Wakil Bupati Sleman

Kadispar Kulon Progo

SKS

Hemat di Rakyat, Boros di Program: Lagi-lagi Rakyat Dibuat Melarat

- Penulis

Jumat, 10 April 2026 - 01:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_131072

i

Oplus_131072

Foto: penulis

 

Opini oleh: Muhammad Arifin 

Klaten, opinijogja – Di republik yang gemar menggaungkan efisiensi, logika anggaran justru kerap berjalan terbalik.

Pemerintah meminta rakyat berhemat, listrik diirit, belanja ditekan, subsidi disisir. Namun di saat yang sama, Badan Gizi Nasional (BGN) justru menggelontorkan anggaran besar untuk pengadaan motor listrik. Nilainya bukan main: Rp42 juta per unit, dengan realisasi 21.800 unit pada 2025. Totalnya mencapai sekitar Rp915,6 miliar.

Hampir satu triliun rupiah, untuk kendaraan.

Sulit untuk tidak melihat ini sebagai paradoks. Di satu sisi, negara berbicara tentang keterbatasan fiskal. Di sisi lain, belanja justru menunjukkan kelonggaran yang mencurigakan.

BGN tentu punya argumen: motor listrik itu untuk operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), termasuk menjangkau wilayah terpencil. Tapi pertanyaan mendasarnya bukan soal “untuk apa”, melainkan “apakah sebesar itu kebutuhannya?”

Dalam tata kelola anggaran yang sehat, setiap rupiah seharusnya tunduk pada prinsip prioritas. Dan di Indonesia hari ini, prioritas itu mestinya jelas: pendidikan.

Faktanya, persoalan klasik pendidikan belum beranjak jauh. Data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menunjukkan ratusan ribu guru non-ASN masih bergantung pada honor minim, bahkan di sejumlah daerah, tak sampai Rp1 juta per bulan. Banyak dari mereka mengajar bukan karena kesejahteraan, melainkan karena panggilan.

Negara tahu itu. Tapi tampaknya belum merasa itu darurat.

Baca Juga:  Sekolah Rakyat dan Harapan Memutus Rantai Kemiskinan

Di titik inilah publik berhak curiga: jangan-jangan yang terjadi bukan sekadar salah hitung, melainkan salah arah.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memang terdengar mulia. Tidak ada yang menolak anak-anak Indonesia mendapatkan asupan gizi yang layak. Namun ketika program ini mulai “dimanjakan” oleh belanja besar yang tak sensitif terhadap kondisi fiskal dan sosial, ia berisiko berubah dari solusi menjadi beban baru.

Apalagi jika pengadaan dilakukan tanpa transparansi yang memadai, mulai dari spesifikasi, skema distribusi, hingga urgensi di lapangan. Harga Rp42 juta per unit untuk motor listrik pun layak diuji publik: apakah itu harga wajar, atau ada ruang pemborosan?

Masalahnya bukan sekadar angka. Ini soal pesan yang dikirim negara kepada rakyatnya.

Ketika guru harus bertahan dengan penghasilan minim, sementara negara leluasa membelanjakan hampir Rp1 triliun untuk kendaraan operasional, yang muncul bukan kepercayaan, melainkan sinisme.

Efisiensi yang tidak konsisten hanya akan melahirkan ketidakpercayaan. Dan tanpa kepercayaan, kebijakan sebaik apa pun akan kehilangan legitimasi.

Negara seharusnya hadir dengan kepekaan, bukan sekadar program. Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan seberapa besar anggaran dihabiskan, melainkan seberapa tepat ia menjawab kebutuhan rakyat.

Jika tidak, maka “efisiensi” hanya akan menjadi slogan kosong, sementara pemborosan berjalan diam-diam, atas nama kebijakan. Ujung-ujungnya lagi-lagi rakyat dibuat melarat.

(Ip/opinijogja)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel opinijogja.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Negeri Tanpa Rasa Malu
Tradisi Baju Baru Saat Lebaran, Antara Simbol Kebahagiaan dan Tekanan Sosial
Feodalisme yang Tak Pernah Mati
Nasionalisme Impor
Logika Terbalik Menteri HAM dalam Polemik MBG
Realita Jurnalis di Tengah Biaya Hidup yang Kian Mahal
Prambanan: Batu, Doa, dan Ingatan Peradaban Jawa
Pers di Era Digital: Ketika Kekuasaan dan Algoritma Bersekutu
Berita ini 44 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 17 April 2026 - 03:24 WIB

Negeri Tanpa Rasa Malu

Jumat, 10 April 2026 - 01:13 WIB

Hemat di Rakyat, Boros di Program: Lagi-lagi Rakyat Dibuat Melarat

Minggu, 8 Maret 2026 - 16:48 WIB

Tradisi Baju Baru Saat Lebaran, Antara Simbol Kebahagiaan dan Tekanan Sosial

Senin, 2 Maret 2026 - 01:14 WIB

Feodalisme yang Tak Pernah Mati

Minggu, 1 Maret 2026 - 16:15 WIB

Nasionalisme Impor

Berita Terbaru

Oplus_131072

Opinijogja

Negeri Tanpa Rasa Malu

Jumat, 17 Apr 2026 - 03:24 WIB