Foto: Ilustrasi (Ip/opinijogja)
Oleh: Muhammad Arifin
Senin (29/12/2025)
Klaten, opinijogja – Di tengah sistem kesehatan modern yang kian bertumpu pada teknologi dan obat kimia, Indonesia sesungguhnya memiliki modal pengetahuan kesehatan yang telah teruji lintas generasi: jamu. Ia bukan sekadar ramuan herbal, melainkan pengetahuan leluhur yang lahir dari pengalaman panjang masyarakat Nusantara dalam membaca tubuh, alam, dan keseimbangan hidup.
Jamu berkembang bukan dari laboratorium, melainkan dari dapur, ladang, dan hutan, ruang-ruang tempat manusia Indonesia berinteraksi langsung dengan alamnya. Dari sanalah lahir pemahaman bahwa kesehatan bukan hanya soal menyembuhkan penyakit, tetapi menjaga harmoni raga, jiwa, dan lingkungan. Cara pandang ini menempatkan jamu sebagai sistem pengetahuan, bukan sekadar produk konsumsi.
Sejak ratusan tahun silam, jamu telah menjadi bagian dari praktik hidup sehari-hari. Diracik dari tanaman obat seperti kunyit, jahe, temulawak, kencur, hingga beragam dedaunan lokal, jamu mencerminkan kemandirian bangsa dalam merawat kesehatan. Ia diminum tidak hanya saat sakit, tetapi sebagai upaya pencegahan, sebuah konsep yang kini kembali digaungkan dalam wacana kesehatan global.
Pengetahuan jamu juga sarat nilai filosofis. Proses peracikan yang telaten, takaran yang tidak serba instan, serta pemahaman atas sifat panas-dingin bahan menunjukkan bahwa kesehatan membutuhkan kesabaran dan kesadaran. Dalam tradisi ini, tubuh tidak dipaksa, melainkan diajak berdialog.
Dalam sejarahnya, perempuan memegang peran penting sebagai penjaga pengetahuan jamu. Dari praktik jamu rumahan hingga jamu gendong, merekalah yang menjaga kesinambungan pengetahuan lintas generasi. Jamu gendong bukan sekadar praktik ekonomi rakyat, tetapi ruang sosial tempat pengetahuan, kepercayaan, dan nilai kebersamaan dirawat.
Namun, pengetahuan leluhur ini kini menghadapi tantangan serius. Modernisasi, perubahan pola konsumsi, serta komersialisasi jamu berpotensi mereduksi jamu menjadi sekadar produk instan yang terlepas dari konteks budaya dan ekologinya. Jika tidak dikelola dengan bijak, jamu bisa kehilangan ruhnya sebagai pengetahuan kesehatan bangsa.
Pengakuan jamu sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO seharusnya dimaknai sebagai tanggung jawab kolektif. Negara, akademisi, pelaku industri, dan masyarakat perlu memastikan bahwa pengembangan jamu berjalan seiring dengan perlindungan pengetahuan tradisional, keberlanjutan bahan baku, dan edukasi publik yang berimbang.
Pada akhirnya, merawat jamu berarti merawat ingatan dan identitas bangsa. Di tengah dunia yang semakin seragam, jamu mengingatkan bahwa Indonesia memiliki cara sendiri dalam memahami sehat dan sakit, cara yang berakar pada pengetahuan leluhur, keselarasan dengan alam, dan kesadaran hidup jangka panjang. (Ip/opinijogja).







