Sentra Kuningan Ngawen Kian Sepi, Dua Perajin Bertahan Selamatkan Warisan Leluhur

- Penulis

Sabtu, 29 November 2025 - 10:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_131072

i

Oplus_131072

Foto: Salah satu hasil karya souvenir Kuningan dari Padukuhan Ngawen, Kalurahan Sidokarto, Kapanewon Godean, Sabtu (29/11).

 

Sleman, OpiniJogja — Suara denting logam kuningan yang dulu akrab terdengar di Padukuhan Ngawen, Kalurahan Sidokarto, Kapanewon Godean, kini hampir tak lagi terdengar. Sentra kerajinan cor kuningan yang pernah menjadi tumpuan hidup banyak keluarga ini kini hanya menyisakan dua perajin: Mulyadi dan Munawir.

Mulyadi (60), yang melanjutkan usaha keluarga sejak 1988, mengenang masa ketika perajin kuningan di Ngawen pernah mencapai puluhan orang.

“Dulu ada puluhan. Sekarang tinggal dua,” ujarnya saat ditemui wartawan, Sabtu (29/11/2025).

Ia bercerita, kerajinan kuningan di Ngawen awalnya tumbuh sebagai aktivitas warga untuk mengisi waktu luang, lalu berkembang menjadi tradisi turun-temurun. Masa kejayaan terjadi pada awal 2000-an ketika permintaan kelintingan—lonceng kecil untuk perlengkapan kesenian jathilan, gedruk, dan topeng—membludak.

“Awal 2000-an itu mas jayanya. Banyak pesanan yang masuk,” kenang Mulyadi.

Baca Juga:  Persediaan Bahan Pokok di Sleman Aman, Wabup Imbau Warga Tak Lakukan Panic Buying

Namun, pandemi beberapa tahun lalu mempercepat kemunduran sentra ini. Selain biaya produksi yang naik, hilangnya pengepul membuat pasar kian sempit.

“Pasarnya sudah enggak ada,” kata Mulyadi.

Meski begitu, ia tetap bertahan berkat pemasaran online yang kini menjadi satu-satunya jalur penjualan. Dibantu istri dan anaknya, Mulyadi masih memproduksi kelintingan secara tradisional: mulai dari membuat model lilin, membungkusnya dengan tanah liat, membakar cetakan, mencor kuningan cair, menyambung bagian-bagian dengan lilin, hingga tahap finishing menggunakan mesin bubut.

Saat ini, ia mampu memproduksi sekitar 50 kodi per minggu untuk ukuran kecil, dengan harga jual sekitar Rp75.000 per kodi.

Di tengah kelesuan pasar dan hilangnya generasi penerus, dua perajin yang tersisa ini berjuang menjaga warisan kuningan Ngawen tetap bernapas—meski dengan dentingan yang kini kian sayup. (Ip/opinijogja)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel opinijogja.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Gantikan Susmiarto, Abu Bakar Resmi Menjadi Sekda Kabupaten Sleman
Abu Bakar Resmi Dilantik Jadi Sekda Sleman, Siap Jalankan Amanah dan Perkuat Reformasi Birokrasi
Indeks Reformasi Birokrasi Sleman Melonjak ke 97,56, Tertinggi Kedua di DIY
Menjelang Purna Tugas, Sekda Sleman Susmiarto Soroti Tantangan Tata Kelola Pemerintahan dan Pelayanan Publik
Pemkab Sleman Fokus Rehabilitasi Irigasi di Tengah Keterbatasan Anggaran
246 PNS Sleman Terima SK Pensiun, Bupati Harda Minta Tetap Produktif
BULOG DIY Jamin Stok Minyakita dan Beras Aman Jelang Idul Adha 2026
Sleman Perketat Pengawasan Kurban 2026, PMK hingga Limbah Penyembelihan Jadi Sorotan
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 2 Juni 2026 - 11:32 WIB

Gantikan Susmiarto, Abu Bakar Resmi Menjadi Sekda Kabupaten Sleman

Selasa, 2 Juni 2026 - 09:59 WIB

Abu Bakar Resmi Dilantik Jadi Sekda Sleman, Siap Jalankan Amanah dan Perkuat Reformasi Birokrasi

Sabtu, 30 Mei 2026 - 13:59 WIB

Indeks Reformasi Birokrasi Sleman Melonjak ke 97,56, Tertinggi Kedua di DIY

Jumat, 29 Mei 2026 - 05:44 WIB

Menjelang Purna Tugas, Sekda Sleman Susmiarto Soroti Tantangan Tata Kelola Pemerintahan dan Pelayanan Publik

Selasa, 26 Mei 2026 - 12:31 WIB

Pemkab Sleman Fokus Rehabilitasi Irigasi di Tengah Keterbatasan Anggaran

Berita Terbaru