Foto: Warga memilih pakaian di salah satu pasar menjelang Idul Fitri. Tradisi membeli baju baru masih menjadi bagian dari perayaan Lebaran bagi banyak masyarakat Indonesia.(Ilustrasi opinijogja).
Oleh: Muhammad Arifin
Klaten, opinijogja – Minggu (08/03/2026), Menjelang Hari Raya Idul Fitri, suasana pusat perbelanjaan di berbagai kota di Indonesia selalu tampak lebih ramai dari biasanya. Di pasar tradisional, deretan pedagang pakaian dipenuhi pembeli yang berburu kebutuhan Lebaran. Sementara di pusat perbelanjaan modern, berbagai toko menawarkan potongan harga dan promo khusus yang menarik minat masyarakat.
Fenomena ini hampir selalu terjadi setiap tahun. Tradisi membeli baju baru seakan telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perayaan Idul Fitri di Indonesia.
Bagi sebagian masyarakat, mengenakan pakaian baru saat Lebaran merupakan simbol kebahagiaan setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan. Pakaian baru juga kerap dimaknai sebagai lambang kesucian diri setelah menjalani proses spiritual selama Ramadan.
Tidak jarang pula momen ini dimanfaatkan oleh keluarga untuk tampil serasi. Banyak keluarga memilih membeli pakaian dengan warna atau model yang sama untuk dikenakan bersama saat salat Idul Fitri maupun ketika bersilaturahmi ke rumah kerabat. Di berbagai media sosial, tren “baju Lebaran keluarga” bahkan menjadi salah satu hal yang sering dibicarakan menjelang hari raya.
Namun di balik kegembiraan tersebut, tradisi membeli baju baru juga menghadirkan dinamika sosial yang tidak selalu sederhana.
Antara Tradisi dan Gaya Hidup
Bagi masyarakat yang kondisi ekonominya relatif mapan, membeli pakaian baru menjelang Lebaran mungkin bukan persoalan besar. Bahkan bagi sebagian orang, belanja kebutuhan Lebaran menjadi bagian dari tradisi keluarga yang dinantikan setiap tahun.
Selain membeli pakaian baru untuk diri sendiri, banyak keluarga juga membeli hadiah untuk anak-anak, kerabat, atau orang tua di kampung halaman. Momen Lebaran pun menjadi waktu untuk berbagi kebahagiaan dengan orang-orang terdekat.
Namun bagi masyarakat yang hidup dengan kondisi ekonomi terbatas, tradisi tersebut terkadang menghadirkan dilema tersendiri.
Di banyak lingkungan sosial, mengenakan pakaian baru saat Lebaran seperti telah menjadi standar yang tidak tertulis. Situasi ini membuat sebagian orang merasa perlu mengikuti tradisi tersebut agar tidak terlihat berbeda saat berkumpul dengan keluarga atau tetangga.
Tidak sedikit keluarga yang sebenarnya hidup pas-pasan tetap berusaha membeli pakaian baru demi menjaga perasaan anak-anak atau agar tidak merasa minder ketika bertemu orang lain saat hari raya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa tradisi Lebaran tidak hanya berkaitan dengan nilai keagamaan, tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika sosial dan budaya masyarakat.
Akar Budaya yang Panjang
Kebiasaan mengenakan pakaian baru atau pakaian terbaik saat hari besar sebenarnya bukan hanya terjadi dalam tradisi Lebaran.
Dalam berbagai kebudayaan Nusantara, masyarakat telah lama mengenal kebiasaan mengenakan pakaian terbaik ketika menghadiri perayaan penting, seperti upacara adat, pesta keluarga, atau perayaan keagamaan.
Dalam budaya Jawa maupun Melayu, mengenakan pakaian terbaik merupakan simbol penghormatan terhadap momen yang dianggap sakral atau istimewa.
Ketika Islam berkembang di Nusantara, nilai budaya tersebut kemudian berbaur dengan tradisi keagamaan. Seiring waktu, kebiasaan mengenakan pakaian terbaik saat hari raya berkembang menjadi tradisi membeli pakaian baru menjelang Lebaran.
Bagi sebagian masyarakat, tradisi ini juga memiliki makna simbolik. Pakaian baru dianggap melambangkan kebersihan dan kesucian diri setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh.
Pandangan Agama
Meski demikian, dalam ajaran Islam sebenarnya tidak ada kewajiban untuk membeli pakaian baru saat Idul Fitri.
Yang dianjurkan dalam syariat adalah mengenakan pakaian terbaik ketika merayakan hari raya, selama pakaian tersebut bersih, rapi, dan layak digunakan.
Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW menganjurkan umat Islam untuk tampil bersih dan rapi saat merayakan hari raya sebagai bentuk rasa syukur dan kegembiraan.
Namun pakaian tersebut tidak harus baru. Pakaian lama yang masih baik dan bersih pun tetap dapat digunakan.
“Dalam ajaran Islam, tidak ada kewajiban membeli baju baru saat Lebaran. Yang dianjurkan adalah mengenakan pakaian terbaik yang dimiliki sebagai bentuk rasa syukur dan kegembiraan.”
Karena itu, banyak ulama menekankan bahwa makna utama Idul Fitri bukan terletak pada penampilan atau kemewahan pakaian yang dikenakan.
Esensi Lebaran justru terletak pada nilai spiritual, seperti saling memaafkan, mempererat silaturahmi, serta berbagi dengan sesama.
Dorongan Konsumerisme
Di sisi lain, tradisi membeli baju baru menjelang Lebaran juga berkaitan erat dengan dinamika ekonomi.
Setiap tahun, industri ritel dan fesyen menghadirkan berbagai koleksi khusus Lebaran yang dirancang mengikuti tren terbaru. Berbagai promosi, diskon besar, hingga kampanye pemasaran gencar dilakukan untuk menarik minat konsumen.
Momentum Ramadan dan Lebaran bahkan menjadi salah satu periode penjualan terbesar bagi banyak pelaku usaha di sektor ritel.
Bagi pedagang pasar maupun pelaku usaha kecil, meningkatnya permintaan pakaian menjelang Lebaran tentu menjadi berkah tersendiri. Banyak di antara mereka yang mengandalkan periode ini sebagai waktu untuk meningkatkan pendapatan.
Namun di sisi lain, promosi dan tren fesyen juga dapat mendorong perilaku konsumtif di masyarakat.
Tidak sedikit orang yang akhirnya membeli pakaian baru bukan karena kebutuhan, melainkan karena dorongan mengikuti tren atau tekanan sosial.
Memaknai Lebaran Secara Lebih Sederhana
Di tengah berbagai dinamika tersebut, penting bagi masyarakat untuk kembali memaknai Lebaran secara lebih sederhana.
Hari Raya Idul Fitri pada hakikatnya adalah momen spiritual bagi umat Islam untuk kembali kepada kesucian diri setelah menjalani ibadah puasa selama Ramadan.
Kegembiraan Lebaran memang dapat diwujudkan melalui berbagai cara, termasuk mengenakan pakaian terbaik. Namun kebahagiaan tersebut seharusnya tidak berubah menjadi beban bagi mereka yang tidak memiliki kemampuan ekonomi yang sama.
Tradisi membeli baju baru tentu tidak salah. Bahkan bagi banyak keluarga, tradisi tersebut menjadi bagian dari kebahagiaan bersama, terutama bagi anak-anak yang menantikan momen hari raya.
Namun yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat dapat menempatkan tradisi tersebut secara bijak.
Sebab pada akhirnya, esensi Lebaran tidak terletak pada seberapa baru pakaian yang dikenakan, tetapi pada seberapa tulus hati dalam memaafkan, mempererat hubungan keluarga, serta berbagi kebahagiaan dengan sesama.
Lebaran bukan sekadar soal penampilan, melainkan tentang kebersamaan, keikhlasan, dan rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan.
(Ip/opinijogja)















