Yogyakarta, opinijogja – Film horor Indonesia Setan Alas! (The Draft!) siap tayang di bioskop Tanah Air mulai 5 Maret 2026 setelah menggelar konferensi pers di Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, Selasa.
Disutradarai Yusron Fuadi, yang juga dosen Departemen Teknik Elektro dan Informatika Sekolah Vokasi UGM, film berdurasi 84 menit ini menawarkan pendekatan berbeda dari arus utama horor Indonesia dengan tidak mengandalkan efek kejut (jumpscare).
“Sejak awal kami sadar bahwa film horor sangat identik dengan jumpscare. Tapi kami ingin berdiri di sisi sebaliknya, menantang kebiasaan itu dan mengajak penonton menikmati horor yang bekerja di pikiran, bukan hanya di refleks,” kata Yusron dalam konferensi pers tersebut.
Diproduksi pada 2022 dan rampung pada 2023, Setan Alas! membangun ketegangan melalui atmosfer, dialog, serta kesadaran penonton terhadap konstruksi rasa takut itu sendiri. Film ini memadukan unsur ketegangan, humor gelap, dan refleksi sosial.
Cerita berpusat pada lima mahasiswa dengan latar belakang berbeda yang menghabiskan akhir pekan di sebuah vila tua di tengah hutan. Ketika salah satu dari mereka tewas secara misterius, teror berkembang sebagai akumulasi prasangka dan konflik antartokoh, bukan sekadar rangkaian kejutan visual maupun suara.
Sejumlah aktor yang terlibat antara lain Adhin Abdul Hakim, Anastasya Herzigova, Haydar Salihz, Winner Wijaya, Ibrahim Alhami, Putri Anggie, serta almarhum Ernanto Kusumo. Film ini juga menampilkan sineas Hanung Bramantyo dalam peran yang tidak terduga.
Sebelumnya, Setan Alas! meraih penghargaan Best Film, Best Storytelling, dan Best Editing pada JAFF Indonesian Screen Awards 2023. Film ini juga mendapat apresiasi dari sutradara Joko Anwar yang menyebutnya sebagai horor Indonesia yang “amazing, awesome, dan mindblowing”.
Di tingkat internasional, film tersebut melangsungkan pemutaran perdana dunia di Fantastic Fest 2024 di Texas, Amerika Serikat, serta diputar di London dan Toronto pada 2024 dengan respons positif dari penonton.
Usai rangkaian konferensi pers, tim produksi berencana melanjutkan kegiatan penayangan dan diskusi publik sebagai upaya memperluas jangkauan serta membangun dialog dengan penonton di Indonesia.
(Ip/opinijogja)















