Sekolah Tanpa Jiwa

- Penulis

Rabu, 6 Mei 2026 - 11:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

 

Oleh: Muhammad Arifin 

Hari Pendidikan Nasional kembali datang. Upacara digelar, pidato dibacakan, dan nama Ki Hajar Dewantara kembali disebut. Namun di balik seremoni itu, pendidikan kita menyimpan kegelisahan yang kian nyata.

Sekolah masih berdiri. Kurikulum terus berganti. Nilai terus diburu. Tapi satu hal perlahan hilang: jiwa.

Dalam beberapa tahun terakhir, wajah pendidikan kita kerap muncul lewat kabar yang mengkhawatirkan. Tawuran pelajar, perundungan, kekerasan di lingkungan sekolah, hingga penyimpangan di ruang digital. Ini bukan sekadar kasus. Ini gejala.

Gejala bahwa pendidikan kehilangan arah.

Kita terlalu lama memuja angka. Nilai ujian, peringkat kelas, dan capaian akademik dijadikan ukuran utama. Sementara itu, karakter diletakkan di pinggir. Diajarkan, tapi tidak dihidupkan.

Padahal pendidikan, sejak awal, bukan hanya soal pengetahuan. Ki Hajar Dewantara merumuskan pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia. Bukan sekadar mencerdaskan, tetapi juga membentuk watak.

Hari ini, sekolah justru sering terasa seperti pabrik. Siswa diproses, diuji, lalu dilepas. Guru dibebani administrasi, dituntut memenuhi target, tetapi kehilangan ruang untuk benar-benar mendidik. Relasi yang seharusnya hangat berubah menjadi formal dan berjarak.

Di luar sekolah, tantangan lebih besar menunggu. Dunia digital bergerak tanpa jeda. Nilai, etika, dan batas-batas moral kerap kabur. Anak-anak belajar lebih cepat dari layar gawai dibanding dari ruang kelas. Tanpa pendampingan yang cukup, pendidikan formal kalah pengaruh.

Baca Juga:  Diduga Hendak Perang Sarung, Enam Remaja Diamankan Polisi di Minggir

Keluarga pun tak selalu hadir. Tekanan ekonomi dan perubahan sosial membuat banyak orang tua kehilangan waktu dan peran. Rumah tak lagi menjadi ruang utama pembentukan karakter.

Di titik ini, sulit menunjuk satu pihak sebagai penyebab. Ini bukan kegagalan individu. Ini kegagalan sistem.

Negara terlalu sering mengganti kebijakan tanpa menyentuh akar persoalan. Sekolah berjalan dalam rutinitas administratif. Guru dibiarkan berjuang sendiri. Orang tua sibuk bertahan hidup. Sementara anak-anak tumbuh di tengah kekosongan nilai.

Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi momen evaluasi, bukan perayaan.

Kita perlu kembali ke pertanyaan dasar: untuk apa pendidikan?

Jika jawabannya hanya untuk menghasilkan tenaga kerja, maka sistem hari ini sudah cukup. Tapi jika pendidikan dimaksudkan untuk membentuk manusia utuh,yang berpikir, berempati, dan berintegritas,maka kita sedang berada di jalur yang keliru.

Membangun kembali pendidikan berarti mengembalikan jiwa ke dalamnya. Memberi ruang bagi guru untuk mendidik, bukan sekadar mengajar. Menempatkan karakter sebagai inti, bukan pelengkap. Dan memastikan keluarga kembali menjadi fondasi pertama.

Tanpa itu, sekolah akan tetap berdiri. Tapi ia kosong.

Dan kita akan terus melahirkan generasi yang cerdas, namun kehilangan arah.

(Ip/opinijogja)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel opinijogja.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sleman Perkuat Ekosistem Film, Bidik Jejaring Kota Kreatif UNESCO 2027
Pejuang dan Si Pembual: Ketika Janji Kekuasaan Mengkhianati Cita-Cita Perjuangan
Sejarah dan Tujuan Koperasi yang Diabaikan oleh Ambisi Penguasa
Pameran Citra Diri dan Klaim Kepahlawanan Artifisial
Upacara Kemerdekaan dan Jurang Keadilan: Ketika Sila Kelima Tinggal Seremonial
Merdeka untuk Siapa? 81 Tahun RI dan Pahitnya Keadilan bagi Rakyat
Merdeka? Merdeka yang Seperti Apa?
“Londo Ireng” Bukan Bahasa Seorang Negarawan: Kritik atas Pernyataan Prabowo terhadap Wartawan
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 21 Agustus 2026 - 15:33 WIB

Sleman Perkuat Ekosistem Film, Bidik Jejaring Kota Kreatif UNESCO 2027

Jumat, 21 Agustus 2026 - 04:49 WIB

Pejuang dan Si Pembual: Ketika Janji Kekuasaan Mengkhianati Cita-Cita Perjuangan

Rabu, 19 Agustus 2026 - 13:48 WIB

Sejarah dan Tujuan Koperasi yang Diabaikan oleh Ambisi Penguasa

Selasa, 18 Agustus 2026 - 12:58 WIB

Pameran Citra Diri dan Klaim Kepahlawanan Artifisial

Selasa, 18 Agustus 2026 - 02:00 WIB

Upacara Kemerdekaan dan Jurang Keadilan: Ketika Sila Kelima Tinggal Seremonial

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page