Merti Umbul Temanten di Lereng Merapi, Tradisi Leluhur Penjaga Sumber Air hingga Kota Yogyakarta

- Penulis

Sabtu, 20 Juni 2026 - 14:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Tokoh masyarakat, perangkat kalurahan, TNI-Polri, dan warga mengikuti prosesi kenduri di Umbul Wadon saat pelaksanaan Merti Umbul Temanten di Cangkringan, Sleman, Sabtu (20/6/2026). Tradisi ini menjadi simbol pelestarian sumber air dan kearifan lokal masyarakat lereng Merapi.

 

SLEMAN, opinijogja – Tradisi budaya dan pelestarian lingkungan kembali berpadu dalam gelaran Merti Umbul Temanten yang berlangsung di kawasan lereng Gunung Merapi, Kalurahan Umbulharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, Sabtu (20/6/2026).

Kegiatan tahunan yang telah berlangsung secara turun-temurun ini menjadi wujud rasa syukur masyarakat atas keberadaan sumber mata air Umbul Temanten yang selama ini menjadi penopang kehidupan warga di lereng Merapi hingga Kota Yogyakarta.

Ketua Panitia sekaligus Kamituwa Kalurahan Umbulharjo, Misman S.Ag, menjelaskan bahwa Umbul Temanten memiliki keunikan tersendiri karena terdiri dari dua sumber mata air yang dikenal sebagai Umbul Wadon dan Umbul Lanang.

“Hari ini kita menggelar kegiatan yang sudah melegenda setiap tahun, yaitu Merti Umbul Temanten. Disebut Umbul Temanten karena di lokasi tersebut terdapat Umbul Wadon dan Umbul Lanang,” ujarnya.

Tradisi tersebut diikuti masyarakat dari tiga kalurahan, yakni Kalurahan Umbulharjo, Kalurahan Kepuharjo, dan Kalurahan Hargobinangun, serta mendapat dukungan dari para pengguna air, baik masyarakat sekitar maupun masyarakat Kota Yogyakarta yang turut merasakan manfaat sumber mata air tersebut.

Rangkaian acara diawali dengan kirab budaya yang menampilkan Bergada Prajurit Argo Taruno, dilanjutkan kenduri di kawasan Umbul Wadon, doa bersama, penanaman pohon, hingga prosesi pengambilan air sebagai simbol kepedulian terhadap pelestarian sumber kehidupan.

“Tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena lebih meriah dengan adanya iringan kirab Bergada Argo Taruno,” kata Misman.

Menurutnya, kenduri yang digelar merupakan tradisi leluhur masyarakat lereng Merapi yang telah diwariskan sejak lama sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan sumber daya alam yang diberikan.

“Tujuan kegiatan ini agar sumber mata air tetap lestari dan terus memberikan manfaat bagi masyarakat lereng Merapi bahkan sampai Kota Yogyakarta,” tambahnya.

Pada penyelenggaraan tahun ini, panitia mengusung tema “Tirto Bening Mahanani Ati Wening, Ngrumat Toyo Kanggo Lestantuning Gesang.”

Tema tersebut mengandung makna bahwa air yang jernih mampu menghadirkan kejernihan hati dan pikiran, sekaligus menjadi pengingat pentingnya merawat sumber air demi keberlangsungan kehidupan.

“Wujud rasa syukur itu tidak hanya melalui doa, tetapi juga diwujudkan dalam pelestarian lingkungan dan semangat gotong royong. Air yang diambil dalam prosesi ini menjadi pengingat bahwa sumber kehidupan harus terus dirawat agar memberi manfaat bagi generasi mendatang,” jelas Misman.

Baca Juga:  Mukerprov PMI DIY 2026 Digelar di Sleman, Jangkau Lebih dari 2 Juta Penerima Manfaat Sepanjang 2025

Selain prosesi adat, pada malam harinya masyarakat juga menggelar pagelaran wayang kulit yang melibatkan seniman lokal sebagai bentuk pemberdayaan ekonomi dan pelestarian budaya masyarakat setempat.

Air untuk Anak Cucu

Sementara itu, Lurah Umbulharjo, Danang Sulistya Haryana, menegaskan bahwa filosofi utama dari tradisi Merti Umbul Temanten adalah menjaga keberlanjutan sumber air untuk masa depan.

“Air adalah sumber kehidupan. Tanpa air, semuanya tidak ada apa-apanya. Karena itu, kita harus merawat air untuk kehidupan. Apa yang kita lakukan hari ini sejatinya adalah investasi bagi anak cucu kita nanti,” ujarnya.

Menurut Danang, kawasan Umbul Temanten selama ini tidak hanya dimanfaatkan masyarakat sekitar, tetapi juga menjadi sumber pasokan air bagi berbagai pihak, termasuk PDAM Sleman, PDAM Kota Yogyakarta, hingga sektor usaha lainnya.

Ia menilai slogan ‘Ngrumat Toyo Kanggo Lestantuning Gesang’ memiliki filosofi yang sangat mendalam karena mengajarkan pentingnya menjaga alam demi keberlangsungan hidup generasi mendatang.

“Kalau bukan kita yang merawat sekarang, siapa lagi? Kita harus nguri-uri alam dan melestarikan sumber air demi kehidupan yang berkelanjutan,” tegasnya.

Pemkab Sleman Apresiasi Pelestarian Umbul Temanten

Dalam kesempatan tersebut hadir pula Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman, Maksumakwan, yang mewakili Pemerintah Kabupaten Sleman.

Ia menyampaikan apresiasi kepada komunitas masyarakat yang secara mandiri terus menjaga dan merawat Umbul Temanten sebagai sumber kehidupan.

“Pemerintah Kabupaten Sleman sangat mengapresiasi masyarakat yang secara konsisten memetri dan menjaga Umbul Temanten. Sumber air ini tidak hanya penting bagi manusia, tetapi juga bagi kelestarian flora dan fauna di kawasan Merapi,” katanya.

Menurutnya, tradisi Merti Umbul Temanten merupakan bentuk ungkapan syukur atas karunia Tuhan yang masih menghadirkan sumber air bagi masyarakat di wilayah Umbulharjo, Kepuharjo, Hargobinangun, Wukirsari hingga Kota Yogyakarta.

Selain kenduri dan doa bersama, kegiatan tersebut juga diisi dengan penanaman pohon di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) sebagai upaya menjaga keseimbangan ekosistem.

Maksumakwan berharap tradisi ini terus dilestarikan dan dikemas menjadi agenda budaya unggulan yang mampu menggerakkan perekonomian masyarakat.

“Ke depan kegiatan ini perlu terus dikembangkan sebagai event budaya berbasis pelestarian lingkungan. Selain menjaga sumber air, kegiatan ini juga berpotensi menjadi daya tarik wisata yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.

(Ip/opinijogja)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel opinijogja.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Peletakan Batu Pertama Masjid Miftahul Fallah di Sleman, Bupati Harda Kiswaya Ajak Warga Jaga Kekompakan
Waisak 2570 BE di Borobudur Berlangsung Khidmat, 5.000 Lampion Hiasi Langit Magelang
Pewarta Independent Salurkan Wakaf Al-Qur’an ke TPA dan Ponpes di DIY–Klaten, Didukung Donatur dan Kepala Daerah
Ribuan Warga Padati Sholawatan Hari Jadi ke-110 Sleman Bersama Gus Muwafiq
15 Dalang Pentas Semalam Suntuk di Hari Jadi ke-110 Sleman, Lakon “Mahasaka” Jadi Sorotan
Harda Kiswaya Ajak Warga Pakem Perkuat Jati Diri Lewat Tradisi Bedhol Projo
24 Dalang Muda Kulon Progo Tampil Memukau di Festival Pedalangan 2026
Peletakan Batu Pertama Masjid Baitussalam Serut Gunungkidul, Simbol Kebersamaan Warga Perbatasan
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 20 Juni 2026 - 14:24 WIB

Merti Umbul Temanten di Lereng Merapi, Tradisi Leluhur Penjaga Sumber Air hingga Kota Yogyakarta

Selasa, 16 Juni 2026 - 03:51 WIB

Peletakan Batu Pertama Masjid Miftahul Fallah di Sleman, Bupati Harda Kiswaya Ajak Warga Jaga Kekompakan

Senin, 1 Juni 2026 - 03:49 WIB

Waisak 2570 BE di Borobudur Berlangsung Khidmat, 5.000 Lampion Hiasi Langit Magelang

Senin, 25 Mei 2026 - 03:23 WIB

Pewarta Independent Salurkan Wakaf Al-Qur’an ke TPA dan Ponpes di DIY–Klaten, Didukung Donatur dan Kepala Daerah

Minggu, 17 Mei 2026 - 12:37 WIB

Ribuan Warga Padati Sholawatan Hari Jadi ke-110 Sleman Bersama Gus Muwafiq

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page