Alam Tak Pernah Salah: Banjir Sumatra adalah Kejahatan Oligarki

- Penulis

Sabtu, 13 Desember 2025 - 05:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Ilustrasi (Ip/opinijogja)

 

Yogyakarta, opinijogja – Setiap kali banjir menenggelamkan Sumatra, negara kembali berlindung di balik istilah paling aman dan paling pengecut: bencana alam. Hujan dijadikan terdakwa, awan dipersalahkan, dan iklim global dijadikan kambing hitam. Padahal, banjir di Sumatra bukan musibah, ia adalah hasil kejahatan yang terencana, dilegalkan, dan dilindungi oleh kekuasaan.

Alam tidak pernah salah. Yang salah adalah rezim ekonomi-politik yang menjadikan Sumatra sebagai objek rampokan oligarki. Hutan dibabat bukan oleh hujan, tetapi oleh izin. Sungai meluap bukan karena cuaca semata, melainkan karena daerah aliran sungai telah dirusak secara sistematis oleh tambang, sawit, dan konsesi hutan industri yang rakus ruang dan rakus air.

Kita harus jujur: banjir Sumatra adalah produk langsung dari kebijakan negara yang tunduk pada pemburu rente. Negara bukan sekadar gagal melindungi lingkungan, melainkan aktif memfasilitasi kehancurannya. Tanda tangan pejabat lebih mematikan daripada curah hujan. Regulasi dibuat lentur untuk pemodal, tetapi kaku dan kejam bagi rakyat kecil yang mempertahankan ruang hidupnya.

Oligarki sumber daya alam hidup dari simbiosis busuk dengan kekuasaan. Mereka menyumbang modal politik, membiayai kontestasi, lalu menagih balas jasa dalam bentuk konsesi dan pembiaran hukum. Ketika banjir datang, rakyat dipaksa menerima bantuan logistik seadanya, sementara para perusak lingkungan tetap aman, tak tersentuh hukum, dan terus mencetak laba.

Baca Juga:  Ketika Hukum Memilih Wajah

Narasi perubahan iklim sering kali dijadikan tameng moral untuk menutupi kejahatan struktural. Benar, iklim berubah. Tetapi yang lebih berbahaya adalah perubahan watak negara: dari pelindung rakyat menjadi satpam investasi. Negara hari ini lebih sibuk menjaga arus modal daripada menjaga sungai dan hutan.

Korban banjir tidak mati karena hujan. Mereka mati karena ketimpangan kekuasaan. Rumah hanyut karena hutan di hulu telah dijual. Sawah rusak karena rawa dikeringkan. Anak-anak terpaksa mengungsi karena ruang hidup mereka dikorbankan demi kepentingan segelintir elite ekonomi yang bersembunyi di balik jargon pembangunan.

Jika negara masih terus menyebut banjir Sumatra sebagai bencana alam, maka negara sedang mencuci tangan dari tanggung jawab politiknya. Ini bukan soal takdir, ini soal keputusan. Bukan soal cuaca, melainkan soal siapa yang diberi izin dan siapa yang disingkirkan.

Selama oligarki masih mengendalikan kebijakan sumber daya alam, selama pemburu rente duduk nyaman di lingkar kekuasaan, banjir di Sumatra akan terus berulang. Bukan sebagai musibah, tetapi sebagai bukti bahwa negara telah memilih berpihak, bukan pada rakyat dan lingkungan, melainkan pada modal dan kerakusan.

Alam tak pernah salah. Yang salah adalah negara yang membiarkan kejahatan ini terus terjadi, lalu menyebutnya bencana. (Ip/opinijogja)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel opinijogja.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sleman Perkuat Ekosistem Film, Bidik Jejaring Kota Kreatif UNESCO 2027
Pejuang dan Si Pembual: Ketika Janji Kekuasaan Mengkhianati Cita-Cita Perjuangan
Sejarah dan Tujuan Koperasi yang Diabaikan oleh Ambisi Penguasa
Pameran Citra Diri dan Klaim Kepahlawanan Artifisial
Upacara Kemerdekaan dan Jurang Keadilan: Ketika Sila Kelima Tinggal Seremonial
Merdeka untuk Siapa? 81 Tahun RI dan Pahitnya Keadilan bagi Rakyat
Merdeka? Merdeka yang Seperti Apa?
“Londo Ireng” Bukan Bahasa Seorang Negarawan: Kritik atas Pernyataan Prabowo terhadap Wartawan
Berita ini 18 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 21 Agustus 2026 - 15:33 WIB

Sleman Perkuat Ekosistem Film, Bidik Jejaring Kota Kreatif UNESCO 2027

Jumat, 21 Agustus 2026 - 04:49 WIB

Pejuang dan Si Pembual: Ketika Janji Kekuasaan Mengkhianati Cita-Cita Perjuangan

Rabu, 19 Agustus 2026 - 13:48 WIB

Sejarah dan Tujuan Koperasi yang Diabaikan oleh Ambisi Penguasa

Selasa, 18 Agustus 2026 - 12:58 WIB

Pameran Citra Diri dan Klaim Kepahlawanan Artifisial

Selasa, 18 Agustus 2026 - 02:00 WIB

Upacara Kemerdekaan dan Jurang Keadilan: Ketika Sila Kelima Tinggal Seremonial

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page