Foto: Penampakan ruas jalan Cangkringan – Kalasan yang rusak parah dampak dari proyek Tol.
SLEMAN, opinijogja – Warga mengeluhkan kerusakan Jalan Kalasan–Cangkringan yang dipenuhi lubang dan retakan. Selain itu, masyarakat juga menyoroti dampak debu dan kebisingan yang diduga berkaitan dengan aktivitas pembangunan Jalan Tol Solo–Yogyakarta–YIA.
Seorang warga yang tinggal di sekitar jalur kendaraan proyek mengaku kondisi lingkungan berubah sejak proyek berjalan. “Sejak ada proyek tol, rumah saya seperti ‘neraka’ debu dan kebisingan. Hampir setiap hari harus bersih-bersih,” ujarnya.
Ia menyebut debu tebal tak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga menambah pengeluaran rumah tangga. Untuk mencuci kendaraan akibat debu, ia mengaku harus mengeluarkan biaya sekitar Rp70.000 per bulan.
Warga juga mempertanyakan mekanisme kompensasi bagi masyarakat terdampak langsung. Menurut dia, yang dibutuhkan bukan sekadar ganti rugi, tetapi perhatian terhadap pengendalian debu, kebisingan, serta perbaikan jalan yang rusak.
Sebelumnya, pada 13 Februari lalu, Kepala Bidang Bina Marga DPUPKP Sleman, Fauzan Ma’ruf, mengakui salah satu kendala yang dihadapi saat ini adalah dampak pembangunan jalan tol. Ia menyebut banyak ruas jalan kabupaten mengalami kerusakan akibat dilalui kendaraan material proyek.
“Sebenarnya sudah ada MoU bahwa kerusakan akibat pekerjaan tol akan ditangani pihak tol. Tapi praktik di lapangan penanganannya masih lambat, sementara dampaknya cukup parah. Akhirnya masyarakat juga yang dirugikan,” ujarnya.
Ruas Kalasan–Cangkringan berada di wilayah Kabupaten Sleman dan menjadi kewenangan pemerintah daerah. Namun, warga berharap ada koordinasi dan tanggung jawab bersama jika kerusakan terbukti berkaitan dengan aktivitas proyek tol.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi terbaru dari pihak pelaksana proyek terkait keluhan warga di ruas tersebut. Upaya konfirmasi masih dilakukan untuk memperoleh penjelasan lebih lanjut.
(Ip/opinijogja)















