Kolonialisme Tanpa Bangsa Asing

- Penulis

Rabu, 17 Desember 2025 - 03:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Ilustrasi

 

Oleh: Muhammad Arifin 

Ketika kerusakan lingkungan dan pembangunan serampangan justru lahir dari kebijakan elite negeri sendiri

Klaten, opinijogja – Selama ini, penjajahan kerap dipahami sebagai peristiwa historis yang selesai bersamaan dengan proklamasi. Belanda disebut, angka 350 tahun dihafalkan, seolah penderitaan bangsa berhenti pada 1945. Namun setelah hampir delapan dekade kemerdekaan, narasi itu semakin sulit menjelaskan kenyataan Indonesia hari ini.

Gunung-gunung terpangkas, sungai-sungai tercemar, hutan menyusut drastis, dan laut dieksploitasi tanpa jeda. Semua berlangsung bukan di bawah kekuasaan kolonial, melainkan dalam tata kelola negara yang mengklaim diri berdaulat. Kerusakan ini bukan semata warisan masa lalu, melainkan konsekuensi dari kebijakan yang dibuat dan dijalankan hari ini.

Eksploitasi sumber daya alam kini bahkan berlangsung lebih sistematis dibanding era kolonial. Jika dahulu penghisapan dilakukan demi kepentingan negeri asing, kini ia berjalan atas nama pembangunan, investasi, dan pertumbuhan ekonomi. Bahasa berubah, tetapi pola pengorbanannya tetap sama: lingkungan dan rakyat ditempatkan sebagai biaya.

Pembangunan infrastruktur dipacu sebagai simbol kemajuan. Namun sebagian proyek dibangun tanpa perencanaan matang, cepat mengalami kerusakan, bahkan gagal berfungsi. Utang meningkat, sementara masyarakat diminta memahami situasi dan menunda tuntutan. Ketika banjir, longsor, atau krisis air terjadi, negara kerap menyederhanakannya sebagai bencana alam, tanpa sepenuhnya mengakui peran kebijakan dalam menciptakan kerentanan.

Baca Juga:  Hemat di Rakyat, Boros di Program: Lagi-lagi Rakyat Dibuat Melarat

Padahal, bencana jarang bersifat alamiah sepenuhnya. Ia lahir dari izin yang dikeluarkan tanpa kehati-hatian, pembukaan lahan yang mengabaikan daya dukung, serta pembiaran terhadap praktik eksploitatif. Risiko diketahui, tetapi tetap diambil.

Di ruang-ruang kekuasaan, nasionalisme sering dikumandangkan sebagai legitimasi. Namun nasionalisme semacam ini lebih sering berhenti sebagai retorika. Ia tidak selalu hadir dalam keberpihakan nyata pada petani, nelayan, masyarakat adat, dan warga yang ruang hidupnya menyempit oleh proyek-proyek berskala besar.

Kolonialisme hari ini tidak memerlukan bangsa asing. Ia bekerja melalui regulasi, konsesi, dan keputusan administratif. Tidak ada bendera lain yang dikibarkan, tetapi dampaknya serupa: penguasaan sumber daya oleh segelintir pihak dan kerusakan yang diwariskan lintas generasi.

Karena itu, pertanyaan tentang siapa penjajah Indonesia patut diajukan ulang. Penjajah tidak selalu datang dari luar. Ia dapat berwujud dalam kebijakan yang mengabaikan keadilan ekologis dan sosial, meski dilegalkan atas nama negara.

Jika kemerdekaan hanya dimaknai sebagai lepas dari dominasi asing, sementara eksploitasi terus berlangsung dari dalam, maka kemerdekaan itu kehilangan substansinya. Indonesia tidak kekurangan slogan kebangsaan. Yang masih langka adalah keberanian untuk menghentikan perampokan yang dilegalkan. (Ip/opinijogja)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel opinijogja.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sleman Perkuat Ekosistem Film, Bidik Jejaring Kota Kreatif UNESCO 2027
Pejuang dan Si Pembual: Ketika Janji Kekuasaan Mengkhianati Cita-Cita Perjuangan
Sejarah dan Tujuan Koperasi yang Diabaikan oleh Ambisi Penguasa
Pameran Citra Diri dan Klaim Kepahlawanan Artifisial
Upacara Kemerdekaan dan Jurang Keadilan: Ketika Sila Kelima Tinggal Seremonial
Merdeka untuk Siapa? 81 Tahun RI dan Pahitnya Keadilan bagi Rakyat
Merdeka? Merdeka yang Seperti Apa?
“Londo Ireng” Bukan Bahasa Seorang Negarawan: Kritik atas Pernyataan Prabowo terhadap Wartawan
Berita ini 18 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 21 Agustus 2026 - 15:33 WIB

Sleman Perkuat Ekosistem Film, Bidik Jejaring Kota Kreatif UNESCO 2027

Jumat, 21 Agustus 2026 - 04:49 WIB

Pejuang dan Si Pembual: Ketika Janji Kekuasaan Mengkhianati Cita-Cita Perjuangan

Rabu, 19 Agustus 2026 - 13:48 WIB

Sejarah dan Tujuan Koperasi yang Diabaikan oleh Ambisi Penguasa

Selasa, 18 Agustus 2026 - 12:58 WIB

Pameran Citra Diri dan Klaim Kepahlawanan Artifisial

Selasa, 18 Agustus 2026 - 02:00 WIB

Upacara Kemerdekaan dan Jurang Keadilan: Ketika Sila Kelima Tinggal Seremonial

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page