Menjaga Gerak Sakral: Tiga Genre Tari Tradisi Bali yang Diakui UNESCO

- Penulis

Senin, 29 Desember 2025 - 00:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Ilustrasi, opinijogja 

 

Denpasar, opinijogja — Bagi masyarakat Bali, seni tari bukan sekadar pertunjukan, melainkan bagian yang menyatu dengan kehidupan religius, sosial, dan budaya. Gerak tari hadir dalam berbagai upacara keagamaan yang digelar secara berkala mengikuti penanggalan Bali, sekaligus menjadi medium penghubung antara manusia, alam, dan dunia spiritual.

Pengakuan internasional terhadap kekayaan tersebut tercatat pada 2 Desember 2015, ketika UNESCO menginskripsi Tiga Genre Tari Tradisi Bali ke dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity. Penetapan ini menegaskan posisi tari Bali sebagai warisan budaya takbenda dunia yang tidak hanya bernilai estetis, tetapi juga sarat makna filosofis dan ritual.

Secara umum, tari tradisi Bali dibawakan oleh penari pria maupun perempuan dengan kostum khas berwarna cerah, bermotif flora dan fauna berlapis emas, dilengkapi hiasan daun emas serta aksesori permata. Gerakannya terinspirasi dari alam dan merepresentasikan nilai adat, kepercayaan, serta ajaran agama Hindu Bali.

Tiga Kategori Tari Tradisi Bali

Dalam khazanah seni pertunjukan Bali, tari tradisi dikelompokkan ke dalam tiga kategori utama, yakni Wali, Bebali, dan Balih-balihan.

Wali, Tarian Sakral di Ruang Suci

Kategori Wali merupakan tarian sakral yang hanya dipentaskan di tempat suci sebagai bagian integral dari upacara keagamaan. Tarian ini tidak ditujukan untuk hiburan, melainkan sebagai persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Beberapa tarian yang termasuk kategori Wali antara lain Tari Rejang, Tari Sanghyang, dan Tari Baris Upacara. Tari Rejang ditarikan di Pura, Merajan, atau Sanggah, dengan iringan tabuh gegaboran. Pada bagian akhir, tarian ini kerap dilanjutkan dengan Tari Perang dan diakhiri siratan tirtha oleh sulinggih.

Sementara itu, Tari Sanghyang merupakan tarian kerauhan atau trance yang berakar dari tradisi pra-Hindu. Penarinya dipercaya dirasuki roh suci sebagai sarana penolak bala dan pemulihan keseimbangan kosmis. Adapun Tari Baris Upacara adalah tarian tanpa lakon yang dipersembahkan dalam rangka Dewa Yadnya dan hingga kini hanya ditarikan pada momentum piodalan ageng di pura-pura tertentu.

Baca Juga:  Kebaya dan Politik Warisan Budaya

Bebali, Pendamping Upacara Keagamaan

Kategori Bebali merupakan tarian semi sakral yang dipentaskan di area tengah tempat suci sebagai pendamping upacara keagamaan. Fungsinya tidak terpisahkan dari ritual, meski memiliki unsur dramatik dan naratif yang lebih kuat.

Tari Topeng Sidhakarya menjadi salah satu tarian penting dalam kategori ini. Dalam tradisi Hindu Bali, tarian ini dipercaya sebagai simbol penyempurnaan dan keberhasilan sebuah yadnya. Selain itu, terdapat Drama Tari Gambuh, seni pertunjukan klasik tertua di Bali yang memadukan tari, drama, dialog, musik, dan tembang, dengan cerita Panji atau Malat.

Kategori Bebali juga mencakup Tari Wayang Wong, seni pertunjukan klasik yang menggabungkan tari dan drama dengan lakon Ramayana. Wayang Wong tidak hanya berfungsi sebagai hiburan ritual, tetapi juga sebagai sarana pendidikan nilai-nilai moral dan spiritual.

Balih-balihan, Tarian untuk Ruang Publik

Kategori ketiga adalah Balih-balihan, yakni tarian yang bersifat hiburan dan berkembang luas di tengah masyarakat. Tarian ini dapat dipentaskan di ruang publik, baik dalam acara adat maupun kegiatan sosial.

Beberapa contoh tarian Balih-balihan antara lain Tari Legong Keraton, Joged Bumbung, dan Tari Barong Ket. Tari Legong Keraton awalnya berkembang di lingkungan istana, namun sejak abad ke-19 menyebar ke desa-desa dan menjadi milik masyarakat. Joged Bumbung dikenal sebagai tari pergaulan yang menekankan interaksi penari dengan penonton, sementara Tari Barong Ket memvisualisasikan Barong sebagai simbol kebaikan dan pelindung dalam kosmologi Bali.

Warisan Budaya yang Terus Hidup

Pengakuan UNESCO terhadap Tiga Genre Tari Tradisi Bali tidak hanya memperkuat identitas budaya Bali di tingkat global, tetapi juga menegaskan pentingnya pelestarian seni tradisi sebagai praktik budaya yang hidup. Melalui pewarisan lintas generasi dan peran aktif komunitas adat, gerak sakral tari Bali terus dijaga agar tetap relevan di tengah perubahan zaman.

(Ip/Gde Mahesa/opinijogja)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel opinijogja.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Saparan Ki Ageng Wonolelo ke-59 Digelar Meriah, 1,5 Ton Kue Apem Diperebutkan Ribuan Warga
Juara Dunia Asal Klaten Kembali ke World Choir Games 2026, Vocalista Angels Siap Harumkan Nama Indonesia di Swedia
Ribuan Warga Padati Saparan Bekakak Gamping 2026, Bupati Sleman Harda Kiswaya: Tradisi Harus Tetap Lestari
JIKF 2026 Resmi Ditutup, Tim Yudhistira Sleman Rebut Piala Raja Lewat Karya Train Naga
Hari Jadi Kalurahan Umbulharjo ke-78, Yani Fathurrahman: Semoga Semakin Maju, Mapan dan Sejahtera
15 Dalang Pentas Semalam Suntuk di Hari Jadi ke-110 Sleman, Lakon “Mahasaka” Jadi Sorotan
Kirab Pamong DIY Sambut 80 Tahun Sri Sultan HB X, Argomulyo Bawa Pisungsung Hasil Bumi
Karaton Surakarta Gelar Sadranan Leluhur Panembahan Agung Kajoran di Klaten
Berita ini 16 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 24 Juli 2026 - 15:38 WIB

Saparan Ki Ageng Wonolelo ke-59 Digelar Meriah, 1,5 Ton Kue Apem Diperebutkan Ribuan Warga

Sabtu, 18 Juli 2026 - 01:23 WIB

Juara Dunia Asal Klaten Kembali ke World Choir Games 2026, Vocalista Angels Siap Harumkan Nama Indonesia di Swedia

Jumat, 17 Juli 2026 - 14:15 WIB

Ribuan Warga Padati Saparan Bekakak Gamping 2026, Bupati Sleman Harda Kiswaya: Tradisi Harus Tetap Lestari

Minggu, 12 Juli 2026 - 17:19 WIB

JIKF 2026 Resmi Ditutup, Tim Yudhistira Sleman Rebut Piala Raja Lewat Karya Train Naga

Sabtu, 27 Juni 2026 - 15:58 WIB

Hari Jadi Kalurahan Umbulharjo ke-78, Yani Fathurrahman: Semoga Semakin Maju, Mapan dan Sejahtera

Berita Terbaru

Opinijogja

Ketika Hukum Memilih Wajah

Sabtu, 25 Jul 2026 - 14:24 WIB

You cannot copy content of this page