Ribuan Wisatawan Padati Banaran, Train Naga Jadi Magnet Road to Jogja International Kite Festival 2026

- Penulis

Minggu, 5 Juli 2026 - 16:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Deretan kepala train naga berwarna-warni bersiap menghiasi langit persawahan Banaran, Galur, Kulon Progo, pada hari kedua Road to Jogja International Kite Festival (JIKF) 2026, Minggu (5/7/2026). Kompetisi kategori anak dan dewasa ini menjadi ajang regenerasi pelayang sekaligus memperebutkan Golden Ticket menuju puncak JIKF 2026.

 

KULON PROGO, opinijogja.id – Hari kedua rangkaian Road to Jogja International Kite Festival (JIKF) 2026 kembali menyedot perhatian ribuan masyarakat. Hamparan persawahan Banaran, Kapanewon Galur, Kabupaten Kulon Progo, Minggu (5/7/2026), dipenuhi atraksi layang-layang train naga yang meliuk indah mengikuti hembusan angin, menjadi tontonan yang memikat sekitar 15.000 pengunjung.

Setelah sehari sebelumnya menghadirkan perlombaan layang-layang tradisional dan layang-layang kreasi, agenda hari kedua difokuskan pada kompetisi train naga kategori anak dan dewasa. Puluhan tim dari berbagai daerah di Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya tampil membawa karya terbaik mereka demi memperebutkan Golden Ticket menuju puncak Jogja International Kite Festival 2026.

Sebanyak 19 klub bersaing pada kategori train naga dewasa, sementara tujuh klub mengikuti kategori anak. Kehadiran peserta dari berbagai kelompok usia menunjukkan bahwa seni layang-layang tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi media pembinaan generasi muda sekaligus upaya menjaga tradisi yang terus berkembang.

Ketua Panitia JIKF 2026, Anang Sarjiyanto, mengatakan antusiasme peserta terhadap kategori train naga meningkat setiap tahun. Menurutnya, keterlibatan anak-anak menjadi modal penting dalam menciptakan regenerasi komunitas pelayang di Indonesia.

“Antusiasmenya sangat luar biasa. Memang membutuhkan proses untuk mengajak lebih banyak peserta, tetapi kami optimistis ke depan train naga dapat berkembang menjadi event khusus tersendiri. Bahkan peserta internasional sangat tertarik karena di negara mereka tidak memiliki layang-layang seperti ini,” ujarnya.

Daya tarik train naga juga mendapat apresiasi dari tamu mancanegara. Salah satu peserta asal Vietnam, An, mengaku kagum melihat keindahan serta kekompakan para pelayang Indonesia saat menerbangkan rangkaian layang-layang naga yang membentang panjang di langit Banaran.

Baca Juga:  Hadapi Libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, Dispar Gunungkidul Perketat Layanan Keamanan Wisatawan

“Saya datang bersama tim dari Vietnam. Semuanya sangat indah. Saya senang bisa hadir dan menjadi bagian dari kegiatan ini,” katanya.

Semangat regenerasi terlihat dari keterlibatan pelayang muda. Farhan (15), anggota Klub Bolo Srewu yang mengikuti kategori train naga anak, mengungkapkan timnya membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk menyelesaikan layang-layang yang dilombakan.

“Kami membuat train naga selama sekitar tiga bulan sebelum akhirnya siap diterbangkan di kompetisi ini,” ujarnya.

Di sisi lain, peran pelayang senior juga menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan festival. Samidi (61), anggota Royal Team, mengatakan dirinya sengaja mendampingi para peserta muda agar mereka dapat mengikuti perlombaan dengan aman sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap dunia layang-layang.

“Sebagai orang tua kami ikut mendampingi agar anak-anak tetap aman. Pengalaman menjadi pelajaran bagi kami sehingga keselamatan menjadi prioritas, tetapi semangat mereka juga harus terus didukung,” tuturnya.

Selain menjadi arena kompetisi, kawasan persawahan Banaran semakin dikenal sebagai salah satu lokasi ideal untuk aktivitas layang-layang. Hamparan lahan terbuka di sekitar Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) yang berada di luar Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) menjadikan lokasi tersebut aman digunakan tanpa mengganggu aktivitas Bandara Internasional Yogyakarta (YIA).

Anang menjelaskan lokasi penyelenggaraan berada lebih dari 15 kilometer dari kawasan KKOP sehingga memenuhi aspek keselamatan penerbangan.

Menurutnya, Road to JIKF 2026 bukan sekadar perlombaan, melainkan wadah pelestarian budaya, pembinaan generasi muda, promosi destinasi wisata, serta sarana memperkenalkan seni layang-layang Indonesia kepada dunia. Keterlibatan pelayang cilik, komunitas senior, masyarakat, hingga peserta internasional menjadi bukti bahwa festival ini terus berkembang sebagai salah satu agenda budaya dan pariwisata unggulan di Yogyakarta.

(Ip/opinijogja)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel opinijogja.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kulon Progo Raih 2 Penghargaan Kemenkum DIY, Reformasi Hukum Berpredikat Istimewa
BPN Sleman Siapkan Layanan PERINTIS, Peralihan Hak Atas Tanah Ditargetkan Selesai 10 Hari Kerja
Hak Pekerja Trans Jogja Tak Kunjung Tuntas, KSBSI Ancam Aksi Besar Awal September
Pemkab Sleman Gelar Upacara HUT ke-81 RI, Busana Adat Nusantara Warnai Lapangan Denggung
HUT ke-81 RI di Pakem Digelar Spektakuler, 300 Pelajar Tampilkan Tari Kolosal Nusantara
BPHTB Kini Diverifikasi Maksimal 3 Hari, ATR/BPN Targetkan Balik Nama Sertifikat Tanah Selesai 10 Hari
Sleman Temple Run ke-11 Digelar 23 Agustus 2026, Lari Lintas 5 Candi dan Destinasi Wisata
Kunjungan Wisata Kulon Progo Melonjak, Pemkab Naikkan Target Wisatawan Beretribusi 2026
Berita ini 22 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 19 Agustus 2026 - 11:53 WIB

Kulon Progo Raih 2 Penghargaan Kemenkum DIY, Reformasi Hukum Berpredikat Istimewa

Rabu, 19 Agustus 2026 - 11:38 WIB

BPN Sleman Siapkan Layanan PERINTIS, Peralihan Hak Atas Tanah Ditargetkan Selesai 10 Hari Kerja

Selasa, 18 Agustus 2026 - 11:50 WIB

Hak Pekerja Trans Jogja Tak Kunjung Tuntas, KSBSI Ancam Aksi Besar Awal September

Senin, 17 Agustus 2026 - 14:13 WIB

Pemkab Sleman Gelar Upacara HUT ke-81 RI, Busana Adat Nusantara Warnai Lapangan Denggung

Senin, 17 Agustus 2026 - 12:07 WIB

HUT ke-81 RI di Pakem Digelar Spektakuler, 300 Pelajar Tampilkan Tari Kolosal Nusantara

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page