Foto: Penyerahan sertifikat 15 varietas Hoya kepada Pemkab Sleman di Rumah Lavia, Pakem, Rabu (12/8/2026).
SLEMAN, opinijogja.id — Pemerintah Kabupaten Sleman terus mendorong pelestarian sekaligus perlindungan kekayaan sumber daya genetik tanaman lokal. Salah satunya melalui pendaftaran varietas tanaman hoya yang kini telah mencapai 27 varietas dan mendapatkan pengakuan dari Kementerian Pertanian.
Sebanyak 15 Sertifikat Tanda Daftar Varietas Tanaman Hoya diserahkan dalam kegiatan yang digelar Perkumpulan Pelestari Tanaman Hoya Indonesia (PPTHI) di Rumah LAVIA, Pakem, Sleman, Rabu (12/8/2026).
Penyerahan sertifikat dilakukan oleh perwakilan Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTPP) Kementerian Pertanian RI dan diterima Pemerintah Kabupaten Sleman yang diwakili Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Sleman, Liem Astuti.
Dengan tambahan 15 sertifikat tersebut, total varietas hoya yang telah memperoleh tanda daftar mencapai 27 jenis dari sekitar 52 jenis hoya yang telah diteliti.
Liem mengatakan, tanda daftar varietas lokal bukan sekadar dokumen administratif. Menurutnya, pengakuan tersebut menjadi bagian penting dalam melindungi kekayaan sumber daya genetik yang dimiliki daerah.
“Ini bukan hanya dokumen administratif, tetapi merupakan bentuk pengakuan dan perlindungan terhadap kekayaan sumber daya genetik tanaman yang dimiliki Sleman. Ini juga menjadi langkah penting dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati,” kata Liem saat dikonfirmasi OpiniJogja, Rabu (12/8/2026).
Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam proses identifikasi, inventarisasi, pengkajian hingga pendaftaran varietas lokal tanaman hoya.
Pemkab Sleman berharap kolaborasi antara pemerintah, lembaga penelitian, komunitas dan para pelestari tanaman dapat terus diperkuat, termasuk untuk mendaftarkan varietas lokal lainnya yang masih dimiliki Kabupaten Sleman.
Hoya Berpotensi Jadi Bisnis Anak Muda
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Aris Eko Nugroho, mengatakan kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk memperkenalkan potensi tanaman hoya kepada masyarakat secara lebih luas.
Menurutnya, tanaman hoya memiliki prospek yang cukup menjanjikan, khususnya bagi generasi muda yang ingin mengembangkan usaha di sektor pertanian dan tanaman hias.
“Potensi tanaman hoya cukup menjanjikan bagi anak-anak muda yang berbisnis di dunia pertanian,” ujar Aris.
Di DIY, kata dia, melalui Kabupaten Sleman telah didaftarkan puluhan jenis hoya kepada Kementerian Pertanian. Dari varietas yang telah disetujui, sebanyak 25 varietas merupakan pendaftaran Kabupaten Sleman, satu varietas dari DIY dan satu varietas dari Kabupaten Gunungkidul.
Aris menyebut potensi ekonomi hoya tidak bisa dipandang sebelah mata. Sejumlah tanaman lokal Indonesia bahkan memiliki nilai jual tinggi di pasar luar negeri.
Namun, potensi tersebut masih menghadapi tantangan berupa minimnya pengetahuan masyarakat mengenai jenis, karakteristik maupun teknik pemeliharaan tanaman hoya.
“Walaupun sudah puluhan yang didaftarkan dari DIY, banyak masyarakat yang belum tahu jenis tanaman hoya,” katanya.
Karena itu, ia mengapresiasi penerbitan buku “Hoya Plantation – Plasma Nutfah Genetika yang Dihargai Dunia” karya Hervia Latuconsina Budi, Ketua Perkumpulan Pelestari Tanaman Hoya Indonesia.
Buku tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu sarana edukasi untuk memperkenalkan tanaman hoya Indonesia kepada masyarakat secara lebih luas.
Koleksi Hoya Capai Ratusan Jenis
Hervia Latuconsina Budi sendiri selama ini aktif mengembangkan dan melestarikan tanaman hoya di Rumah LAVIA, Pakem. Koleksinya mencapai lebih dari 150 jenis hoya.
Potensi tanaman ini juga terlihat dari kalangan anak muda. Dalam kegiatan tersebut, misalnya, terdapat anak muda asal Wonosobo yang disebut telah memiliki koleksi sekitar 180 jenis hoya.
Aris menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa hoya memiliki peluang untuk dikembangkan tidak hanya sebagai tanaman koleksi, tetapi juga sebagai bagian dari usaha pertanian berbasis keanekaragaman hayati.
Ke depan, ia berharap salah satu balai di lingkungan dinas dapat turut mengembangkan tanaman hoya sekaligus memberikan bimbingan teknis mengenai perawatan dan pemeliharaannya.
Menurutnya, pengembangan tersebut penting agar sumber daya genetik tanaman yang dimiliki DIY tidak hilang.
“Jangan sampai sumber daya genetis tanaman yang ada di DIY hilang. Ini sejalan dengan semangat filosofi Hamemayu Hayuning Bawono,” ujar Aris.
Hoya Tak Hanya Ada di Sleman
Aris menambahkan, keberadaan tanaman hoya tidak hanya ditemukan di Kabupaten Sleman. Kabupaten Gunungkidul juga memiliki sejumlah jenis hoya yang berpotensi untuk dikembangkan dan didaftarkan.
Karena itu, inventarisasi dan pendaftaran varietas lokal perlu terus dilakukan agar kekayaan genetik tersebut memiliki dokumentasi serta perlindungan yang jelas.
Penyerahan sertifikat ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian acara Pameran Hoya dan Anggrek Species yang menampilkan beragam koleksi flora unggulan dan langka.
Dalam kegiatan yang berlangsung di Rumah LAVIA tersebut juga dilaksanakan peluncuran buku karya Hervia Latuconsina Budi.
Sejumlah pemangku kepentingan hadir, di antaranya perwakilan PPVTPP Kementerian Pertanian RI, BRIN, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman, Kapanewon Pakem, Kalurahan Pakembinangun, Perhimpunan Ilmu Pemuliaan Tanaman Indonesia (PERIPI), Yayasan Pelestari Anggrek Merapi, PAI Yogyakarta serta tokoh dan komunitas pelestari tanaman.
Dengan bertambahnya varietas yang telah terdaftar, Pemkab Sleman berharap upaya pelestarian hoya dapat berkembang menjadi gerakan bersama yang tidak hanya menjaga keanekaragaman hayati, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
(Ip/opinijogja)









