Foto: Pelatihan jurnalis tentang peliputan HIV dan AIDS menekankan pentingnya pemberitaan yang akurat, beretika, dan bebas stigma terhadap kelompok minoritas.
YOGYAKARTA, opinijogja – Peran media dalam memberitakan isu HIV dan AIDS dinilai krusial, namun masih menghadapi tantangan serius, terutama dalam menghindari stigma dan diskriminasi terhadap kelompok minoritas.
Dalam pemaparan materi bertajuk “Meliput HIV dan AIDS dan Kelompok Minoritas”, jurnalis Tempo Shinta Maharani menegaskan bahwa media tidak sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga berperan sebagai agen perubahan sosial. Hal tersebut disampaikan salam agenda pelatihan di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu (07/04/2026).
Kelompok minoritas sendiri tidak hanya merujuk pada jumlah yang lebih kecil dalam populasi, tetapi juga pada posisi yang kerap mengalami subordinasi dalam struktur sosial dan kekuasaan. Mereka mencakup kelompok berbasis ras, etnis, agama dan kepercayaan, penyandang disabilitas, hingga identitas gender dan orientasi seksual.
Dalam konteks HIV dan AIDS, stigma masih menjadi persoalan utama yang dihadapi orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Padahal, isu ini tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, melainkan juga menyangkut hak asasi manusia.
Pemberitaan yang tidak sensitif dapat berdampak luas, mulai dari membuat masyarakat enggan melakukan tes HIV, menghambat upaya pencegahan, hingga memperparah diskriminasi sosial.
“Media harus mampu melawan stereotipe dan mis informasi, serta menyampaikan informasi yang akurat kepada publik,” tegas Shinta.
Ia menekankan bahwa HIV dapat menyerang siapa saja, sehingga pemberitaan tidak boleh menyudutkan kelompok tertentu. Pendekatan yang inklusif dan berbasis data dinilai menjadi kunci dalam membangun pemahaman publik yang benar.
Selain itu, jurnalis juga diingatkan untuk menjunjung tinggi etika dalam peliputan, seperti tidak menyebut HIV sebagai vonis kematian, tidak mengungkap status seseorang tanpa persetujuan, serta menghindari narasi yang menghakimi.
Media juga diharapkan berperan aktif dalam edukasi publik, termasuk mendorong akses layanan kesehatan seperti tes HIV, konseling, serta terapi antiretroviral (ARV).
Dengan penanganan yang tepat, orang dengan HIV/AIDS memiliki harapan hidup yang sama dengan masyarakat pada umumnya.
Melalui peliputan yang berimbang dan bertanggung jawab, media diharapkan mampu memperkuat solidaritas sosial sekaligus mendorong kebijakan yang lebih berpihak pada kelompok rentan.
(Ip/opinijogja)















