Foto: Ilustrasi, opinijogja
Denpasar, opinijogja — Bagi masyarakat Bali, seni tari bukan sekadar pertunjukan, melainkan bagian yang menyatu dengan kehidupan religius, sosial, dan budaya. Gerak tari hadir dalam berbagai upacara keagamaan yang digelar secara berkala mengikuti penanggalan Bali, sekaligus menjadi medium penghubung antara manusia, alam, dan dunia spiritual.
Pengakuan internasional terhadap kekayaan tersebut tercatat pada 2 Desember 2015, ketika UNESCO menginskripsi Tiga Genre Tari Tradisi Bali ke dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity. Penetapan ini menegaskan posisi tari Bali sebagai warisan budaya takbenda dunia yang tidak hanya bernilai estetis, tetapi juga sarat makna filosofis dan ritual.
Secara umum, tari tradisi Bali dibawakan oleh penari pria maupun perempuan dengan kostum khas berwarna cerah, bermotif flora dan fauna berlapis emas, dilengkapi hiasan daun emas serta aksesori permata. Gerakannya terinspirasi dari alam dan merepresentasikan nilai adat, kepercayaan, serta ajaran agama Hindu Bali.
Tiga Kategori Tari Tradisi Bali
Dalam khazanah seni pertunjukan Bali, tari tradisi dikelompokkan ke dalam tiga kategori utama, yakni Wali, Bebali, dan Balih-balihan.
Wali, Tarian Sakral di Ruang Suci
Kategori Wali merupakan tarian sakral yang hanya dipentaskan di tempat suci sebagai bagian integral dari upacara keagamaan. Tarian ini tidak ditujukan untuk hiburan, melainkan sebagai persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Beberapa tarian yang termasuk kategori Wali antara lain Tari Rejang, Tari Sanghyang, dan Tari Baris Upacara. Tari Rejang ditarikan di Pura, Merajan, atau Sanggah, dengan iringan tabuh gegaboran. Pada bagian akhir, tarian ini kerap dilanjutkan dengan Tari Perang dan diakhiri siratan tirtha oleh sulinggih.
Sementara itu, Tari Sanghyang merupakan tarian kerauhan atau trance yang berakar dari tradisi pra-Hindu. Penarinya dipercaya dirasuki roh suci sebagai sarana penolak bala dan pemulihan keseimbangan kosmis. Adapun Tari Baris Upacara adalah tarian tanpa lakon yang dipersembahkan dalam rangka Dewa Yadnya dan hingga kini hanya ditarikan pada momentum piodalan ageng di pura-pura tertentu.
Bebali, Pendamping Upacara Keagamaan
Kategori Bebali merupakan tarian semi sakral yang dipentaskan di area tengah tempat suci sebagai pendamping upacara keagamaan. Fungsinya tidak terpisahkan dari ritual, meski memiliki unsur dramatik dan naratif yang lebih kuat.
Tari Topeng Sidhakarya menjadi salah satu tarian penting dalam kategori ini. Dalam tradisi Hindu Bali, tarian ini dipercaya sebagai simbol penyempurnaan dan keberhasilan sebuah yadnya. Selain itu, terdapat Drama Tari Gambuh, seni pertunjukan klasik tertua di Bali yang memadukan tari, drama, dialog, musik, dan tembang, dengan cerita Panji atau Malat.
Kategori Bebali juga mencakup Tari Wayang Wong, seni pertunjukan klasik yang menggabungkan tari dan drama dengan lakon Ramayana. Wayang Wong tidak hanya berfungsi sebagai hiburan ritual, tetapi juga sebagai sarana pendidikan nilai-nilai moral dan spiritual.
Balih-balihan, Tarian untuk Ruang Publik
Kategori ketiga adalah Balih-balihan, yakni tarian yang bersifat hiburan dan berkembang luas di tengah masyarakat. Tarian ini dapat dipentaskan di ruang publik, baik dalam acara adat maupun kegiatan sosial.
Beberapa contoh tarian Balih-balihan antara lain Tari Legong Keraton, Joged Bumbung, dan Tari Barong Ket. Tari Legong Keraton awalnya berkembang di lingkungan istana, namun sejak abad ke-19 menyebar ke desa-desa dan menjadi milik masyarakat. Joged Bumbung dikenal sebagai tari pergaulan yang menekankan interaksi penari dengan penonton, sementara Tari Barong Ket memvisualisasikan Barong sebagai simbol kebaikan dan pelindung dalam kosmologi Bali.
Warisan Budaya yang Terus Hidup
Pengakuan UNESCO terhadap Tiga Genre Tari Tradisi Bali tidak hanya memperkuat identitas budaya Bali di tingkat global, tetapi juga menegaskan pentingnya pelestarian seni tradisi sebagai praktik budaya yang hidup. Melalui pewarisan lintas generasi dan peran aktif komunitas adat, gerak sakral tari Bali terus dijaga agar tetap relevan di tengah perubahan zaman.
(Ip/Gde Mahesa/opinijogja)







