Foto: penampakan air sungai Belik yang diduga tercemari limbah.
BANTUL, opinijogja – Sungai Belik di Dusun Pandes 1, Wonokromo, Pleret, mendadak berubah wajah, Senin pagi, 20 April 2026. Airnya dipenuhi busa putih tebal menyerupai salju. Tak lama, ribuan ikan mati mengapung.
Warga menyebut ini bukan kejadian pertama.
Berdasarkan pantauan di lokasi, busa menyelimuti aliran sungai dari hulu hingga hilir. Ikan-ikan terlihat lemas, berenang tak beraturan, dalam istilah warga disebut klenger, sebelum akhirnya mati. Penurunan kadar oksigen diduga menjadi pemicu utama.
Sebagian warga tampak menangkap ikan yang sekarat. Namun, di balik itu, kekhawatiran menguat. Bau menyengat tercium di sekitar sungai. Warga cemas pencemaran merembet ke sumur-sumur di sekitar bantaran.
Yudi dari Forum Komunitas Sungai Bantul (FKSB) menduga pencemaran berasal dari limbah industri. Ia menyebut pola kejadian serupa pernah terjadi sebelumnya.
“Diduga ini kiriman limbah seperti tahun lalu. Tapi kami minta dinas membuktikan lewat uji laboratorium. Ini tidak bisa dibiarkan,” ujar Yudi.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bantul bergerak. Tim teknis diturunkan ke lokasi. Sejumlah langkah dilakukan: pengambilan sampel air dan busa, penyisiran aliran sungai, serta pelacakan sumber pencemaran.
Hingga kini, hasil uji laboratorium belum diumumkan. Jenis limbah dan pihak yang bertanggung jawab masih menjadi tanda tanya.
Di tengah ketidakpastian itu, satu hal jelas: Sungai Belik kembali tercemar. Dan warga kembali menunggu, apakah kali ini ada yang benar-benar dimintai pertanggungjawaban.
(Ip/opinijogja)








