Foto: Ilustrasi
Gunungkidul, opinijogja – Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) menjadi momentum favorit wisatawan berkunjung ke Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain dikenal dengan deretan pantainya, wilayah ini juga menyimpan kuliner legendaris yang tumbuh dari kearifan lokal dan masih bertahan hingga kini.
Beragam kuliner khas Gunungkidul layak dijajal wisatawan saat libur akhir tahun. Mulai dari olahan singkong, nasi merah, hingga kuliner ekstrem yang menjadi ciri daerah karst tersebut.
Tiwul dan gatot menjadi kuliner paling ikonik. Olahan singkong yang dulunya menjadi makanan pokok warga ini kini justru diburu wisatawan sebagai sajian tradisional sekaligus oleh-oleh khas Gunungkidul.
Selain itu, sego abang atau nasi merah masih menjadi menu andalan di warung-warung tradisional. Disajikan dengan lauk sederhana seperti ayam kampung, tempe bacem, dan sayur lombok ijo, sego abang menawarkan cita rasa rumahan yang autentik.
Kuliner khas lainnya adalah bakmi Jawa Gunungkidul. Menggunakan ayam kampung dan dimasak dengan anglo, bakmi ini memiliki rasa gurih dengan aroma khas yang membuat warung bakmi di jalur Jogja–Wonosari kerap dipadati pengunjung saat musim liburan.
Bagi pencinta kuliner ekstrem, belalang goreng atau walang menjadi pilihan unik. Belalang yang digoreng kering dengan bumbu gurih ini banyak dijual di kawasan Playen dan menjadi oleh-oleh khas bagi wisatawan.
Sementara itu, kicikan dan glinding burung dara menjadi kuliner tradisional yang kini mulai jarang ditemui. Keduanya merupakan warisan kuliner lama yang masih dipertahankan oleh sebagian warga dan pelaku usaha kuliner tradisional.
Untuk menikmati beragam sajian dalam satu lokasi, wisatawan bisa berkunjung ke Taman Kuliner Wonosari. Berbagai menu khas Gunungkidul tersedia dengan harga terjangkau, cocok menjadi tujuan wisata kuliner keluarga saat libur Nataru.
Kuliner Gunungkidul lahir dari kondisi alam yang kering dan berbatu, sehingga masyarakatnya terbiasa mengolah bahan pangan lokal seperti singkong dan ayam kampung. Tak sekadar soal rasa, kuliner legendaris Gunungkidul juga menyimpan cerita sejarah dan identitas masyarakat setempat. (Ip/opinijogja)







