Negara Boros

- Penulis

Sabtu, 18 April 2026 - 00:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_131072

i

Oplus_131072

 

Oleh: Muhammad Arifin

Klaten, opinijogja – Di tengah daya beli rakyat yang terus melemah, negara justru kembali mempertontonkan watak lamanya: boros dan abai pada rasa keadilan publik. Belum reda polemik pengadaan ribuan kendaraan untuk program Koperasi Merah Putih, kini muncul babak baru, pengadaan tablet dan perlengkapan bagi Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) di bawah Badan Gizi Nasional (BGN).

Nilainya bukan kecil: Rp6,31 triliun, tersebar dalam 1.091 paket pengadaan tahun 2025. Angka sebesar itu bukan sekadar deretan nol dalam dokumen anggaran, melainkan cerminan bagaimana negara memperlakukan uang rakyat, seolah tanpa beban.

Masalahnya bukan hanya pada besarnya anggaran. Dugaan harga pengadaan yang melampaui harga pasar menjadi alarm serius bagi tata kelola keuangan negara. Ini bukan lagi soal administratif, melainkan membuka ruang lebar bagi pemborosan, bahkan potensi korupsi.

Ironisnya, pengadaan itu tidak hanya tablet. Daftarnya panjang: pakaian dinas, sweater, celana, sepatu, topi, ikat pinggang, hingga semir sepatu. Negara seperti lebih sibuk mengurus atribut daripada substansi. Lebih fokus pada tampilan, ketimbang dampak nyata bagi pembangunan manusia.

Di saat yang sama, sektor pendidikan yang semestinya menjadi prioritas utama justru masih tertatih. Kesejahteraan tenaga pengajar jauh dari layak, fasilitas pendidikan di banyak daerah masih memprihatinkan, dan akses terhadap pendidikan berkualitas tetap menjadi persoalan klasik yang tak kunjung selesai.

Baca Juga:  Siapa yang Aman di Hadapan Hukum?

Kontras ini sulit diterima akal sehat.

Belum lagi pengadaan motor listrik yang hingga kini belum jelas urgensinya. Kebijakan-kebijakan semacam ini menumpuk dan membentuk pola: perencanaan yang lemah, prioritas yang kabur, dan kepekaan sosial yang tumpul.

Padahal, setiap rupiah dalam anggaran negara berasal dari keringat rakyat—dari pajak yang terus dipungut, dari harga kebutuhan yang kian melambung, dari hidup yang makin sempit ruang geraknya. Ketika anggaran dikelola tanpa kehati-hatian, yang dipertaruhkan bukan hanya uang, melainkan masa depan.

Jika praktik semacam ini terus dibiarkan, maka yang diwariskan bukanlah generasi emas, melainkan beban: utang yang menumpuk, ketimpangan yang melebar, dan kualitas manusia yang terabaikan.

Negara seharusnya hadir untuk menjawab kebutuhan rakyat, bukan menjauh dari mereka. Ketika kritik diabaikan dan suara publik tak lagi didengar, di situlah kepercayaan mulai runtuh.

Para pemimpin perlu diingatkan: kekuasaan bukan ruang untuk menghabiskan anggaran, melainkan amanah untuk mengelolanya dengan bijak. Rakyat bukan objek kebijakan, melainkan pemilik sah negeri ini.

Jika arah pembangunan terus melenceng, satu pertanyaan akan terus menggema:

Untuk siapa sebenarnya negara ini bekerja?

(Ip/opinijogja)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel opinijogja.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sleman Perkuat Ekosistem Film, Bidik Jejaring Kota Kreatif UNESCO 2027
Pejuang dan Si Pembual: Ketika Janji Kekuasaan Mengkhianati Cita-Cita Perjuangan
Sejarah dan Tujuan Koperasi yang Diabaikan oleh Ambisi Penguasa
Pameran Citra Diri dan Klaim Kepahlawanan Artifisial
Upacara Kemerdekaan dan Jurang Keadilan: Ketika Sila Kelima Tinggal Seremonial
Merdeka untuk Siapa? 81 Tahun RI dan Pahitnya Keadilan bagi Rakyat
Merdeka? Merdeka yang Seperti Apa?
“Londo Ireng” Bukan Bahasa Seorang Negarawan: Kritik atas Pernyataan Prabowo terhadap Wartawan
Berita ini 32 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 21 Agustus 2026 - 15:33 WIB

Sleman Perkuat Ekosistem Film, Bidik Jejaring Kota Kreatif UNESCO 2027

Jumat, 21 Agustus 2026 - 04:49 WIB

Pejuang dan Si Pembual: Ketika Janji Kekuasaan Mengkhianati Cita-Cita Perjuangan

Rabu, 19 Agustus 2026 - 13:48 WIB

Sejarah dan Tujuan Koperasi yang Diabaikan oleh Ambisi Penguasa

Selasa, 18 Agustus 2026 - 12:58 WIB

Pameran Citra Diri dan Klaim Kepahlawanan Artifisial

Selasa, 18 Agustus 2026 - 02:00 WIB

Upacara Kemerdekaan dan Jurang Keadilan: Ketika Sila Kelima Tinggal Seremonial

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page