Bangsa yang Tak Mau Mendengar

- Penulis

Minggu, 11 Januari 2026 - 11:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Muhammad Arifin, opinijogja (11/01).

 

Oleh: Muhammad Arifin

Klaten, opinijogja – Kesalahpahaman kerap diperlakukan sebagai persoalan teknis: salah ucap, informasi yang terpotong, atau komunikasi yang tak efektif. Penjelasan itu terdengar masuk akal, tetapi tidak sepenuhnya jujur. Dalam kehidupan sosial dan kebangsaan hari ini, kesalahpahaman lebih sering berakar pada kegagalan yang lebih mendasar, ketidakmauan untuk mendengar dan menghargai sudut pandang orang lain.

Di ruang publik, perbedaan pandangan semakin sulit diterima sebagai keniscayaan. Ia segera ditafsirkan sebagai ancaman, bahkan pengkhianatan. Kritik dianggap serangan. Sikap berbeda dicurigai memiliki agenda tersembunyi. Dari sinilah kesalahpahaman tumbuh subur, bukan karena masyarakat kekurangan informasi, melainkan karena kelebihan prasangka.

Bangsa ini kian terjebak dalam gelembung persepsi. Pengalaman pribadi, keyakinan ideologis, dan afiliasi politik dijadikan ukuran tunggal kebenaran. Apa yang berada di luar gelembung itu dianggap salah sebelum sempat dipahami. Dialog pun kehilangan fungsinya. Yang tersisa hanyalah monolog saling bersahutan, tanpa niat untuk benar-benar mendengar.

Fenomena ini terasa nyata di era media sosial. Algoritma mempersempit cakrawala berpikir, menyajikan pandangan yang seragam dan menyingkirkan yang berbeda. Masyarakat menjadi mudah tersulut, cepat bereaksi, dan enggan merefleksikan. Negara, dalam banyak hal, gagal hadir sebagai penyeimbang. Alih-alih merawat keberagaman suara, logika mayoritas justru sering dipelihara.

Baca Juga:  Kemenkeu Satu DIY Gelar Seminar Hakordia di TLC: Satukan Aksi Basmi Korupsi

Padahal, fondasi kebangsaan Indonesia dibangun di atas pengakuan terhadap perbedaan. Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar semboyan simbolik, melainkan kesepakatan moral untuk hidup bersama dalam keragaman. Ketika kemampuan menghargai sudut pandang lain memudar, yang terancam bukan hanya harmoni sosial, tetapi juga watak kebangsaan itu sendiri.

Menghargai pandangan berbeda tidak identik dengan menyerah pada relativisme atau kehilangan prinsip. Justru sebaliknya, ia menuntut kedewasaan berpikir dan keberanian intelektual: mengakui bahwa kebenaran tidak selalu tunggal dan pengalaman manusia tidak pernah seragam. Tanpa sikap ini, demokrasi akan berubah menjadi arena saling meniadakan.

Kesalahpahaman yang terus dibiarkan akan menumpuk menjadi ketidakpercayaan. Ketidakpercayaan yang mengeras akan menjelma menjadi perpecahan. Dalam jangka panjang, bangsa ini bukan hanya kehilangan kemampuan berdialog, tetapi juga kehilangan empati sebagai perekat sosial.

Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang selalu sepakat, melainkan bangsa yang mampu mendengar perbedaan tanpa merasa terancam. Selama kita masih lebih sibuk membenarkan diri daripada memahami orang lain, kesalahpahaman akan terus dipelihara, dan bangsa ini akan terus berjalan, dengan telinga yang tertutup.

(opinijogja)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel opinijogja.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KPK Ingatkan Kepala OPD dan DPRD Sleman Jaga Integritas Lewat Sosialisasi Anti Korupsi
Misi Eropa John Herdman: 4 Pemain Keturunan Ini Bisa Perkuat Timnas Indonesia
Komisi III DPR RI Tinjau Kesiapan Aparat Hukum DIY Hadapi KUHP-KUHAP Nasional 2026
ARPI Desak Kejari Sleman Tetapkan Putra Mahkota Mantan Bupati Sleman sebagai Tersangka
Kenyang Diprioritaskan, Pendidikan Ditinggalkan
Posbankum 100% di Kulon Progo, Menkum Beri Penghargaan
Posbankum Terbentuk di Seluruh Kalurahan DIY, Harda Harap Akses Keadilan Makin Mudah
Awal 2026, Pariwisata Indonesia Raih Sederet Penghargaan Internasional
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 23 Januari 2026 - 16:29 WIB

KPK Ingatkan Kepala OPD dan DPRD Sleman Jaga Integritas Lewat Sosialisasi Anti Korupsi

Jumat, 23 Januari 2026 - 00:43 WIB

Misi Eropa John Herdman: 4 Pemain Keturunan Ini Bisa Perkuat Timnas Indonesia

Kamis, 22 Januari 2026 - 23:58 WIB

Komisi III DPR RI Tinjau Kesiapan Aparat Hukum DIY Hadapi KUHP-KUHAP Nasional 2026

Kamis, 22 Januari 2026 - 13:40 WIB

ARPI Desak Kejari Sleman Tetapkan Putra Mahkota Mantan Bupati Sleman sebagai Tersangka

Rabu, 21 Januari 2026 - 12:45 WIB

Posbankum 100% di Kulon Progo, Menkum Beri Penghargaan

Berita Terbaru