Foto: Dua narasumber memberikan keterangan kepada awak media terkait penguatan diplomasi industri kelapa sawit dan penyusunan modul pelatihan negosiator.
Yogyakarta, opinijogja – Pemerintah Indonesia memperkuat strategi diplomasi industri kelapa sawit di tingkat global melalui penyusunan modul pelatihan bagi negosiator dan diplomat, Selasa (07/04/2026).
Program ini merupakan kolaborasi antara UNDP dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian guna membekali pemahaman komprehensif tentang transformasi sawit berkelanjutan.
Upaya tersebut dilakukan sebagai respons atas meningkatnya tantangan dan tekanan global terhadap industri sawit Indonesia, terutama terkait isu lingkungan dan regulasi internasional. Dalam diskusi yang turut melibatkan Pusat Studi Perdagangan Dunia, fokus diarahkan pada konsolidasi sumber daya pengetahuan yang selama ini tersebar di berbagai lembaga.
Langkah ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas diplomat Indonesia dalam menyampaikan narasi yang utuh dan objektif mengenai transformasi industri sawit, mulai dari sektor hulu hingga hilir.
“Penting bagi para negosiator untuk memahami kebijakan pemerintah dan transformasi rantai pasok yang sejalan dengan visi industri sawit berkelanjutan di tingkat global,” ujar Maharani Hapsari akademisi dari UGM .
Selain itu, pemerintah juga menegaskan posisinya dalam menghadapi berbagai regulasi internasional, termasuk dari Uni Eropa. Indonesia tetap membuka ruang terhadap persyaratan pasar global selama tidak bertentangan dengan hukum domestik.
Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris utama Badan Informasi Geospasial, Belinda menekankan pentingnya meluruskan persepsi global yang kerap mengaitkan sawit dengan deforestasi.
“Sawit tidak selalu berasal dari deforestasi. Banyak yang dikembangkan di lahan yang memang diperuntukkan atau lahan tidak produktif. Indonesia juga memiliki sistem monitoring untuk memastikan hal tersebut,” jelasnya.
Sementara itu, Direktur Pengembangan Ekspor Kementerian Perdagangan, Miftah, mengungkapkan bahwa ekspor sawit Indonesia mencapai sekitar 32 juta ton dengan pasar yang tersebar luas. Kawasan Asia Selatan seperti India, Pakistan, dan Bangladesh menyerap sekitar 30 persen, diikuti Tiongkok 12 persen, serta Uni Eropa 10 persen. Adapun Afrika menjadi kawasan dengan pertumbuhan pasar tercepat.
Menurut Miftah, kondisi geopolitik di Timur Tengah saat ini tidak memberikan dampak signifikan terhadap industri sawit nasional karena kuatnya diversifikasi pasar ekspor Indonesia.
Di sisi lain, pemerintah juga terus mendorong pemanfaatan sawit sebagai energi terbarukan. Implementasi program Biodiesel 50 (B50) ditargetkan mulai berjalan pada pertengahan tahun ini sebagai bagian dari strategi optimalisasi pasokan domestik sekaligus penguatan ketahanan energi nasional.
(Ip/opinijogja)















