Foto: Tradisi Saparan Ki Ageng Wonolelo ke-59 berlangsung meriah. Sebanyak 1,5 ton kue apem disebar dan diperebutkan warga sebagai simbol doa, kebersamaan, dan rasa syukur di Kalurahan Widodomartani, Sleman.
SLEMAN, opinijogja.id – Upacara Adat Saparan Ki Ageng Wonolelo ke-59 kembali digelar dengan khidmat sekaligus meriah di Kalurahan Widodomartani, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (24/7/2026). Tradisi budaya tahunan ini menjadi magnet bagi masyarakat yang memadati lokasi untuk mengikuti berbagai prosesi adat, termasuk tradisi rebutan sekitar 1,5 ton kue apem.
Kegiatan tersebut dihadiri Bupati Sleman Harda Kiswaya, Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa, tokoh masyarakat, serta ribuan warga yang datang untuk menyaksikan sekaligus mengikuti rangkaian upacara.
Saparan Ki Ageng Wonolelo merupakan tradisi yang digelar sebagai bentuk penghormatan kepada Ki Ageng Wonolelo, tokoh yang diyakini memiliki peran besar dalam perkembangan spiritual dan kehidupan sosial masyarakat setempat. Tradisi ini juga menjadi ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki, keselamatan, dan keberkahan.
Dalam sambutannya, Bupati Sleman Harda Kiswaya mengapresiasi konsistensi masyarakat Widodomartani dalam menjaga warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Tradisi Saparan Wonolelo menjadi pengingat akan sejarah dan asal-usul masyarakat, sekaligus mempererat silaturahmi serta memperkuat semangat gotong royong,” kata Harda.
Puncak acara yang paling dinantikan masyarakat adalah prosesi sebar dan rebutan sekitar 1,5 ton kue apem. Ribuan warga antusias berebut apem yang diyakini membawa doa, keberkahan, dan harapan baik.
Ketua Trah Ki Ageng Wonolelo, Kawit Sudiyono, menjelaskan bahwa apem memiliki filosofi mendalam. Kata apem berasal dari bahasa Arab afwun, yang berarti memohon ampunan kepada Allah SWT.
Menurutnya, tradisi menyebarkan apem mengandung pesan agar masyarakat selalu bersikap rendah hati (andhap asor), menjaga kerukunan, mempererat persaudaraan, serta menebarkan kasih sayang di tengah kehidupan bermasyarakat.
Selain tradisi rebutan apem, rangkaian Saparan Ki Ageng Wonolelo juga diisi dengan Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo, pembacaan doa tahlil, serta ziarah ke makam Ki Ageng Wonolelo.
Melalui pelestarian tradisi ini, Pemerintah Kabupaten Sleman berharap nilai-nilai budaya, spiritualitas, dan kebersamaan tetap terjaga di tengah perkembangan zaman, sekaligus menjadi daya tarik wisata budaya yang memperkuat identitas daerah.
(Ip/opinijogja)






