Foto: kunjungan studi banding dari Gapoktan Desa Troso, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten.
Gunungkidul, opinijogja — Lumbung Mataraman di Kalurahan Bendung, Kapanewon Semin, terus menunjukkan perannya sebagai laboratorium pertanian terpadu di DIY. Konsep yang dikembangkan tidak hanya mempertahankan nilai tradisi, tetapi juga menggabungkan teknologi modern berbasis integrated farming.
Lurah Bendung, Didi Robianto, menjelaskan bahwa Lumbung Mataraman dibangun sesuai perencanaan yang dirumuskan bersama Dinas Pertanian DIY. Sistem ini memadukan budidaya sayuran, tanaman pangan, dan peternakan dalam sebuah miniatur pertanian terpadu.
“Dulu Gunungkidul dikenal sebagai wilayah dengan SDM petani yang rendah dan kondisi alam yang kering. Kini, melalui miniatur Lumbung Mataraman, berbagai teknologi mulai kita terapkan. Harapannya, petani menjadi mandiri dengan ilmu yang ada di lumbung ini,” jelasnya.

Menurutnya, inovasi ini membawa perubahan nyata. “Wilayah yang dulu hanya bisa sekali tanam, kini sudah bisa MT1, MT2, bahkan mulai mencapai MT3. Ini perkembangan besar sektor pertanian di DIY,” tambahnya.
Selain menjadi pusat penerapan teknologi, Lumbung Mataraman juga berkembang menjadi wahana edukasi pertanian. Pengunjung dapat mempelajari berbagai materi, mulai dari teknik budidaya, peternakan, pembuatan pakan, pembuatan pupuk organik, hingga teknologi pengendalian hama seperti perangkap lalat buah. Wahana ini diminati banyak kalangan, baik dari DIY, berbagai daerah di Indonesia, luar Jawa, hingga mancanegara.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Aris Eko Nugroho, menegaskan bahwa Kalurahan Bendung sudah menerapkan konsep Lumbung Mataraman secara tradisional dan modern. “Bendung telah memadukan nilai budaya dengan integrated farming dan berkembang menjadi lokasi eduekowisata,” ungkapnya.

Pada Sabtu (29/11), Lumbung Mataraman menerima kunjungan studi banding dari Gapoktan Desa Troso, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten.
Hari ini, Minggu (30/11) Lumbung Mataraman kembali mendapat kunjungan dari kelompok tani Ampel, Boyolali, Jawa Tengah, yang ingin belajar langsung mengenai praktik pertanian terpadu dan pengembangan wisata edukasi. (Ip/opinijogja).







