Foto: Ilustrasi opinijogja, Selasa (13/01/2026).
Oleh: Muhammad Arifin
Klaten, opinijogja – Kata sepur mungkin terdengar sederhana. Dalam percakapan sehari-hari masyarakat Jawa, ia kerap digunakan untuk menyebut kereta api. Namun di balik kesederhanaan itu, sepur menyimpan jejak sejarah panjang tentang perubahan zaman, perjumpaan budaya, dan relasi kuasa yang membentuk wajah Jawa modern.
Secara etimologis, kata sepur diyakini berasal dari bahasa Belanda spoor yang berarti rel atau jalur kereta. Masuknya istilah ini tidak bisa dilepaskan dari kehadiran perkeretaapian di Hindia Belanda pada pertengahan abad ke-19. Pada 1867, jalur kereta api pertama di Jawa, Semarang, Tanggung, resmi beroperasi. Sejak saat itu, rel-rel besi membelah sawah, desa, dan lanskap sosial masyarakat Jawa.
Namun sepur bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah instrumen ekonomi kolonial. Jalur-jalur yang dibangun bukan terutama untuk mobilitas rakyat, melainkan untuk memperlancar distribusi hasil perkebunan dari pedalaman menuju pelabuhan. Gula, kopi, dan komoditas lain bergerak cepat, sementara rakyat kerap hanya menjadi penonton, bahkan korban dari sistem kerja paksa dan perampasan tanah.
Dalam konteks itulah, sepur menjadi simbol perubahan yang ambigu. Di satu sisi, ia menandai masuknya modernitas, kecepatan, ketepatan waktu, dan teknologi. Di sisi lain, ia juga menjadi penanda hadirnya kekuasaan kolonial yang menata ruang hidup rakyat demi kepentingannya sendiri. Tidak mengherankan jika dalam ingatan kolektif orang Jawa, sepur kerap hadir dengan nuansa getir: berisik, berasap, dan memaksa.
Menariknya, masyarakat Jawa tidak sekadar menerima sepur sebagai benda asing. Mereka mengolahnya ke dalam bahasa dan budaya. Kata spoor dilafalkan menjadi sepur, lalu hidup dalam tembang, ungkapan, dan cerita lisan. Bahasa menjadi ruang negosiasi, cara rakyat menjinakkan sesuatu yang datang dari luar, sekaligus memberi makna baru sesuai pengalaman mereka sendiri.
Hingga kini, ketika kereta api telah menjadi moda transportasi publik yang relatif terjangkau dan dikelola negara, kata sepur tetap bertahan. Ia digunakan lintas generasi, seolah menjadi pengingat bahwa modernitas yang kita nikmati hari ini dibangun di atas sejarah panjang, termasuk sejarah ketimpangan dan ketidakadilan.
Mengingat sepur bukanlah nostalgia romantik semata. Ia adalah ajakan untuk membaca ulang masa lalu dengan lebih jujur. Bahwa pembangunan selalu membawa konsekuensi sosial, dan bahwa kemajuan teknologi seharusnya berpihak pada manusia, bukan semata pada kepentingan ekonomi.
Sepur mengajarkan kita satu hal penting: perubahan zaman tidak pernah netral. Ia selalu meninggalkan jejak. Dan tugas kitalah, hari ini, untuk memastikan bahwa rel-rel pembangunan ke depan tidak lagi melukai, melainkan menghubungkan dan memanusiakan.
(Ip/opinijogja)







