Wakil Bupati Sleman

Kadispar Kulon Progo

SKS

Catur Sagotra 2025: Empat Dinasti Mataram Perkuat Silaturahmi Budaya Lewat Tema “Kalyana”

- Penulis

Sabtu, 29 November 2025 - 10:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_131072

i

Oplus_131072

Foto: penampilan sendra tari Beksan Wiryanaranata Surakarta Hadiningrat 

 

Yogyakarta, OpiniJogja – Empat Dinasti Mataram Islam kembali dipertemukan dalam Catur Sagotra 2025, sebuah agenda budaya tahunan yang mempererat persaudaraan antara Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Karaton Kasultanan Yogyakarta, Pura Mangkunegaran, dan Pura Pakualaman. Kegiatan yang digelar di Bangsal Kepatihan, Kompleks Kantor Gubernur DIY, Jumat (28/11/2025), menjadi ruang bersama untuk merawat kesinambungan budaya adiluhung warisan leluhur Mataram.

Tahun ini, Catur Sagotra mengusung tema “Kalyana: Olah Pikir, Olah Raga, Olah Jiwa”, yang menggambarkan keselarasan kecerdasan nalar, kekuatan raga, dan kejernihan batin. Nilai tersebut menjadi benang merah rangkaian penampilan empat dinasti, sekaligus mengingatkan kembali pada filosofi hidup masyarakat Jawa yang berakar sejak ratusan tahun lalu.

Sebagai salah satu pusat kebudayaan Mataram Islam, Karaton Kasunanan Surakarta kembali menyita perhatian melalui penampilan Beksan Wiryanaranata, sebuah karya tari klasik yang mengangkat lelampahan dalem SISKS Pakoe Boewono VI. Gerakannya lembut namun tegas, menyiratkan perjalanan spiritual dan kepemimpinan sang raja.

Menurut K.R.T. Tri Harjanto Budayadipura, Pangarsa Beksan Karaton Surakarta, keberlangsungan Catur Sagotra merupakan bukti kokoh bahwa budaya peninggalan Mataram Islam tetap hidup.

“Acara Catur Sagatra menjadi penanda bahwa pelestarian budaya Jawa peninggalan leluhur, terutama dari Dinasti Mataram Islam, masih berlangsung hingga saat ini. Beksan seperti Wiryanaranata menjadi pengingat bahwa nilai luhur itu harus terus dijaga,” ujarnya.

Penampilan Wiryanaranata dibawakan oleh sembilan penari inti: empat penari putra dan lima penari putri.

Empat penari putra melambangkan Catur Murti, Tanah, Air, Api, dan Angin,sebagai unsur kehidupan yang merepresentasikan stabilitas, kelembutan, energi, serta transformasi. Konsep ini selaras dengan gagasan “Kalyana” yang menekankan keseimbangan antara pikiran, tubuh, dan jiwa.

Baca Juga:  Bupati Kulon Progo Lantik 100 Kepala Sekolah dan Pejabat Fungsional

Sebagai pimpinan rombongan Kasunanan Surakarta, KPH Adipati Panembahan Sosronegoro menegaskan pentingnya Catur Sagotra sebagai ruang merawat jati diri budaya Mataram di tengah perubahan zaman.

“Catur Sagatra bukan sekadar pertemuan empat dinasti. Ini adalah wahana merawat jati diri, menjaga kesinambungan nilai-nilai luhur, dan memperkuat rasa kekeluargaan di antara sentana dalem lintas istana. Selama tradisi ini dijalankan, selama itu pula kebudayaan Mataram akan tetap hidup,” tegasnya.

Ia juga menyoroti peran generasi muda yang tampil dalam beksan sebagai penanda bahwa pewarisan budaya berlangsung dengan baik.

“Kami bersyukur para penari muda mampu menjiwai Wiryanaranata. Ini bukti bahwa warisan leluhur diteruskan oleh generasi yang tepat,” tambahnya.

Tokoh perempuan adat Kasunanan Surakarta, GKR Panembahan Timoer, berharap Catur Sagotra terus dilestarikan sebagai penghubung lintas generasi.

“Catur Sagatra harus terus ada sebagai upaya menjaga dan melestarikan kebudayaan peninggalan leluhur Dinasti Mataram. Ini tonggak penting yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu penari, Nyimas Yohana Rosinta Christmas, mengaku bangga dapat berpartisipasi dalam forum kebudayaan lintas dinasti tersebut.

“Senang sekali bisa menyajikan Beksan Wiryanaranata dalam Catur Sagatra tahun ini. Ini pengalaman berharga dan sebuah kehormatan,” ungkapnya.

Dengan menyatukan olah pikir, olah raga, dan olah jiwa, Catur Sagotra 2025 tidak hanya menjadi panggung pertunjukan budaya, tetapi juga ruang perenungan bahwa warisan Mataram adalah kekayaan yang hidup dan terus berkembang. Tradisi ini menjadi jembatan bagi sejarah, seni, dan spiritualitas, sekaligus memastikan bahwa nilai-nilai luhur Mataram tetap lestari di tangan generasi penerus. (Ip/opinijogja)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel opinijogja.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wakapolda DIY Cek Tol Purwomartani dan Pos Bantul, Pengamanan Arus Balik dan Wisata Diperketat
Lonjakan Wisatawan di Gunungkidul, Sehari Tembus 25 Ribu Pengunjung
Ratusan Warga Berebut Gunungan Ketupat di Garebeg Bakdo Ketupat Deresan Bantul
Wabup Sleman Danang Maharsa Salat Idul Fitri 1447 H di Sendangadi, Ajak Warga Perkuat Silaturahmi
Bupati Sleman Tinjau Pos Pengamanan Mudik Lebaran 2026, 564 Personel Disiagakan
Jelang Lebaran 2026, Pemeliharaan Jalur Mudik di Sleman Rampung, DPUPKP Siaga 24 Jam
H-1 Lebaran, Arus Lalu Lintas di Prambanan Mulai Meningkat, Dishub Sleman: Masih Ramai Lancar
Kementan Perkuat Penyuluh Pertanian di DIY untuk Dukung Swasembada Pangan
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 23 Maret 2026 - 04:40 WIB

Wakapolda DIY Cek Tol Purwomartani dan Pos Bantul, Pengamanan Arus Balik dan Wisata Diperketat

Minggu, 22 Maret 2026 - 11:46 WIB

Lonjakan Wisatawan di Gunungkidul, Sehari Tembus 25 Ribu Pengunjung

Minggu, 22 Maret 2026 - 11:23 WIB

Ratusan Warga Berebut Gunungan Ketupat di Garebeg Bakdo Ketupat Deresan Bantul

Sabtu, 21 Maret 2026 - 17:36 WIB

Wabup Sleman Danang Maharsa Salat Idul Fitri 1447 H di Sendangadi, Ajak Warga Perkuat Silaturahmi

Kamis, 19 Maret 2026 - 17:09 WIB

Bupati Sleman Tinjau Pos Pengamanan Mudik Lebaran 2026, 564 Personel Disiagakan

Berita Terbaru