Foto: Suasana kegiatan pelatihan dan lokakarya yang mempertemukan komunitas keberagaman gender dengan insan media di Yogyakarta, sebagai upaya memperkuat pemahaman dan membangun pemberitaan yang lebih objektif.
YOGYAKARTA, opinijogja — Kelompok keberagaman gender di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memperkuat sinergi dengan insan media melalui lokakarya rutin. Langkah ini dilakukan untuk memperluas perspektif jurnalis sekaligus mendorong pemberitaan yang lebih berimbang dan objektif di tengah masih kuatnya stigma di masyarakat.
Upaya membangun komunikasi yang sehat antara komunitas keberagaman gender dan media terus dilakukan secara berkelanjutan. Salah satunya melalui forum diskusi dan workshop yang melibatkan jurnalis dari berbagai platform, baik media cetak maupun daring.
Pembina Yayasan Kebaya, Mbak Rully, menegaskan bahwa media memiliki peran strategis dalam membentuk opini publik. Ia menilai, masih banyak narasi arus utama yang beredar tanpa melalui sudut pandang yang berimbang terhadap kelompok keberagaman gender.
“Kami rutin menggelar workshop untuk memperluas perspektif teman-teman jurnalis, agar pemberitaan bisa lebih netral dan tidak terjebak pada stigma,” ujarnya dalam sebuah pertemuan di Yogyakarta, Selasa (07/04/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Mbak Rully juga mengingatkan bahwa keberagaman gender bukan fenomena baru di Indonesia. Ia mencontohkan keberadaan komunitas Bissu dalam budaya Bugis yang telah ada sejak abad ke-14, dengan peran penting dalam kehidupan sosial hingga spiritual masyarakat.
Selain memiliki jejak historis, kelompok keberagaman gender juga dinilai aktif dalam berbagai aksi kemanusiaan. Keterlibatan mereka tercatat dalam peristiwa penting seperti gerakan sosial 1998, pengelolaan dapur umum saat tsunami Aceh 2004 dan gempa Yogyakarta 2006, hingga inisiatif dapur umum selama pandemi COVID-19.
Tak hanya itu, komunitas ini juga terlibat dalam isu lingkungan, termasuk kegiatan bersih pantai dan kampanye kesadaran perubahan iklim sejak awal 2000-an.
Mbak Rully menambahkan, hubungan antara komunitas keberagaman gender dengan media di DIY sejauh ini berjalan cukup baik. Namun, ia menekankan pentingnya pembaruan informasi secara berkala, mengingat dinamika dan rotasi jurnalis di berbagai redaksi.
“Kami terus menjaga komunikasi, termasuk dengan organisasi seperti Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan serikat pekerja jurnalis. Dukungan dari jurnalis yang progresif sangat membantu menghadirkan ruang pemberitaan yang lebih netral,” katanya.
Melalui kegiatan edukasi yang berkelanjutan, diharapkan media dapat berperan sebagai jembatan informasi yang objektif. Dengan demikian, masyarakat dapat melihat sisi kemanusiaan serta kontribusi nyata kelompok keberagaman gender secara lebih utuh, di luar stigma yang selama ini berkembang.
(Ip/opinijogja)















