Mahasiswa Yogyakarta Beri Rapor Merah Pemerintahan Prabowo-Gibran, Desak Evaluasi Kebijakan hingga Serukan Mundur

- Penulis

Rabu, 17 Juni 2026 - 12:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Aksi Demonstrasi mahasiswa di Nol Kilometer Yogyakarta, Rabu (17/06/2026). Foto: opinijogja.

 

YOGYAKARTA, opinijogja.id – Kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta kembali menjadi pusat gelombang kritik terhadap pemerintah. Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi UMY Bergerak bersama perwakilan BEM Nusantara, mahasiswa APMD, serta UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menggelar aksi demonstrasi pada Rabu (17/6/2026).

Dalam aksi tersebut, mahasiswa memberikan “rapor merah” terhadap jalannya pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Mereka menilai sejumlah kebijakan pemerintah belum berpihak kepada rakyat dan justru memperburuk kondisi sosial-ekonomi masyarakat.

Massa aksi membawa berbagai spanduk, poster, serta menyampaikan delapan tuntutan yang mereka sebut sebagai representasi persoalan mendasar yang tengah dihadapi rakyat sipil.

Delapan Tuntutan Mahasiswa

Dalam pernyataan sikap yang dibacakan di tengah aksi, Aliansi UMY Bergerak bersama elemen mahasiswa lintas kampus menyampaikan delapan tuntutan utama:

1. Mendesak pemerintah menghentikan keterlibatan Indonesia dalam kebijakan yang dinilai tidak sejalan dengan prinsip kemanusiaan dan kepentingan rakyat.

2. Mengevaluasi dan menghentikan berbagai program yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), pelaksanaan MBG di lingkungan kampus, Koperasi Merah Putih, serta sejumlah Proyek Strategis Nasional (PSN).

3. Menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM), kebutuhan pokok, dan berbagai kebutuhan produksi rakyat.

4. Menolak penempatan perwira TNI maupun Polri aktif dan purnawirawan pada jabatan-jabatan sipil strategis serta mendesak penguatan profesionalisme institusi keamanan.

5. Menghentikan kriminalisasi terhadap aktivis, mahasiswa, buruh, petani, dan kelompok masyarakat sipil lainnya.

6. Mendorong reforma agraria sejati serta menghentikan praktik perampasan tanah dan eksploitasi sumber daya alam yang dinilai merugikan rakyat.

7. Mewujudkan pendidikan gratis, ilmiah, dan demokratis dengan memperbesar prioritas anggaran pendidikan dan kesehatan.

8. Mendesak Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk mengakui kesalahan atas kebijakan yang dinilai merugikan rakyat atau mundur dari jabatannya.

Soroti MBG dan Beban APBN

Dalam orasinya, perwakilan UIN Suka Melawan, Dias Habibi, mengkritik pelaksanaan sejumlah program pemerintah yang dinilai membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Menurutnya, kebijakan besar seperti program Makan Bergizi Gratis semestinya didahului dengan kajian dan uji coba yang komprehensif sebelum diterapkan secara luas.

Baca Juga:  Posbankum Terbentuk di Seluruh Kalurahan DIY, Harda Harap Akses Keadilan Makin Mudah

“Ketika memang mau melakukan atau memberlakukan suatu kebijakan intervensi terhadap perbaikan gizi anak-anak kita, seharusnya dicoba terlebih dahulu. Apakah intervensi melalui makan bergizi gratis ini benar-benar meningkatkan kapasitas akademik dan fokus belajar mereka atau tidak,” ujar Dias dalam orasinya.

Dias juga menyoroti persoalan tata kelola dalam Badan Gizi Nasional (BGN). Ia menilai pemerintah perlu memperbaiki sistem pengawasan dan tata kelola kelembagaan agar berbagai persoalan hukum tidak terus berulang.

“Kalau pemerintah ingin program ini berjalan dengan baik, perbaiki sistemnya, jangan hanya menyalahkan oknum. Karena ketika penyimpangan terjadi, itu menunjukkan adanya sistem yang memungkinkan hal tersebut berlangsung,” katanya.

Mahasiswa Tolak Upaya Pecah Belah Gerakan

Selain mengkritik kebijakan pemerintah, Dias juga menyinggung adanya dugaan upaya memecah konsolidasi gerakan mahasiswa melalui polarisasi dan konflik horizontal antarkelompok mahasiswa.

Menurutnya, strategi tersebut berpotensi melemahkan kekuatan gerakan mahasiswa dengan cara menciptakan saling curiga dan saling memberi stigma di antara sesama aktivis kampus.

Namun demikian, ia menilai kehadiran ratusan mahasiswa dari berbagai kampus di Yogyakarta menjadi bukti bahwa solidaritas gerakan masih terjaga.

“Mahasiswa yang berkumpul pada siang hari ini adalah mahasiswa yang tergabung dalam gerakan organik. Ini menjadi bukti bahwa mahasiswa tidak bisa dipecah belah,” tegasnya.

Peringatan soal “Pengkhianat Reformasi Jilid 2”

Menutup orasinya, Dias mengingatkan mahasiswa agar tetap menjaga independensi gerakan dan tidak tergoda oleh kepentingan politik maupun tawaran kekuasaan.

Ia juga mengajak seluruh elemen mahasiswa untuk tetap berpihak pada kepentingan rakyat dan menjaga semangat reformasi.

“Kami berharap mahasiswa jangan mudah tergiur tawaran-tawaran kekuasaan dan jangan goyah terhadap ancaman intimidasi. Jangan sampai muncul pengkhianat reformasi jilid 2,” pungkasnya.

Aksi yang berlangsung hingga sore hari tersebut mendapat pengawalan aparat keamanan dan berjalan tertib. Demonstrasi ini menjadi salah satu bentuk ekspresi kritik mahasiswa terhadap berbagai kebijakan pemerintah sekaligus menegaskan bahwa gerakan mahasiswa di Yogyakarta masih aktif menyuarakan isu-isu yang dianggap menyangkut kepentingan rakyat luas.

(Ip/opinijogja)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel opinijogja.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kulon Progo Raih 2 Penghargaan Kemenkum DIY, Reformasi Hukum Berpredikat Istimewa
BPN Sleman Siapkan Layanan PERINTIS, Peralihan Hak Atas Tanah Ditargetkan Selesai 10 Hari Kerja
Hak Pekerja Trans Jogja Tak Kunjung Tuntas, KSBSI Ancam Aksi Besar Awal September
Pemkab Sleman Gelar Upacara HUT ke-81 RI, Busana Adat Nusantara Warnai Lapangan Denggung
HUT ke-81 RI di Pakem Digelar Spektakuler, 300 Pelajar Tampilkan Tari Kolosal Nusantara
BPHTB Kini Diverifikasi Maksimal 3 Hari, ATR/BPN Targetkan Balik Nama Sertifikat Tanah Selesai 10 Hari
Demo Nasabah PD BKK Klaten, Bupati Ungkap Penyebab Dana Hilang dan Solusi Penyelesaiannya
Menteri ATR/BPN Nusron Wahid Pangkas Waktu Layanan Pertanahan, Pengukuran Tanah Maksimal 12 Hari Mulai 17 Agustus 2026
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 19 Agustus 2026 - 11:53 WIB

Kulon Progo Raih 2 Penghargaan Kemenkum DIY, Reformasi Hukum Berpredikat Istimewa

Rabu, 19 Agustus 2026 - 11:38 WIB

BPN Sleman Siapkan Layanan PERINTIS, Peralihan Hak Atas Tanah Ditargetkan Selesai 10 Hari Kerja

Selasa, 18 Agustus 2026 - 11:50 WIB

Hak Pekerja Trans Jogja Tak Kunjung Tuntas, KSBSI Ancam Aksi Besar Awal September

Senin, 17 Agustus 2026 - 14:13 WIB

Pemkab Sleman Gelar Upacara HUT ke-81 RI, Busana Adat Nusantara Warnai Lapangan Denggung

Senin, 17 Agustus 2026 - 12:07 WIB

HUT ke-81 RI di Pakem Digelar Spektakuler, 300 Pelajar Tampilkan Tari Kolosal Nusantara

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page