Kisah Ibu Ayem, Pedagang Kembang Api Legendaris yang Pilih Berbagi di Tengah Ekonomi Lesu

- Penulis

Senin, 16 Februari 2026 - 12:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Ibu Ayem, pedagang kembang api legendaris di Yogyakarta, saat ditemui di toko miliknya, Senin (16/02/2025). Sejak 1968, Bu Ayem tak hanya menjaga tradisi perayaan Tionghoa lewat kembang api, tetapi juga memberdayakan warga dengan filosofi “kasih pancing, bukan ikan”, di tengah lesunya kondisi ekonomi. (Foto:opinijogja).

 

YOGYAKARTA, opinijogja — Di balik gemerlap kembang api yang biasa menghiasi langit Yogyakarta, tersimpan kisah panjang tentang ketekunan, kepedulian sosial, sekaligus upaya menjaga tradisi. Sosok itu adalah Ibu Ayem, pedagang kembang api legendaris yang telah menekuni usahanya sejak 1968.

Bu Ayem mulai berjualan di kawasan Ketandan pada awal 1970-an, sebelum akhirnya menetap di lokasi usahanya sekarang. Berbeda dengan pedagang musiman, tokonya buka setiap hari, menyediakan berbagai jenis kembang api hingga aksesori pesta.

Namun menjelang perayaan Imlek dan Ramadan tahun ini, suasana terasa berbeda. Bu Ayem mengaku prihatin melihat kondisi ekonomi yang melemah, ditambah musibah banjir di sejumlah daerah.

“Sekarang ini kita prihatin. Banyak banjir, ekonomi juga sedang drop. Daripada untuk hura-hura, lebih baik disumbangkan untuk sosial yang membutuhkan,” ujar Bu Ayem.

Ia menyebut, sejumlah vihara yang biasanya menjadi pelanggan setia memilih tidak menyalakan kembang api sebagai bentuk empati. Bersama komunitas sekitar, Bu Ayem pun menyalurkan bantuan berupa beras dan minyak goreng kepada warga yang membutuhkan.

“Mugo-mugo nomor siji itu sehat. Dikasih banyak uang kalau tidak sehat, kanggo apa?” tuturnya.

Selain berdagang, Bu Ayem juga dikenal aktif memberdayakan karyawan dan warga desa. Ia menerapkan filosofi hidup “kasih pancing, bukan ikan” dengan memberikan modal usaha kecil kepada mereka yang ingin berjualan, terutama saat momen Lebaran.

Baca Juga:  Kirab Pamong DIY Sambut 80 Tahun Sri Sultan HB X, Argomulyo Bawa Pisungsung Hasil Bumi

“Saya didik mereka, ‘mbok ya lebaran itu jualan’. Kalau tidak laku, kembalikan ke saya. Saya kasih mereka pancing, terutama orang-orang desa,” katanya.

Tak hanya memberi modal, Bu Ayem juga menjamin keamanan para pedagang kecil yang mengambil barang darinya. Ia bahkan siap bertanggung jawab jika terjadi masalah di lapangan.

“Kalau dirampas atau ada apa-apa, kasihkan saja. Urusannya nanti sama aku, tak ijoli,” ucapnya tegas.

Bagi Bu Ayem, berjualan kembang api bukan sekadar mencari keuntungan. Ada misi budaya yang ia rawat selama puluhan tahun, yakni nguri-uri tradisi Tionghoa yang identik dengan petasan dan kembang api sebagai simbol sukacita, harapan, dan doa keselamatan. Tradisi itu, menurutnya, perlu dijaga agar generasi muda tetap mengenal akar budaya di tengah perubahan zaman.

Kini, di usianya yang tak lagi muda, harapan Bu Ayem sederhana: ekonomi segera pulih, masyarakat hidup lebih sejahtera, dan semua orang diberi kesehatan. Kebahagiaan terbesarnya justru datang dari hal-hal kecil, melihat anak-anak desa bisa berjualan, membeli baju baru, atau mengisi pulsa dari hasil kerja mereka sendiri.

Di tengah lesunya ekonomi, kisah Bu Ayem menjadi pengingat bahwa berbagi bukan hanya soal bantuan materi, melainkan membuka jalan agar orang lain dapat berdiri di atas kaki sendiri, sembari tetap merawat warisan budaya.

(Ip/opinijogja)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel opinijogja.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Temui Menpora, Bupati Sleman Dapat Lampu Hijau Revitalisasi Stadion Tridadi
Hari Keamanan Pangan Dunia 2026, DIY Terima Hibah Mobil Laboratorium Keliling dari Bapanas
Stok Beras Melimpah, BULOG DIY Pastikan Harga Beras dan Minyakita Tetap Terkendali
BULOG Cetak Rekor! Serapan Beras Nasional Tembus 3 Juta Ton, Stok Pangan RI Lampaui 5 Juta Ton
Prabowo Copot Dadan Hindayana dari Jabatan Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang Ditunjuk sebagai Pengganti
Waisak 2570 BE di Borobudur Berlangsung Khidmat, 5.000 Lampion Hiasi Langit Magelang
Mubeslub LIN 2026 Tetapkan Robi Irawan Wiratmoko sebagai Ketua Umum, Delegasi dari Papua hingga Yogyakarta Hadir
Duta Besar Belanda hingga Jerman Hadiri Konferensi Sejarah Sepeda Dunia di Klaten
Berita ini 23 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 9 Juni 2026 - 15:51 WIB

Temui Menpora, Bupati Sleman Dapat Lampu Hijau Revitalisasi Stadion Tridadi

Senin, 8 Juni 2026 - 15:52 WIB

Hari Keamanan Pangan Dunia 2026, DIY Terima Hibah Mobil Laboratorium Keliling dari Bapanas

Minggu, 7 Juni 2026 - 11:21 WIB

Stok Beras Melimpah, BULOG DIY Pastikan Harga Beras dan Minyakita Tetap Terkendali

Rabu, 3 Juni 2026 - 06:58 WIB

BULOG Cetak Rekor! Serapan Beras Nasional Tembus 3 Juta Ton, Stok Pangan RI Lampaui 5 Juta Ton

Selasa, 2 Juni 2026 - 15:14 WIB

Prabowo Copot Dadan Hindayana dari Jabatan Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang Ditunjuk sebagai Pengganti

Berita Terbaru