Foto: Pengukuhan DPP GSNI dan Sarasehan Kebangsaan di Wisma Kagama UGM, Yogyakarta, Sabtu (15/8/2026). Momentum konsolidasi gerakan pelajar untuk membangun generasi yang berdaulat, kritis, dan inovatif.
YOGYAKARTA, opinijogja.id – Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) menyatakan siap berkolaborasi dengan Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI) untuk membumikan Marhaenisme Bung Karno di kalangan pelajar.
Hal itu disampaikan Antonius Fokki Ardiyanto, S.IP., Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga DPP GPM, dalam Pengukuhan DPP GSNI dan Sarasehan Kebangsaan di Wisma Kagama UGM, Yogyakarta, Sabtu (15/8/2026).
Fokki mengatakan GSNI memiliki posisi strategis karena basis gerakannya berada di sekolah. Menurutnya, GSNI harus kembali menegaskan jati dirinya sebagai gerakan politik kesiswaan dan menempatkan pelajar sebagai bagian dari gerakan rakyat.
“GPM siap berkolaborasi dengan GSNI untuk membumikan dan menyebarkan Marhaenisme Bung Karno. Marhaenisme harus menjadi cara pandang untuk membaca dan menjawab persoalan konkret rakyat, termasuk persoalan pelajar,” ujar Fokki.
Ia menyebut setidaknya ada tiga hal yang perlu diperkuat GSNI, yakni memahami jati diri sebagai gerakan politik kesiswaan, menjadikan Marhaenisme sebagai ideologi sekaligus pisau analisis, serta membangun gerakan yang dekat dengan kehidupan siswa.
Menurut Fokki, GSNI perlu memahami berbagai persoalan yang dihadapi pelajar, mulai dari ketimpangan akses pendidikan, tekanan sosial, komersialisasi pendidikan hingga persoalan kesehatan jiwa.
“GSNI harus ajur-ajer dengan siswa, masuk dan memahami kehidupan mereka, bukan datang sebagai organisasi yang merasa paling tahu,” katanya.
Fokki juga mendorong perhatian lebih besar terhadap kesehatan jiwa pelajar. Ia menilai sekolah perlu menyediakan ruang aman bagi siswa untuk berbicara dan mendapatkan pendampingan, termasuk akses terhadap psikolog.
Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo turut menyoroti beratnya tantangan generasi muda yang menghadapi beban kehidupan dan tanggung jawab keluarga.
Fokki menilai kondisi tersebut semakin menegaskan pentingnya keberanian, solidaritas, daya juang, dan kesadaran kolektif di kalangan pelajar.
“Di situlah Marhaenisme menjadi relevan, karena Bung Karno mengajarkan kita melihat manusia bukan hanya sebagai individu, tetapi sebagai bagian dari perjuangan sosial untuk membebaskan rakyat dari penindasan dan ketidakadilan,” ujarnya.
GPM berharap pengukuhan kepengurusan baru GSNI menjadi momentum konsolidasi gerakan pelajar secara nasional sekaligus membuka kolaborasi lebih luas untuk membangun generasi muda yang berkarakter kebangsaan dan memiliki kepedulian sosial.
(Ip/opinijogja)









