Wakil Bupati Sleman

Kadispar Kulon Progo

SKS

Prambanan: Batu, Doa, dan Ingatan Peradaban Jawa

- Penulis

Minggu, 15 Februari 2026 - 17:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Suasana kawasan utama Candi Prambanan, kompleks candi Hindu abad ke-9 yang menjadi saksi kejayaan peradaban Jawa Kuno. Menara Candi Siwa, Brahma, dan Wisnu tampak berdiri megah di tengah kunjungan wisatawan, merekam harmoni antara warisan spiritual, arsitektur kosmik, dan denyut budaya masa kini. (Foto: opinijogja)

 

Oleh: Muhammad Arifin

Klaten, opinijogja – Pagi di pelataran Candi Prambanan selalu punya cara sendiri untuk berbicara. Kabut tipis kerap menggantung di antara menara-menara batu, sementara sinar matahari perlahan menyapu relief yang telah berumur lebih dari seribu tahun. Di saat seperti itu, Prambanan tak lagi terasa sebagai objek wisata. Ia berubah menjadi ruang ingatan.

Di sinilah, sekitar abad ke-9, masyarakat Jawa Kuno membangun sebuah kota spiritual. Kompleks ini diyakini berkembang pada masa pemerintahan Rakai Pikatan, sebuah periode ketika Hindu Siwaisme kembali menguat di Jawa Tengah.

Namun Prambanan bukan sekadar monumen politik. Ia adalah pernyataan kebudayaan: bahwa peradaban dapat diwujudkan melalui harmoni antara kekuasaan, seni, dan laku spiritual.

Tiga bangunan utama, Siwa, Brahma, dan Wisnu, berdiri sejajar sebagai representasi Trimurti. Di tengahnya, Candi Siwa menjulang paling tinggi, seolah menjadi poros semesta. Di dalam tubuh candi itu tersimpan arca-arca penting: Siwa Mahadewa, Durga, Ganesha, dan Agastya.

Bagi arkeolog, susunan ini bukan kebetulan.

Ia adalah peta perjalanan batin manusia.

Agastya melambangkan kebijaksanaan guru. Ganesha mewakili kecerdasan dan pembuka jalan. Durga adalah simbol pengendalian diri dan kemenangan kebaikan atas kejahatan. Dan Siwa menjadi puncak kesadaran, ruang penyatuan manusia dengan semesta.

Prambanan, dengan demikian, bukan hanya tempat sembahyang, tetapi juga sekolah filsafat dalam wujud batu.

Di lorong-lorong candi, kisah Ramayana terpahat memanjang. Relief itu dibaca sambil berjalan searah jarum jam, sebuah ritual sunyi yang mengajarkan kesetiaan Rama, keteguhan Sinta, dan keberanian Hanoman. Namun kisah India ini telah bertransformasi menjadi Jawa: pakaian tokohnya, gesturnya, hingga lanskapnya merekam kehidupan abad ke-9 di Nusantara.

Baca Juga:  Kolonialisme Tanpa Bangsa Asing

Relief-relief itu sejatinya adalah “buku terbuka” bagi masyarakat masa lalu. Di saat aksara belum menjangkau semua kalangan, batu menjadi media pendidikan moral.

Teknologi pembangunannya pun mengagumkan. Balok-balok andesit disusun tanpa semen, dikunci dengan presisi tinggi.

Tata ruang kompleks mengikuti konsep Gunung Meru, pusat alam semesta dalam kosmologi Hindu. Dahulu, kawasan ini diperkirakan memiliki lebih dari 240 bangunan candi. Sebuah kota spiritual yang hidup, lengkap dengan halaman, lorong prosesi, dan ruang-ruang kontemplasi.

Jika kita menengok Candi Dieng yang lebih tua, kita menemukan kesederhanaan awal Hindu Jawa: sunyi, asketik, dan eksperimental.

Sementara Candi Penataran di Jawa Timur memperlihatkan fase berikutnya, lebih horizontal, lebih naratif, mencerminkan pergeseran kekuasaan ke era Majapahit.

Prambanan berada di tengah garis sejarah itu: monumental, kosmis, dan penuh simbol.

Namun waktu tak selalu ramah. Prambanan pernah ditinggalkan, mungkin akibat perpindahan pusat kerajaan dan aktivitas Merapi. Ia tertimbun tanah dan dilupakan selama berabad-abad, sebelum akhirnya dibangkitkan kembali melalui penelitian dan restorasi modern.

Hari ini, jutaan orang datang ke Prambanan setiap tahun. Mereka berfoto, menyaksikan sendratari Ramayana, atau sekadar berjalan-jalan sore. Tak banyak yang menyadari bahwa mereka sedang berdiri di atas fondasi peradaban yang pernah sangat maju.

Di sinilah paradoks itu terasa: kita merawat fisik candinya, tetapi sering lupa membaca pesannya.

Padahal Prambanan mengajarkan sesuatu yang sangat relevan bagi masa kini. Bahwa peradaban besar tidak dibangun semata dengan kekuatan ekonomi, tetapi dengan visi kosmologis. Bahwa manusia, alam, dan spiritualitas mesti ditempatkan dalam satu tarikan napas.

Di tengah zaman yang serba cepat dan dangkal, Prambanan berdiri sebagai pengingat bahwa leluhur Jawa pernah membangun dunia dengan kesabaran, simbol, dan doa.

Dan setiap batu di sana masih menyimpan suara.

Tinggal kita mau mendengarkan, atau tidak.

(Ip/opinijogja)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel opinijogja.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ratusan Warga Berebut Gunungan Ketupat di Garebeg Bakdo Ketupat Deresan Bantul
Tradisi Baju Baru Saat Lebaran, Antara Simbol Kebahagiaan dan Tekanan Sosial
Feodalisme yang Tak Pernah Mati
Nasionalisme Impor
Ratusan Warga dan Bregada Rakyat Datangi Polda DIY, Serukan Tolak Kekerasan
Logika Terbalik Menteri HAM dalam Polemik MBG
Realita Jurnalis di Tengah Biaya Hidup yang Kian Mahal
Padusan Jadi Tradisi Penyambut Ramadhan Masyarakat Jawa
Berita ini 16 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 22 Maret 2026 - 11:23 WIB

Ratusan Warga Berebut Gunungan Ketupat di Garebeg Bakdo Ketupat Deresan Bantul

Minggu, 8 Maret 2026 - 16:48 WIB

Tradisi Baju Baru Saat Lebaran, Antara Simbol Kebahagiaan dan Tekanan Sosial

Senin, 2 Maret 2026 - 01:14 WIB

Feodalisme yang Tak Pernah Mati

Minggu, 1 Maret 2026 - 16:15 WIB

Nasionalisme Impor

Jumat, 27 Februari 2026 - 02:33 WIB

Ratusan Warga dan Bregada Rakyat Datangi Polda DIY, Serukan Tolak Kekerasan

Berita Terbaru