Foto: Moment pelepasan lampion pada perayaan hari raya Waisak di candi Borobudur.
MAGELANG, opinijogja – Ribuan umat Buddha dari berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara memadati kawasan Candi Mendut dan Candi Borobudur untuk mengikuti rangkaian Perayaan Tri Suci Waisak 2570 Buddhist Era (BE), Minggu (31/5/2026). Perayaan berlangsung khidmat, sarat makna spiritual, dan mencapai puncaknya dengan penerbangan 5.000 lampion yang menerangi langit Borobudur.
Detik-detik Waisak tahun ini jatuh tepat pada pukul 15.44.44 WIB. Momentum suci tersebut diperingati melalui serangkaian ritual keagamaan yang menjadi bagian penting dari perayaan Waisak Nasional 2570 BE.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pengambilan Air Berkah dari Umbul Jumprit di Kabupaten Temanggung dan pengambilan Api Dharma dari Api Abadi Mrapen di Kabupaten Grobogan. Kedua simbol tersebut kemudian diarak menuju Candi Mendut sebelum dibawa dalam prosesi menuju Candi Borobudur.
Perayaan Waisak 2570 BE mengusung tema nasional “Dharma Sebagai Sumber Moral dan Kebijaksanaan” dengan subtema “Cinta Kasih Sumber Perdamaian”. Tema ini mengajak umat Buddha untuk terus menumbuhkan nilai kebajikan, cinta kasih, dan kebijaksanaan dalam kehidupan sehari-hari.
Waisak atau Vesakha Puja merupakan hari suci yang memperingati tiga peristiwa agung dalam kehidupan Buddha Gautama yang dikenal sebagai Tri Suci Waisak, yakni kelahiran Pangeran Siddharta Gautama di Taman Lumbini, pencapaian Penerangan Agung di Buddha Gaya, serta Parinibbana atau wafatnya Buddha Gautama di Kusinara.
Perayaan Waisak yang kini diperingati umat Buddha di berbagai negara pertama kali disepakati dalam Konferensi World Fellowship of Buddhists (WFB) di Sri Lanka pada tahun 1950. Sejak saat itu, Waisak menjadi perayaan keagamaan internasional yang diperingati setiap tahun saat bulan purnama di bulan Waisak menurut kalender Buddhis.
Ketua Panitia Penyelenggara mengatakan, seluruh rangkaian prosesi tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga sarana pembinaan spiritual bagi umat Buddha untuk memperkuat keyakinan, melatih pengendalian diri, dan menumbuhkan kebijaksanaan.
“Prosesi Waisak bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan spiritual untuk memperkuat batin dan menumbuhkan kebijaksanaan dalam kehidupan,” ujarnya.
Puncak perayaan berlangsung di Lapangan Marga Utama dan Taman Lumbini Borobudur melalui penerbangan 5.000 lampion. Sebelum lampion diterbangkan, para peserta mengikuti doa dan meditasi bersama dalam suasana hening dan penuh kekhusyukan.
Dalam tradisi Buddhis, cahaya lampion melambangkan pencerahan batin, harapan, serta pelepasan berbagai sifat negatif yang masih melekat dalam diri manusia. Lampion diterbangkan dalam dua sesi, yakni pukul 19.00–20.00 WIB dan 21.00–22.30 WIB.
Kemegahan malam Waisak semakin terasa dengan penampilan drone show yang menghiasi langit Borobudur dan memukau ribuan pengunjung yang memadati kawasan cagar budaya tersebut.
Melalui perayaan Waisak 2570 BE, umat Buddha diharapkan terus menanamkan nilai cinta kasih, kedamaian, toleransi, dan kebijaksanaan sebagai landasan membangun kehidupan yang harmonis serta mempererat persaudaraan antarsesama manusia.
(Ip/opinijogja)









