Foto: Salah satu hasil karya souvenir Kuningan dari Padukuhan Ngawen, Kalurahan Sidokarto, Kapanewon Godean, Sabtu (29/11).
Sleman, OpiniJogja — Suara denting logam kuningan yang dulu akrab terdengar di Padukuhan Ngawen, Kalurahan Sidokarto, Kapanewon Godean, kini hampir tak lagi terdengar. Sentra kerajinan cor kuningan yang pernah menjadi tumpuan hidup banyak keluarga ini kini hanya menyisakan dua perajin: Mulyadi dan Munawir.
Mulyadi (60), yang melanjutkan usaha keluarga sejak 1988, mengenang masa ketika perajin kuningan di Ngawen pernah mencapai puluhan orang.
“Dulu ada puluhan. Sekarang tinggal dua,” ujarnya saat ditemui wartawan, Sabtu (29/11/2025).
Ia bercerita, kerajinan kuningan di Ngawen awalnya tumbuh sebagai aktivitas warga untuk mengisi waktu luang, lalu berkembang menjadi tradisi turun-temurun. Masa kejayaan terjadi pada awal 2000-an ketika permintaan kelintingan—lonceng kecil untuk perlengkapan kesenian jathilan, gedruk, dan topeng—membludak.

“Awal 2000-an itu mas jayanya. Banyak pesanan yang masuk,” kenang Mulyadi.
Namun, pandemi beberapa tahun lalu mempercepat kemunduran sentra ini. Selain biaya produksi yang naik, hilangnya pengepul membuat pasar kian sempit.
“Pasarnya sudah enggak ada,” kata Mulyadi.
Meski begitu, ia tetap bertahan berkat pemasaran online yang kini menjadi satu-satunya jalur penjualan. Dibantu istri dan anaknya, Mulyadi masih memproduksi kelintingan secara tradisional: mulai dari membuat model lilin, membungkusnya dengan tanah liat, membakar cetakan, mencor kuningan cair, menyambung bagian-bagian dengan lilin, hingga tahap finishing menggunakan mesin bubut.
Saat ini, ia mampu memproduksi sekitar 50 kodi per minggu untuk ukuran kecil, dengan harga jual sekitar Rp75.000 per kodi.
Di tengah kelesuan pasar dan hilangnya generasi penerus, dua perajin yang tersisa ini berjuang menjaga warisan kuningan Ngawen tetap bernapas—meski dengan dentingan yang kini kian sayup. (Ip/opinijogja)







