito usai resmi meraih gelar Doktor Pendidikan dengan predikat Summa Cum Laude (IPK 4,00) dalam prosesi wisuda di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
YOGYAKARTA, opinijogja.id – Capaian akademik tertinggi berhasil diraih Joko Mursito dalam bidang pendidikan. Menguntit jejak studi S1 di ISI Yogyakarta dan S2 di UGM, ia resmi menyelesaikan program doktoral kependidikan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dengan predikat summa cum laude (IPK 4,00).
Kepada opinijogja.id, Sabtu (22/08/2026) Joko menyampaikan, keberhasilan ini menegaskan komitmennya untuk mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan (educulture) ke dalam pengembangan seni budaya dan pariwisata daerah.
Pendidikan S3 bagi Joko bukan sekadar mengejar gelar formal, melainkan ruang penguatan kapasitas akademik untuk memperluas wawasan pedagogis dan keilmuan. Ditempuh melalui jalur biaya mandiri di tengah kesibukan sebagai pejabat publik, ia membuktikan dedikasi dan kedisiplinan tinggi dalam menuntaskan studi kependidikan tepat waktu.
Pentingnya Kualifikasi Akademik dan Literasi bagi Pejabat Publik
Melalui gelar doktor kependidikan yang diraihnya, Joko menekankan pentingnya peningkatan literasi dan kualifikasi akademik bagi para pemangku kebijakan. Menurutnya, iklim akademik perguruan tinggi memberikan kerangka berpikir yang analitis dan ilmiah.
Disertasi serta produk buku akademik yang dihasilkannya dirancang untuk menjadi rujukan berbasis data (evidence-based policy) bagi pemerintah daerah. Kebijakan publik yang dilandasi riset kependidikan diharapkan mampu melahirkan program yang tidak hanya pragmatis, tetapi juga berorientasi jangka panjang.
Seni Budaya sebagai Media Educulture dan Integrasi Pembelajaran
Sebagai seorang doktor pendidikan, Joko melihat seni dan budaya tidak sekadar atraksi visual, melainkan media pembelajaran (educational medium) yang kaya akan simbol, sejarah, norma, dan kearifan lokal. Riset doktornya melahirkan kebaruan teoretis yang memosisikan aktivitas budaya sebagai sarana edukasi publik.
Pengembangan pariwisata berbasis budaya diintegrasikan dengan aspek-aspek kependidikan:
• Penguatan Karakter: Menginternalisasi nilai sosial, sejarah, dan keagamaan kepada masyarakat serta wisatawan.
• Pengalaman Edukatif (Educational Experience): Menjadikan destinasi wisata sebagai ruang belajar terbuka (outdoor learning) yang kontekstual.
• Pemberdayaan Ekonomi Terintegrasi: Aktivitas budaya yang sarat nilai edukasi sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat lokal secara berkelanjutan.
Inspirasi Studi Kasus Kependidikan bagi Akademisi
Diseri keberhasilannya menjadi brand ambassador UNY, Joko berharap pendekatan dan temuan riset kependidikannya dapat diaplikasikan oleh para mahasiswa dan akademisi. Model pengembangan seni budaya berbasis nilai pendidikan ini diharapkan menjadi kerangka acuan untuk meneliti dan memajukan potensi daerah lainnya.
Capaian doktor ini menjadi fondasi bagi Joko untuk terus mengabdi melalui penguatan sinergi antara pendidikan, kebudayaan, pariwisata, dan ekonomi kreatif.
(Ip/opinijogja)









