Foto: Ketua Tim Kerja Sarana dan Prasarana Disdik Sleman, Ruling Yulianto
SLEMAN, opinijogja.id – Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sleman merealisasikan program rehabilitasi delapan gedung Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada Tahun Anggaran 2026 sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendidikan. Namun, keterbatasan anggaran daerah masih menjadi tantangan dalam memenuhi kebutuhan perbaikan sekolah yang mengalami kerusakan.
Ketua Tim Kerja Sarana dan Prasarana Disdik Sleman, Ruling Yulianto, saat dikonfirmasi Opinijogja.id, Jumat (3/7/2026), mengatakan terdapat delapan sekolah yang menjadi prioritas rehabilitasi tahun ini.
“Kami melaksanakan rehabilitasi di delapan SMP, yakni SMP 5 Depok, SMP 2 Ngemplak, SMP 3 Berbah, SMPIT Salman Al Farisi, SMPN 1 Cangkringan, SMPN 1 Gamping, SMPIT Baitussalam Prambanan, dan SMPN 2 Mlati,” ujarnya.
Menurut Ruling, keterbatasan anggaran APBD memberikan dampak yang cukup besar terhadap program rehabilitasi sarana pendidikan. Berdasarkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik), masih terdapat sejumlah sekolah yang membutuhkan perbaikan karena mengalami kerusakan bangunan.
“Dampaknya cukup besar karena masih ada beberapa sekolah yang perlu direhabilitasi. Untuk mengatasi hal tersebut, kami terus berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah agar sekolah yang belum terakomodasi melalui APBD dapat memperoleh bantuan revitalisasi dari pemerintah pusat. Kami juga mengupayakan tambahan anggaran melalui APBD Perubahan,” jelasnya.
Ia menambahkan, hasil asesmen teknis menunjukkan beberapa bangunan sekolah telah masuk kategori rusak berat dengan tingkat kerusakan sekitar 45 persen. Meski demikian, kondisi tersebut dinilai belum membahayakan secara langsung bagi aktivitas belajar mengajar.
“Kalau tidak segera direhabilitasi, tentu kondisinya akan semakin memburuk dan berpotensi membahayakan di kemudian hari,” katanya.
Ruling berharap seluruh sekolah di Kabupaten Sleman ke depan memiliki sarana dan prasarana yang layak sehingga mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi peserta didik.
Ia juga optimistis, apabila kebutuhan rehabilitasi bangunan dapat diselesaikan, pemerintah dapat mengarahkan anggaran lebih besar untuk penguatan fasilitas pembelajaran berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).
“Harapan kami semua sekolah memiliki fasilitas yang baik. Setelah kebutuhan infrastruktur terpenuhi, anggaran bisa lebih difokuskan pada pengembangan peralatan pembelajaran berbasis STEM. Kami yakin Sleman mampu mewujudkan itu,” tuturnya.
Ruling menegaskan, perhatian Pemerintah Kabupaten Sleman terhadap sektor pendidikan juga sangat besar. Menurutnya, dukungan Bupati Sleman menjadi modal penting untuk terus meningkatkan kualitas layanan pendidikan melalui perbaikan infrastruktur sekolah.
(Ip/opinijogja)






