Wakil Bupati Sleman

Kadispar Kulon Progo

SKS

Gajah Bukan Alat Berat Negara

- Penulis

Jumat, 19 Desember 2025 - 07:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Ilustrasi.

 

Oleh: Muhammad Arifin 

Yogyakarta, opinijogja – Penggunaan gajah jinak untuk membersihkan material sisa banjir di Pidie Jaya menyingkap persoalan mendasar dalam penanganan bencana dan kebijakan konservasi satwa di Indonesia. Ketika kayu-kayu besar dan puing pascabanjir dipindahkan dengan tenaga gajah, yang terlihat bukan sekadar pilihan teknis darurat, melainkan absennya negara dalam menyiapkan alat dan prosedur yang semestinya.

Forum Peusangan Elephant Conservation Initiative (FPECI) menyatakan keprihatinan atas praktik tersebut. Pernyataan ini beralasan. Gajah bukan pengganti ekskavator. Mereka adalah satwa dilindungi dengan kecerdasan tinggi serta batas fisik dan psikologis yang jelas. Menempatkan gajah dalam pekerjaan berat berisiko tinggi berarti mengabaikan prinsip kesejahteraan satwa yang selama ini diklaim sebagai pijakan konservasi.

Dalih keterbatasan alat tidak dapat dijadikan pembenaran. Dalam penanggulangan bencana, pembersihan material berat adalah pekerjaan manusia dengan dukungan peralatan mekanik. Ketika negara memilih mengerahkan gajah, sesungguhnya yang terjadi adalah pemindahan beban tanggung jawab dari sistem kepada satwa. Kekurangan logistik ditutup dengan eksploitasi.

Situasi ini menjadi lebih problematis karena berlangsung di bawah pengawasan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Lembaga yang seharusnya menjadi garda terdepan perlindungan satwa justru tampak membiarkan gajah ditempatkan dalam situasi berbahaya. Alih-alih memastikan kehadiran alat berat dan dukungan teknis yang memadai, gajah dijadikan solusi instan.

Baca Juga:  Budaya Lokal di Bawah Bayang-Bayang Algoritma

Argumen bahwa gajah telah “terlatih” tidak menghapus persoalan etika. Pelatihan bukan legitimasi eksploitasi. Tekanan kerja berlebih berpotensi menyebabkan cedera, stres, dan gangguan perilaku pada gajah. Risiko ini telah lama menjadi perhatian komunitas konservasi dan penelitian satwa liar, namun kerap diabaikan ketika kepentingan praktis lebih diutamakan.

Praktik semacam ini mencerminkan inkonsistensi kebijakan. Di satu sisi, negara mengampanyekan perlindungan satwa liar dan habitatnya. Di sisi lain, gajah diperlakukan sebagai tenaga kerja darurat ketika sistem penanganan bencana tidak siap. Konservasi lalu tereduksi menjadi slogan, bukan prinsip yang dipegang teguh dalam situasi nyata.

Bencana alam memang menuntut respons cepat. Namun kecepatan tidak boleh mengorbankan etika. Justru dalam kondisi darurat, negara diuji kemampuannya melindungi pihak yang paling rentan—termasuk satwa liar yang tidak memiliki pilihan dan suara. Pengerahan gajah untuk pekerjaan berat bukan cerminan kepedulian lingkungan, melainkan indikator kegagalan perencanaan dan koordinasi.

Jika praktik ini terus dibiarkan, gajah akan terus menjadi korban dari kebijakan tambal sulam. Negara seharusnya belajar dari peristiwa ini: penanganan bencana membutuhkan kesiapan alat, bukan pembenaran atas eksploitasi satwa. Tanpa koreksi serius, konservasi hanya akan berhenti sebagai jargon di atas kertas.

Gajah bukan solusi darurat. Mereka adalah ujian etika kebijakan publik, dan dalam peristiwa ini, negara belum lulus.

(Ip/(opinijogja)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel opinijogja.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tradisi Baju Baru Saat Lebaran, Antara Simbol Kebahagiaan dan Tekanan Sosial
Feodalisme yang Tak Pernah Mati
Nasionalisme Impor
Logika Terbalik Menteri HAM dalam Polemik MBG
Realita Jurnalis di Tengah Biaya Hidup yang Kian Mahal
Prambanan: Batu, Doa, dan Ingatan Peradaban Jawa
Pers di Era Digital: Ketika Kekuasaan dan Algoritma Bersekutu
Alam Iku Sejatine Guru
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 8 Maret 2026 - 16:48 WIB

Tradisi Baju Baru Saat Lebaran, Antara Simbol Kebahagiaan dan Tekanan Sosial

Senin, 2 Maret 2026 - 01:14 WIB

Feodalisme yang Tak Pernah Mati

Minggu, 1 Maret 2026 - 16:15 WIB

Nasionalisme Impor

Selasa, 24 Februari 2026 - 17:11 WIB

Logika Terbalik Menteri HAM dalam Polemik MBG

Jumat, 20 Februari 2026 - 11:46 WIB

Realita Jurnalis di Tengah Biaya Hidup yang Kian Mahal

Berita Terbaru