Foto: Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meninjau pengembangan pertanian hidroponik di Jogja Agro Park (JAP), Nanggulan, Kulon Progo, Senin (10/8/2026).
KULON PROGO, opinijogja.id – Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mendorong pengembangan Jogja Agro Park (JAP) di Nanggulan, Kulon Progo, menjadi kawasan pertanian terpadu yang tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga edukasi, teknologi, penelitian, hingga wisata berbasis pengalaman.
Hal itu disampaikan dalam kunjungan kerja Sultan ke JAP, Senin (10/8/2026). Dalam kunjungan tersebut, Sultan meninjau langsung panen perdana melon hidroponik dalam kegiatan Open Farm, sekaligus melihat perkembangan fasilitas eduwisata dan penerapan teknologi pertanian cerdas (smart farming).
Turut hadir Sekretaris Daerah DIY, Bupati Kulon Progo, serta Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY.
Pengembangan JAP diarahkan menjadi bagian dari transformasi pertanian DIY. Kawasan ini diproyeksikan tidak sekadar sebagai lokasi budidaya, tetapi juga sebagai ruang masyarakat untuk mengenal teknologi pertanian, belajar, berinteraksi dengan pelaku usaha, hingga menikmati pengalaman wisata berbasis pertanian.

Gagasan tersebut sejalan dengan pandangan Sultan saat mengunjungi JAP pada 2021. Dalam dokumentasi resmi Pemda DIY, Sultan saat itu berharap potensi JAP dapat dimaksimalkan dan produk pertanian lokal ditingkatkan kualitasnya sehingga tidak hanya dipasarkan di tingkat daerah, tetapi mampu menembus pasar nasional hingga ekspor.
Sementara itu, Kepala DPKP DIY Aris Eko Nugroho mengatakan, kunjungan Sultan dalam panen perdana melon memberikan semangat baru bagi pengembangan kawasan JAP, khususnya melalui konsep Jogotani atau Jalur Gagasan Teknologi Pertanian.
“Kunjungan Bapak Gubernur dalam panen perdana melon memberikan semangat mengembangkan Jogotani (Jalur Gagasan Teknologi Pertanian) di JAP sehingga dapat menambah edukasi di bidang pertanian,” ujar Aris saat dikonfirmasi OpiniJogja, Selasa (11/8/2026).
Menurut Aris, pengembangan JAP ke depan diharapkan semakin memperkuat fungsi kawasan sebagai pusat aktivitas pertanian dalam arti luas. Ia bahkan membayangkan JAP dapat menjadi semacam “mal pertanian” bagi masyarakat DIY.
“Harapan ke depan JAP menjadi mal-nya pertanian di DIY. Tempat orang bisa membeli, menjual, belajar, diskusi, dan penelitian tentang pertanian dalam arti luas,” katanya.
Konsep tersebut membuat JAP tidak hanya ditempatkan sebagai kawasan produksi komoditas, tetapi sebagai ekosistem pertanian yang mempertemukan petani, pelaku usaha, akademisi, peneliti, wisatawan, dan masyarakat.
Pengembangan teknologi hidroponik dan smart farming juga menjadi bagian penting dari arah tersebut. Melalui pendekatan ini, masyarakat dapat melihat secara langsung bagaimana teknologi diterapkan dalam proses budidaya sekaligus memperoleh pengetahuan mengenai pertanian modern.
Dengan konsep pertanian terpadu, edukasi, dan wisata berbasis pengalaman, Jogja Agro Park diharapkan dapat menjadi salah satu pusat pembelajaran dan inovasi pertanian modern di DIY, sekaligus membuka peluang penguatan rantai usaha pertanian dari produksi hingga pemasaran.
(Ip/opinijogja)









