Budaya Lokal di Persimpangan Zaman

- Penulis

Jumat, 2 Januari 2026 - 01:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Muhammad Arifin

 

Oleh: Muhammad Arifin 

Jumat (02/01/2026)

 

Yogyakarta, opinijogja – Modernisasi kerap dipuja sebagai penanda kemajuan. Namun, memasuki 2026, ia juga meninggalkan jejak persoalan: budaya dan tradisi lokal kian terdesak, bukan hanya oleh teknologi dan globalisasi, tetapi juga oleh orientasi politik dan pembangunan yang abai pada akar identitas.

Indonesia menyimpan lebih dari 700 bahasa daerah dan ratusan praktik budaya yang tumbuh dari sejarah panjang komunitasnya. Namun, berbagai kajian menunjukkan sebagian bahasa daerah berada dalam kondisi terancam punah. Ketika bahasa lenyap, yang hilang bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cara berpikir, pengetahuan lokal, dan nilai sosial yang menopang kehidupan bersama.

Perubahan paling kentara terlihat pada generasi muda. Budaya populer global, yang mengalir deras lewat gawai dan media sosial, menjadi rujukan utama identitas. Tradisi lokal semakin jarang hadir dalam keseharian, tersisih ke ruang seremonial dan festival tahunan.

Keterlibatan anak muda dalam kegiatan budaya tradisional terus menyusut. Banyak tradisi dipersepsikan sebagai peninggalan masa lalu, tidak relevan dengan kebutuhan hari ini. Akibatnya, jarak emosional antara generasi dan akar budayanya makin melebar.

Di sejumlah daerah, tradisi memang masih bertahan, tetapi berubah fungsi. Ritual adat dipoles menjadi atraksi wisata, disederhanakan agar mudah dikonsumsi. Budaya direduksi menjadi tontonan, kehilangan peran sebagai ruang refleksi dan perekat sosial.

Baca Juga:  Siapa yang Aman di Hadapan Hukum?

Ketika makna ditanggalkan, tradisi hanya tinggal kemasan. Ia hadir untuk kamera, bukan untuk komunitas yang seharusnya menjadikannya pedoman hidup.

Dalam praktik kebijakan, budaya lokal kerap berada di pinggir agenda. Pembangunan diukur lewat angka pertumbuhan, panjang jalan, dan nilai investasi. Pelestarian budaya cukup disebut dalam pidato, jarang diikuti kebijakan yang konsisten dan berjangka panjang.

Urbanisasi mempercepat erosi ini. Desa kehilangan generasi mudanya, ruang-ruang komunal menyempit, dan nilai gotong royong tergeser oleh logika individualisme. Budaya tersingkir bukan karena kalah relevan, melainkan karena tidak diberi ruang hidup.

Modernisasi sejatinya bukan musuh. Ia menjadi masalah ketika dijalankan tanpa kesadaran budaya. Teknologi seharusnya dapat menjadi alat dokumentasi, pendidikan, dan transmisi nilai lokal kepada generasi baru, bukan sekadar mesin hiburan.

Budaya lokal bisa beradaptasi, selama esensinya dijaga. Transformasi tidak harus berarti penghapusan. Tanpa itu, modernisasi hanya melahirkan kemajuan yang rapuh.

Tahun 2026 menjadi titik tanya: apakah budaya lokal akan dibiarkan menjadi artefak, atau tetap diperlakukan sebagai fondasi kehidupan bersama. Kehilangan budaya berarti kehilangan orientasi moral dan sosial.

Budaya tidak semestinya menjadi pelengkap pembangunan. Ia adalah penentu arah. Tanpa akar yang kuat, masyarakat boleh jadi bergerak cepat, tetapi mudah tercerabut dari jati dirinya.

(Ip/opinijogja)

Penulis: Muhammad Arifin, penulis lepas isu budaya dan demokrasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel opinijogja.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Negeri Kaya, Rakyat Makin Susah: Ke Mana Perginya Uang Pajak Kita?
Hukum Sedang Dipertaruhkan: Saat Penegak Hukum Saling Berhadapan, Rakyat Harus Percaya Siapa
Jalanan Tak Pernah Berdusta
Dongeng yang Bernama Keadilan
Republik yang Tak Nyaman Mendengar Kejujuran
Sunyi yang Dipaksa: Ketika Manusia Kehilangan Ruang untuk Menjadi Diri Sendiri
Krisis Moral Indonesia: Saat Korupsi Menjadi Budaya dan Hukum Kehilangan Wibawa
Gaji Hakim Naik 3 Kali Lipat, Mengapa Rakyat Masih Sulit Mendapatkan Keadilan?
Berita ini 32 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 16 Juli 2026 - 01:14 WIB

Negeri Kaya, Rakyat Makin Susah: Ke Mana Perginya Uang Pajak Kita?

Minggu, 12 Juli 2026 - 12:03 WIB

Hukum Sedang Dipertaruhkan: Saat Penegak Hukum Saling Berhadapan, Rakyat Harus Percaya Siapa

Kamis, 9 Juli 2026 - 03:39 WIB

Jalanan Tak Pernah Berdusta

Senin, 6 Juli 2026 - 16:11 WIB

Dongeng yang Bernama Keadilan

Senin, 6 Juli 2026 - 13:21 WIB

Republik yang Tak Nyaman Mendengar Kejujuran

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page