JIKF 2026 Resmi Dimulai, Golden Ticket Selection Buka Jalan Pelayang Daerah Tembus Panggung Internasional

- Penulis

Sabtu, 4 Juli 2026 - 16:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Layang-layang raksasa menghiasi langit Pantai Banaran, Kulon Progo, saat pembukaan Jogja International Kite Festival (JIKF) 2026 melalui ajang Golden Ticket Selection. Festival ini diikuti pelayang dari berbagai daerah di Indonesia serta 17 negara, menjadi perpaduan kompetisi, budaya, dan promosi pariwisata bertaraf internasional. ( JIKF 2026).

 

KULON PROGO, opinijogja.id – Jogja International Kite Festival (JIKF) 2026 resmi bergulir. Pembukaannya ditandai dengan penyelenggaraan Golden Ticket Selection di Lapangan Tayuban, Pantai Banaran, Galur, Kulon Progo, Sabtu (4/7/2026), yang menjadi gerbang bagi pelayang daerah untuk melaju ke kompetisi nasional sekaligus merasakan atmosfer festival layang-layang bertaraf internasional.

Ajang seleksi ini menjadi bagian dari strategi penyelenggara dalam membina sekaligus mencari talenta terbaik dari berbagai daerah. Para peserta yang lolos akan memperoleh Golden Ticket untuk tampil pada puncak Jogja International Kite Festival 2026 di Pantai Parangkusumo, Bantul, pada 11–12 Juli 2026 bersama puluhan pelayang mancanegara.

Hari pertama kompetisi mempertandingkan dua kategori, yakni layang-layang tradisional dan layang-layang kreasi. Sebanyak 17 karya diterbangkan, terdiri atas 11 peserta kategori tradisional dan enam peserta kategori kreasi. Setiap peserta mendapat giliran terbang sesuai kloter yang telah ditentukan agar proses penjurian berlangsung objektif dan aman.

Langit Pantai Banaran dipenuhi beragam karya bernilai seni tinggi. Kategori tradisional menampilkan layang-layang bertema budaya lokal seperti Mandala Berwarna, Batik Ing Ngayogya, Kembang Lintang, Owel, Wijaya Kusuma, hingga Punokawan Gank. Sementara kategori kreasi menghadirkan desain inovatif melalui karya Anoman, Drum, Dasamuka 2D, Burung Bido, Whell Kite, dan Kencana Langit.

Ketua Panitia JIKF 2026, Anang Sarjiyanto, mengatakan Golden Ticket Selection menjadi komitmen penyelenggara untuk membuka peluang lebih luas bagi pelayang daerah agar mampu bersaing di tingkat nasional hingga internasional.

“Melalui Golden Ticket Selection kami ingin memberikan kesempatan kepada pelayang daerah untuk bertanding di tingkat nasional. Harapannya mereka semakin percaya diri, terus berkembang, dan mampu bersaing hingga level internasional,” ujar Anang.

Ia menambahkan, seleksi ini bukan sekadar mencari pemenang, tetapi juga menjadi sarana pembinaan dan regenerasi komunitas layang-layang Indonesia agar semakin kompetitif.

Penjurian dilakukan dalam dua tahap, yaitu pemeriksaan konstruksi layang-layang di darat dan penilaian performa saat diterbangkan. Dewan juri menilai kualitas rangka, tingkat kesulitan pembuatan, estetika warna, stabilitas terbang, karakter suara, hingga kesesuaian karya dengan tema yang diangkat.

Baca Juga:  Sorotan Tiket Tak Sesuai Nominal di Pantai Baron, Dispar Gunungkidul Perketat Sistem Pengawasan

Tak hanya mengedepankan kompetisi, penyelenggaraan JIKF juga mengutamakan aspek keselamatan. PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Transmisi Salatiga memastikan lokasi penerbangan berada sekitar enam kilometer dari jalur SUTET 500 kV, sehingga aman untuk aktivitas festival. Kesempatan tersebut juga dimanfaatkan PLN untuk mengedukasi masyarakat agar tidak menerbangkan layang-layang di dekat jaringan listrik.

Dari sisi keselamatan penerbangan, AirNav Indonesia Cabang Yogyakarta turut melakukan asesmen ruang udara dan berkoordinasi dengan panitia mengingat lokasi festival masih berada dalam kawasan yang berkaitan dengan operasional Bandara Internasional Yogyakarta (YIA). Hasil koordinasi menyatakan kegiatan telah memenuhi aspek keselamatan penerbangan.

Festival ini juga diyakini memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata dan ekonomi lokal. Kehadiran ratusan peserta, wisatawan, serta delegasi luar negeri menjadi peluang bagi pelaku UMKM dan destinasi wisata di Kulon Progo untuk meningkatkan kunjungan dan aktivitas ekonomi.

Semangat kompetisi terlihat dari para peserta. Salah satunya Kindar, pelayang asal Candimulyo, Magelang, yang membawa karya tradisional Kembang Lintang setelah mempersiapkannya selama lebih dari 20 hari.

“Saya ikut bukan hanya untuk mencari juara, tetapi menambah teman dan pengalaman. Harapannya kegiatan seperti ini terus diadakan agar pelayang semakin percaya diri menunjukkan kreativitasnya. Soal hasil, saya anggap sebagai bonus,” tuturnya.

Kemegahan festival semakin terasa dengan hadirnya 35 pelayang internasional dari 17 negara yang turut menghiasi langit Pantai Banaran dengan berbagai jenis layang-layang khas negaranya.

Salah seorang peserta asal Amerika Serikat, Renne Matthew dari Massachusetts, mengaku kagum terhadap keramahan masyarakat Indonesia dan profesionalisme penyelenggaraan festival.

“Ini pertama kalinya saya datang ke Indonesia dan saya sangat senang berada di sini. Orang-orangnya sangat ramah, penyelenggara memperlakukan kami dengan sangat baik, dan festival ini berjalan sangat terorganisasi. Saya berharap bisa kembali lagi tahun depan,” ujarnya.

Selain mengikuti festival, para delegasi internasional juga dijadwalkan mengunjungi sejumlah destinasi wisata dan budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai bagian dari program pertukaran budaya yang menjadi ciri khas JIKF setiap tahun.

Melalui Golden Ticket Selection, JIKF 2026 menegaskan perannya bukan sekadar kompetisi layang-layang, tetapi juga sebagai wadah pelestarian budaya, pembinaan generasi pelayang, edukasi keselamatan, promosi pariwisata, hingga diplomasi budaya Indonesia di mata dunia.

(Ip/opinijogja)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel opinijogja.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Yogyakarta Bidik Lonjakan Wisatawan, PHRI DIY Gelar Business Matching di Surabaya
Jeep Wisata Wage Adventure di Jalur Dam Sabo Watu Gede Dongkrak Ekonomi UMKM Argomulyo
Yogyakarta Bidik Wisatawan Jawa Timur, Jogja Day 2026 di Malang Tawarkan Wisata Kuliner hingga Jeep Merapi
JIKF 2026 Resmi Ditutup, Tim Yudhistira Sleman Rebut Piala Raja Lewat Karya Train Naga
JIKF 2026 Lahirkan Bibit Juara Nasional, OLLANESIA Buka Jalan Prestasi Pelayang Muda Indonesia
Jogja International Kite Festival 2026 Resmi Dibuka, 17 Negara Ramaikan Langit Parangkusumo
Gunungkidul Bidik Lonjakan Wisatawan Lewat Geopark Night Specta 8.0, Siap Pecahkan Rekor MURI dengan 1.500 Penari
Gunungkidul Geopark Night Specta 8.0 Masuk KEN 2026, Rekor MURI dan Gamelan Orkestra Siap Meriahkan Nglanggeran
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 16 Juli 2026 - 09:56 WIB

Yogyakarta Bidik Lonjakan Wisatawan, PHRI DIY Gelar Business Matching di Surabaya

Selasa, 14 Juli 2026 - 15:56 WIB

Jeep Wisata Wage Adventure di Jalur Dam Sabo Watu Gede Dongkrak Ekonomi UMKM Argomulyo

Selasa, 14 Juli 2026 - 11:36 WIB

Yogyakarta Bidik Wisatawan Jawa Timur, Jogja Day 2026 di Malang Tawarkan Wisata Kuliner hingga Jeep Merapi

Minggu, 12 Juli 2026 - 17:19 WIB

JIKF 2026 Resmi Ditutup, Tim Yudhistira Sleman Rebut Piala Raja Lewat Karya Train Naga

Minggu, 12 Juli 2026 - 16:49 WIB

JIKF 2026 Lahirkan Bibit Juara Nasional, OLLANESIA Buka Jalan Prestasi Pelayang Muda Indonesia

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page