Foto: Penyerahan fasilitas pemasaran Darling Kopi Merapi kepada kelompok tani kopi di Pakem dan Cangkringan, Sleman, sebagai upaya meningkatkan nilai tambah dan memperluas pemasaran kopi petani.
SLEMAN, opinijogja.id – Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY memfasilitasi pemasaran kopi keliling bagi kelompok tani kopi di kawasan Merapi, Kabupaten Sleman. Fasilitas tersebut diberikan sebagai upaya meningkatkan nilai tambah komoditas kopi sekaligus memperkuat pemasaran produk petani.
Fasilitasi diberikan kepada enam kelompok tani komoditas kopi dari Kapanewon Pakem dan Cangkringan. Bantuan berupa sepeda motor untuk operasional kopi keliling serta paket peralatan pengolahan dan penyajian kopi.
Peralatan yang diberikan antara lain moka pot, kompor portable, regulator, penggiling kopi manual, timbangan, pompa sirup, drip filter, serta pembuat espresso manual.
Program kopi keliling tersebut diberi nama “Darling Kopi Merapi”. Program ini merupakan bagian dari pemanfaatan Dana Keistimewaan (Danais) untuk membangun rantai nilai kopi, mulai dari petani hingga konsumen.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Aris Eko Nugroho, S.P., M.Si., mengatakan pemanfaatan Dana Keistimewaan harus memberikan dampak nyata terhadap pemberdayaan masyarakat, penguatan ekonomi lokal, serta pengembangan potensi kawasan Satuan Ruang Strategis (SRS) Merapi.
“Darling Kopi Merapi menjadi salah satu bentuk fasilitasi untuk memperpendek rantai pemasaran sekaligus meningkatkan nilai tambah produk kopi petani,” ujarnya.
Sementara itu, Plt Kepala Bidang Perkebunan DPKP DIY, Anita Windrayati Syarifudin, S.P., M.M.A., berharap Darling Kopi Merapi dapat menjadi model pengembangan pemasaran komoditas kopi berbasis kelompok tani yang dapat direplikasi di wilayah lain yang memiliki potensi kopi.
Menurutnya, fasilitasi tersebut bukan sekadar bantuan sarana, tetapi diharapkan menjadi pemicu bagi kelompok tani untuk mengembangkan usaha secara berkelanjutan.
“Setelah mendapatkan fasilitasi, kelompok diharapkan mampu membiayai operasional dan mengembangkan usaha secara mandiri,” katanya.
Dari sisi Pemerintah Kabupaten Sleman, fasilitasi kopi keliling ini diharapkan menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat di kawasan SRS Lereng Merapi.
Bidang Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian Sleman menilai keberadaan Darling Kopi Merapi dapat membuka ruang pemasaran yang lebih dekat kepada konsumen sekaligus mendorong peningkatan nilai tambah kopi yang dihasilkan petani.
Dengan konsep pemasaran langsung melalui kopi keliling, produk kopi tidak hanya dijual sebagai komoditas mentah, tetapi juga diolah dan disajikan menjadi produk siap konsumsi. Skema tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai ekonomi yang diterima kelompok tani sekaligus memperkenalkan kopi Merapi Sleman kepada pasar yang lebih luas.
Program Darling Kopi Merapi juga diharapkan menjadi bagian dari penguatan ekosistem kopi di kawasan Merapi, dengan kelompok tani tidak hanya berperan sebagai produsen, tetapi juga mulai mengambil bagian dalam proses pengolahan, pemasaran, hingga berinteraksi langsung dengan konsumen.
(Ip/opinijogja)









