Foto: Pisungsung hasil bumi Kalurahan Argomulyo, sesuai program Kalurahan ada Integrated farming berupa Telur Omega, talas, kacang tanah.
SLEMAN, opinijogja – Kalurahan Argomulyo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, turut ambil bagian dalam Kirab Pamong dan unsur Lembaga Kemasyarakatan Kalurahan (LKK) se-DIY dalam rangka Mangayubagyo 80 Tahun Yiswo Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X. Berbagai persiapan telah dilakukan, termasuk koordinasi lintas wilayah hingga tingkat kapanewon.
Lurah Argomulyo, Danang Hendri Bintoro, mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi melalui grup lurah se-Kabupaten Sleman yang kemudian ditindaklanjuti dengan pertemuan di Kantor Kapanewon Cangkringan.
“Persiapannya kami sudah koordinasi melalui grup lurah se-Kabupaten Sleman, kemudian ditindaklanjuti koordinasi di Kantor Kapanewon Cangkringan,” ujar Danang saat dikonfirmasi opinijogja, Rabu (1/4/2026).
Dalam kirab tersebut, Kalurahan Argomulyo akan membawa pisungsung berupa hasil bumi unggulan yang merupakan bagian dari program integrated farming. Produk yang diusung antara lain telur omega, talas, dan kacang tanah.
Danang menjelaskan, seluruh peserta dari Kapanewon Cangkringan dijadwalkan berkumpul pada pagi hari sebelum keberangkatan menuju lokasi kirab.
“Rencana besok pagi pukul 05.00 WIB, seluruh peserta dari Kapanewon Cangkringan berkumpul di depan kantor kapanewon, kemudian berangkat bersama dengan pengawalan dari Polsek Cangkringan,” jelasnya.
Ia menambahkan, dalam kirab tersebut setiap kabupaten hanya membawa satu gunungan, sementara masing-masing kalurahan membawa pisungsung hasil bumi atau produk unggulan wilayahnya.
Untuk jumlah peserta, setiap kalurahan mengirimkan sekitar 15 hingga 30 orang. Di Kapanewon Cangkringan sendiri terdapat lima kalurahan yang ikut serta dalam kegiatan tersebut.
Menurut Danang, partisipasi dalam kirab ini tidak hanya sebagai bentuk keterlibatan dalam agenda budaya, tetapi juga memiliki makna sosial dan filosofis.
“Harapannya kegiatan ini bisa menjadi ajang silaturahmi antara masyarakat dengan pemimpinnya maupun antar warga se-DIY. Selain itu juga menjadi wujud kekompakan, persatuan, dan guyub rukun seluruh elemen masyarakat,” ungkapnya.
Lebih lanjut, pisungsung hasil bumi dan produk UMKM yang dibawa masing-masing kalurahan menjadi simbol rasa syukur atas karunia kemakmuran yang dimiliki wilayahnya.
“Ini juga bisa menjadi salah satu atraksi budaya yang menarik dan memperkuat identitas lokal,” pungkas Danang.
Kirab Pamong dan LKK se-DIY ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan 80 tahun Sri Sultan Hamengku Buwono X, sekaligus mempertegas nilai-nilai budaya, kebersamaan, dan kearifan lokal yang terus dijaga oleh masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta.
(Ip/opinijogja)















