Pesta Babi: Ketika Tanah Papua Menjadi Jamuan Kekuasaan

- Penulis

Selasa, 19 Mei 2026 - 15:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Ilustrasi, opinijogja (19/05/2026)

 

Oleh: Muhammad Arifin

Klaten, opinijogja – Di Papua, pesta babi bukan sekadar tradisi makan bersama. Ia adalah simbol persaudaraan, penghormatan, rekonsiliasi, dan ikatan sosial masyarakat adat. Seekor babi dipelihara bertahun-tahun, lalu dipersembahkan dalam upacara adat sebagai lambang penghormatan terhadap kehidupan dan kebersamaan. Dalam budaya masyarakat Papua, pesta babi adalah perayaan kemanusiaan.

Namun makna luhur itu terasa jungkir balik ketika istilah “Pesta Babi” digunakan dalam film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita. Di tangan realitas pembangunan hari ini, pesta itu bukan lagi milik rakyat adat, melainkan pesta pora para pemodal dan elit kekuasaan yang menjadikan tanah Papua sebagai meja jamuan investasi.

Film karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale tersebut seperti tamparan keras bagi cara negara memaknai pembangunan. Papua kembali diposisikan sebagai ladang eksploitasi: hutan dibabat, tanah adat dipatok, lalu ruang hidup masyarakat perlahan dihapus atas nama proyek strategis nasional, ketahanan pangan, dan transisi energi.

Narasi pembangunan selalu terdengar indah di podium kekuasaan. Istilah seperti food estate, bioetanol, biodiesel, hingga hilirisasi dipromosikan sebagai simbol kemajuan bangsa. Tetapi di lapangan, istilah-istilah itu justru sering menjadi kamuflase modern bagi perampasan ruang hidup masyarakat adat.

Pohon-pohon sagu yang selama ratusan tahun menjadi sumber pangan masyarakat Papua ditebang dan diganti dengan hamparan industri monokultur. Sungai tercemar, hutan primer hilang, dan masyarakat adat dipaksa menyaksikan tanah leluhurnya berubah menjadi angka investasi di meja korporasi.

Ironisnya, negara sering hadir bukan sebagai pelindung rakyat, melainkan seperti makelar yang membuka jalan bagi modal besar. Jika dulu penindasan datang lewat moncong senjata, kini ia hadir dalam bentuk izin konsesi, kontrak investasi, dan legalitas hukum yang tampak rapi namun menyimpan luka sosial yang panjang.

Baca Juga:  Sungai Belik Memutih, Ribuan Ikan Mati: Limbah Misterius Kembali Menghantui Bantul

Di titik ini, hukum sering kehilangan nuraninya. Konstitusi yang seharusnya menjadi benteng terakhir rakyat kecil berubah menjadi formalitas administratif yang lentur terhadap kepentingan pemodal. Legalitas dipoles sedemikian rupa agar penghancuran ruang hidup tampak sah, meski cacat secara moral.

Yang paling menyedihkan, masyarakat adat kerap dianggap penghambat pembangunan. Padahal merekalah penjaga terakhir hutan Papua. Mereka memahami bahwa hutan bukan sekadar kayu yang bisa diuangkan atau lahan yang bisa dikonversi menjadi pabrik industri. Hutan adalah identitas, apotek alami, sumber pangan, sekaligus ruang spiritual yang menjaga hubungan manusia dengan leluhur dan alam.

Film Pesta Babi sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang Papua. Ia sedang memperlihatkan wajah pembangunan Indonesia hari ini: pembangunan yang terlalu sibuk mengejar angka pertumbuhan ekonomi, tetapi lupa menghitung air mata rakyat yang kehilangan tanahnya.

Kita tidak bisa terus menerus menyebut ini sebagai kemajuan jika yang terjadi justru penghancuran peradaban masyarakat adat. Sebab pembangunan yang mengorbankan manusia demi keuntungan segelintir elite pada akhirnya hanyalah kolonialisme dengan wajah baru.

Pesta babi dalam tradisi Papua adalah simbol kebersamaan. Tetapi dalam praktik pembangunan hari ini, “pesta babi” berubah menjadi metafora kerakusan: pesta besar para elit yang kenyang di atas luka masyarakat adat.

Pertanyaannya sederhana: pembangunan ini benar-benar untuk rakyat, atau hanya jamuan mewah bagi mereka yang rakus terhadap tanah dan kekuasaan?

(Ip/opinijogja)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel opinijogja.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Negeri Kaya, Rakyat Makin Susah: Ke Mana Perginya Uang Pajak Kita?
Hukum Sedang Dipertaruhkan: Saat Penegak Hukum Saling Berhadapan, Rakyat Harus Percaya Siapa
Jalanan Tak Pernah Berdusta
Dongeng yang Bernama Keadilan
Republik yang Tak Nyaman Mendengar Kejujuran
Sunyi yang Dipaksa: Ketika Manusia Kehilangan Ruang untuk Menjadi Diri Sendiri
Krisis Moral Indonesia: Saat Korupsi Menjadi Budaya dan Hukum Kehilangan Wibawa
Gaji Hakim Naik 3 Kali Lipat, Mengapa Rakyat Masih Sulit Mendapatkan Keadilan?
Berita ini 30 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 16 Juli 2026 - 01:14 WIB

Negeri Kaya, Rakyat Makin Susah: Ke Mana Perginya Uang Pajak Kita?

Minggu, 12 Juli 2026 - 12:03 WIB

Hukum Sedang Dipertaruhkan: Saat Penegak Hukum Saling Berhadapan, Rakyat Harus Percaya Siapa

Kamis, 9 Juli 2026 - 03:39 WIB

Jalanan Tak Pernah Berdusta

Senin, 6 Juli 2026 - 16:11 WIB

Dongeng yang Bernama Keadilan

Senin, 6 Juli 2026 - 13:21 WIB

Republik yang Tak Nyaman Mendengar Kejujuran

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page