Foto: Muhammad Arifin, opinijogja (11/01).
Oleh: Muhammad Arifin
Klaten, opinijogja – Kesalahpahaman kerap diperlakukan sebagai persoalan teknis: salah ucap, informasi yang terpotong, atau komunikasi yang tak efektif. Penjelasan itu terdengar masuk akal, tetapi tidak sepenuhnya jujur. Dalam kehidupan sosial dan kebangsaan hari ini, kesalahpahaman lebih sering berakar pada kegagalan yang lebih mendasar, ketidakmauan untuk mendengar dan menghargai sudut pandang orang lain.
Di ruang publik, perbedaan pandangan semakin sulit diterima sebagai keniscayaan. Ia segera ditafsirkan sebagai ancaman, bahkan pengkhianatan. Kritik dianggap serangan. Sikap berbeda dicurigai memiliki agenda tersembunyi. Dari sinilah kesalahpahaman tumbuh subur, bukan karena masyarakat kekurangan informasi, melainkan karena kelebihan prasangka.
Bangsa ini kian terjebak dalam gelembung persepsi. Pengalaman pribadi, keyakinan ideologis, dan afiliasi politik dijadikan ukuran tunggal kebenaran. Apa yang berada di luar gelembung itu dianggap salah sebelum sempat dipahami. Dialog pun kehilangan fungsinya. Yang tersisa hanyalah monolog saling bersahutan, tanpa niat untuk benar-benar mendengar.
Fenomena ini terasa nyata di era media sosial. Algoritma mempersempit cakrawala berpikir, menyajikan pandangan yang seragam dan menyingkirkan yang berbeda. Masyarakat menjadi mudah tersulut, cepat bereaksi, dan enggan merefleksikan. Negara, dalam banyak hal, gagal hadir sebagai penyeimbang. Alih-alih merawat keberagaman suara, logika mayoritas justru sering dipelihara.
Padahal, fondasi kebangsaan Indonesia dibangun di atas pengakuan terhadap perbedaan. Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar semboyan simbolik, melainkan kesepakatan moral untuk hidup bersama dalam keragaman. Ketika kemampuan menghargai sudut pandang lain memudar, yang terancam bukan hanya harmoni sosial, tetapi juga watak kebangsaan itu sendiri.
Menghargai pandangan berbeda tidak identik dengan menyerah pada relativisme atau kehilangan prinsip. Justru sebaliknya, ia menuntut kedewasaan berpikir dan keberanian intelektual: mengakui bahwa kebenaran tidak selalu tunggal dan pengalaman manusia tidak pernah seragam. Tanpa sikap ini, demokrasi akan berubah menjadi arena saling meniadakan.
Kesalahpahaman yang terus dibiarkan akan menumpuk menjadi ketidakpercayaan. Ketidakpercayaan yang mengeras akan menjelma menjadi perpecahan. Dalam jangka panjang, bangsa ini bukan hanya kehilangan kemampuan berdialog, tetapi juga kehilangan empati sebagai perekat sosial.
Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang selalu sepakat, melainkan bangsa yang mampu mendengar perbedaan tanpa merasa terancam. Selama kita masih lebih sibuk membenarkan diri daripada memahami orang lain, kesalahpahaman akan terus dipelihara, dan bangsa ini akan terus berjalan, dengan telinga yang tertutup.
(opinijogja)







